Laju lari kaki berbalut jeans slim fit itu lebih cepat, seolah angin mendorongnya dengan begitu mudah, menghindari kejaran lelaki berjas hitam. Tidak ada waktu baginya untuk menoleh, pun dirinya seakan tidak takut maut ketika menyeberangi jalanan yang dipenuhi oleh pengendara. Beberapa orang terpaksa menginjak rem mendadak, menimbulkan suara decitan yang cukup nyaring diikuti umpatan kasar. Sophie tidak sempat mengatakan maaf, ketika dia berhasil mencuri ponsel orang yang masih berduka atas kematian adiknya itu.
Dia melewati orang-orang yang berjalan cepat di depan pertokoan, hal yang sama juga didapatnya. Sophie tidak peduli, yang dia inginkan adalah bagaimana cara agar bisa lolos. Kakinya otomatis berbelok ke sebuah bangunan tinggi, Sophie pun segera bersembunyi di balik tong sampah besar dengan bau yang cukup menyengat. Menahan napas dengan menaikkan ujung kaus pink menutupi kedua lubang hidung lancip, seraya jemari kanannya menekan jemari untuk menelepon Tommy yang mungkin masih menunggu di depan gedung rehabilitasi.
Salah satu keberuntungan yang didapat adalah kombinasi sandi yang tidak ada di ponsel milik Evan. Jadi, dengan leluasa Sophie bisa menelepon temannya secara gratis. Untungnya dia hafal dengan nomor temannya, beberapa detik kemudian, Sophie mendengar suara berat Tommy yang terdengar formal.
"Ini aku, Sophie," ucap Sophie dengan suara ngos-ngosan.
"Sophie Boucher? Hey! Kau di mana? Kenapa kau lama sekali, Sophie? Dan kau memakai nomor siapa ini?" cecar Tommy dengan intonasi cepat.
Sejenak Sophie mengintip, memastikan bahwa Evan telah kehilangan jejaknya. Lelaki itu tidak terlalu cepat berlari walau dari bentuk badannya yang atletis, diyakini sangat rutin berolahraga. Sophie beranjak, menghindari aroma busuk dari tong sampah. Lalu berjalan cepat sesekali menoleh ke belakang, memastikan si pemilik ponsel tidak muncul seperti hantu di siang hari.
"Aku ada di Key Food Supermarket," ucapnya membaca papan nama sebuah supermarket, "kau tidak perlu tahu nomor ini, Tom. Oke aku tunggu di sini."
Sebelum Tommy menimpali ucapan Sophie, dia langsung memutus sambungan telepon. Sophie pun mengeluarkan sim card yang ada di ponsel itu dan mematahkannya menjadi dua, kemudian membuangnya ke tempat sampah.
"I'm so sorry, Evan," lirih Sophie lalu memasuki supermarket.
###
Sembari menunggu Tommy, Sophie berkeliling dengan mendorong troli besar mengambil beberapa bahan makanan yang terpajang di rak-rak. Buah, daging, sayur, hingga beberapa botol cola, tak lupa pula tiga kotak sereal dimasukkan ke dalam troli. Dia berpikir, selagi Tommy berlagak seperti malaikat, Sophie ingin memanfaatkan kebaikan temannya untuk membayar semua belanjaan ini. Bibir gadis itu tertarik miring, mengambil botol saus tomat dan memasukkannya ke dalam keranjang. Dia menambahkan bahwa kapan lagi ada kesempatan seperti ini, dikala semua kartu kreditnya telah diblokir oleh manajemen, semua harta benda Sophie termasuk apartemen juga disita sebagai bukti di kepolisian.
Tampak dari kejauhan, sosok Tommy terlihat mencari-cari, Sophie pun mengangkat tangan di depan rak berisi sereal. Lelaki dengan rahang tegas itu membalas lambaian tangan Sophie lalu berlari kecil menghampirinya. Sebelum lelaki itu mengeluarkan suara, Sophie berkata,
"Bisakah kau membayar ini? Aku lapar dan rindu makanan enak."
Tommy melihat semua barang yang ada di troli. "Cola? Itu akan membuat dietmu seketika hancur, Sophie."
Gadis itu tertawa, menampilkan deretan giginya yang terawat baik. Lesung pipi tiap Sophie tersenyum pun muncul, membuat raut wajahnya terlihat begitu manis menghipnotis Tommy.
"Aku bukan lagi model dari agensimu. Anggap saja aku sedang cuti, selagi mencari pekerjaan lain, Tom."
"Baiklah. Mungkin kau bisa menginap di apartemenku," tawar Tommy.
"Kurasa tidak dan terima kasih. Aku ingin menyendiri untuk sementara waktu dan akan menyewa hostel atau losmen atau apartemen—"
"Dari mana kau mendapat uang? Bukankah manajermu telah mencabut semua akses rekeningmu?" potong Tommy, "daripada kau membuang uang, kau bisa tinggal di tempatku sementara waktu selagi kau mencari pekerjaan. Bagaimana?"
"Tidak. Aku tetap pada pendirianku, Tom, kau sudah terlalu baik. Aku akan tinggal di Freehand New York, itu tempat paling murah yang bisa kutinggali. Sekalian saja kau bayari penginapanku."
Tommy memutar bola matanya, berdebat dengan Sophie hingga berbusa pun tak akan mengubah pendirian gadis itu. Akhirnya dia mengangguk, mengekori Sophie menuju kasir.
###
Pintu kaca terbuka otomatis ketika Evan memasuki lobi gedung BankLux, menapaki keramik yang dingin dengan cepat. Jam sudah menunjukkan hampir pukul dua siang, yang artinya Evan terlambat rapat satu jam lamanya. Entah umpatan apa yang akan keluar dari mulut ayahnya, jika sampai para calon klien yang akan menanam saham tidak menandatangani kontrak mereka.
