Lisni menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Menetralkan kembali amarahnya yang sempat membakar tubuhnya. Saat ia mendengar derap langkah dari luar rumah. Lisni ingat. Ada Lintang yang turut berada disana bersama mereka. Sangat bahaya jika Lintang melihat bagaimana wujud aslinya. "Aku belum selesai denganmu." Lisni berlalu. Menyambut Lintang yang baru saja masuk ke rumah, usai mandi. "Kau istirahatlah di kamar putriku. Katakan padanya kau adalah anak angkatku." Mengusap pundak Lintang. Gadis berparas cantik itu mengangguk pelan. Melangkah pergi menuju ke kamar Uli, yang di depannya masih ada Sadikin. Pria paruh baya itu tampak berusaha duduk usai dilempar oleh sang istri. Tubuh tuanya tampak kesulitan untuk duduk. "Biar saya bantu, Tuan." Lintang reflek