Lift terbuka, menampilkan beberapa pegawai yang langsung menyapa Evan. Dia hanya terdiam, menganggukkan kepala seraya menekan tombol 15 di sisi kanan kotak besi itu. Pintu langsung menutup, membawa Evan menuju lantai teratas. Kedua mata abu-abunya menatap angka demi angka dengan tak sabar.
Rahangnya mengetat keras, merutuki kesialan yang tiba-tiba datang. Dia juga tidak menyangka bahwa ponselnya dicopet dengan mudah. Apalagi, ponsel itu merupakan ponsel bisnis dimana semua kontak klien dan koleganya ada di sana semua. Tangan kanannya memijit kening, menyesali mengapa harus kehilangan jejak gadis pencuri itu.
Lift berdenting lalu pintu terbuka pelan, Evan melesat begitu saja tanpa memedulikan karyawannya yang menyapa di depan pintu lift. Dia berlari hingga ke ujung lorong, lalu mendapati Dandras berdiam diri di sana, mengetuk-ngetuk bolpoin di atas meja.
"Ayah, aku--"
"Apa kau tidak bisa menghargai waktu?" sindir Dandras dengan nada sinis.
Evan melangkah pelan, irama napasnya naik turun akibat harus mengendari mobil dengan cepat dan berlari hingga sampai di ruang rapat. Nyatanya, pertemuan penting telah usai, bahkan dia tidak tahu apakah mereka menyetujui kontrak itu tanpa dihadiri direktur utama. Padahal, seharusnya Evan mempresentasikan programnya kepada mereka, sayangnya semua itu lenyap karena pencuri itu.
"Sungguh, maafkan aku... " cicit Evan, memandang Dandras dengan rasa bersalah. "Apakah mereka setuju?"
Refleks Dandras melempar bolpoin hampir mengenai wajah Evan, namun meleset justru membentur dinding kaca di belakangnya. Tatapan mata Dandras yang dalam dan tajam kini seperti menghakimi Evan secara batin. Kepala Evan menunduk, menerima apa yang akan dilakukan ayahnya nanti. Dia memang bersalah.
"Mereka tidak jadi menandatangani kontrak hanya karena kau tidak segera datang, Evan!" seru Dandras. Amarah lelaki tua itu menggema, membekap Evan hingga dia merasakan seluruh tulangnya gemetaran. "Kau menjadi direktur di sini bukan untuk main-main apalagi menangisi kematian adikmu!"
"Ponselku dicuri, Ayah!" seru Evan, "dan ini tidak ada hubungannya dengan Cindy!"
Keempat mata itu saling menatap nyalang, menambah panas ruangan itu. Evan mengalah, berpaling ke kiri menatap gedung-gedung pencakar langit lainnya. Dasi yang sudah longgar itu, dia lepaskan kembali dan melepas dua kancing atas kemejanya untuk mendinginkan kepala dan tubuh lelaki itu.
"Aku minta maaf," ucapnya lirih. "Sungguh aku minta maaf, Ayah."
Evan berpaling, menatap wajah tua laki-laki yang sudah membesarkan dirinya. Sekejam apa pun Dandras, kadang apa yang dilakukannya adalah benar. Kematian Cindy bukanlah akhir segalanya, dia harus mengikhlaskan nyawa adiknya yang mungkin sudah bersenang-senang di surga atau justru terjebak dalam dunia kegelapan sebagai hukuman dari Tuhan.
Evan tidak tahu.
"Aku akan mendatangi mereka, jika mereka tidak mau datang ke sini, " ujar Evan, "akan kujelaskan bahwa ponselku dicuri dan rapat hari ini juga bertepatan dengan pemakaman Cindy. Jika mereka punya hati, seharusnya mereka memahami."
Dandras menghela napas, seolah udara yang dikeluarkannya itu menandakan dirinya sudah sangat lelah. Dia mengangguk pelan, "lakukan yang kiranya bisa kau lakukan untuk menebus hari ini."
Evan mengangguk, lalu Dandras melangkah cepat meninggalkan anaknya di ruangan itu seorang diri.
Kini, Evan menggeram kesal, dia bahkan tidak memiliki lagi semua kontak koleganya itu. Semua ada ponsel, yang sialnya dicuri begitu saja oleh gadis b******n. Dalam hati, jika dia bisa menangkap pencuri itu, ingin sekali Evan menjebloskannya ke dalam penjara atau menuntutnya sebagai tindakan yang merugikan perusahaan.
Dia memutuskan untuk menemui sekretarisnya yang sedang duduk, mengerjakan laporan di depan ruang rapat.
"Grace," panggil Evan pada seorang gadis beranbut pirang Yang digulung rapi. "Bisa kau telepon semua orang yang hadir rapat tadi? Tolong jadwalkan pertemuanku dengan mereka, katakan bahwa aku minta maaf tidak bisa hadir rapat karena ponselku dicuri--"
"Dicuri? Apa Anda baik-baik saja, Tuan?"
"Ya. Aku baik, hanya saja Ayahku hampir ingin melemparku dari atas gedung," canda Evan dengan wajah serius membuat raut Grace tegang. "Oh, come on, jangan serius. Tolong lakukan saja. Dan pesankan satu buah ponsel baru, kirimkan ke sini."
"Baik, Tuan."
Sebelum Evan pergi, dia baru teringat bahwa ponsel lamanya itu ada pengaturan GPS, sehingga dia tahu ke mana pencuri membawanya. Bibirnya mengulum senyum, mengucapkan terima kasih pada sekretarisnya lalu melesat ke dalam ruang kerja.
Kau pikir bisa kabur, huh?