Lani menyiapkan makan siang diatas meja sambil berkata, "Aku mengambil kelas memasak diselah kuliahku, semuanya kusiapkan untuk menjadi istri terbaik untukmu."
Hero datang menghampirinya dan memeluk Lani, sambil berkata "Aku akan menyukai masakanmu."
Hero mencium kening Lani sekilas, kemudian berucap, "Jika aku melakukan kesalahan, apakah kamu akan memaafkannya?"
"Kesalah seperti apa ?" Tanya Lani dengan nada biasa saja namun terlihat sangat ingin tahu.
"Aku tidak bisa menepati janjiku padamu."
Lani mendorong Hero pelan untuk memberi jarak diantara mereka, dia bicara dengan tenang, "Maka aku hanya akan merasa kecewa untukmu."
"Lebih baik kita makan dahulu, jangan mebahas hal yang tidak menyenangkan itu hanya akan membuat nafsu makan menghilang."
Lani sendok mengambil nasi dengan sendok beserta lauk dan disuapkan ke Hero, segera Hero membuka mulutnya.
"Kamu juga makan," ucap Hero.
"Beri aku salad buah," ucap Lani.
Hero mengambil salad buah dan segera menyuapi Lani. Hubungan mereka memang selalu seperti ini, penuh dengan kehangatan dan ini adalah hubungan yang diinginkan Hero. Namun, masih ada sesuatu yang kurang diantara mereka.
Setelah selesai makan Lani segera membereskan kotak makan siang, "Saya harus kembali, Mama menungguku, kami harus pergi menjemput nenek di panti jumpo."
"Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Hero.
"Lain kali saja, atau kita bahas ditelpon saja. Aku terburu-buru."
Lani mencium pipi kiri Hero sekilas, "Bye..." Dia segera meninggalkan Hero sendiri diruangan itu.
Hero menyadari jika mereka berdua tidak memiliki waktu yang cukup bersama sehingga komplik tidak sempat muncul di antara mereka. Orang akan berpikir itu bagus, tetapi pada kenyataan ini membuktikan betapa kurangnya komunikasi diantara mereka.
Hari-hari telah berlalu begitu saja, Nandini sudah kembali beraktifitas seperti sediakalah dan dia terlihat sangat fresh setelah libur beberapa hari. Dia juga sudah memikirkan jalan keluar untuk masalah yang di hadapi saat ini, yaitu tidak ada jalan keluar tapi cukup jalani saja.
Walaupun Hero mengetahui mengenai kehamilannya, apa langka yang akan mereka ambil. Hero akan menikah dan dia sendiri tahu keadaanya, membayangkan sebuah hubungan suami istri membuatnya takut dan cemas.
Nandini sedang mengisi formulir pelanggan yang selesai mengurus administrasi pembelian mobil. Tiba-tiba saja Edward.
"Hai, Dini." Nandini hanya membalas dengan senyuman.
Dia menyerahkn formulir pelangan yang sudah dia tanda tangani pada admin lain. Dan menghampiri Edward, "Apa yang kamu lakukan disini, bukankah jam kantor belum berakhir ?"
"Aku hanya mengantar teman, dia berniat untuk membeli mobil. Saya rasa kamu lebih ahli dalam memberi masukan."
"Dimana temanmu ?"
"Dia akan segera kesini, mungkin dalam 5 menit lagi akan tiba."
"Ayo, duduk dulu." Nandini bersikap rama seperti yang biasa dilakukan pada pelanggannya.
"Saya dengar kamu sakit beberapa hari lalu, sakit apa ?"
"Hanya kelelahan sekarang sudah baik-baik saja."
"Please, jangan mengajukan pertanya pribadi seperti itu. Sangat membuatku tidak nyaman," batin Nandini.
Terlihat seorang wanita, tersenyum kearah mereka dan Edward juga tersenyum kearah wanita itu.
"Itu teman mu ?"
"Ya."
Begitu wanita itu tiba dihadapan mereka, dia langsung mengulurkan tangan, "Hallo, saya Tissa."
Nandini menyambut uluran tangannya, "Dini."
Nandini langsung merekomendasikan beberapa mobil untuk wanita itu, dia juga mengamati style wanita ini untuk menilai seleranya. Dan poin-poin seperti apa yang paling dia butuhkan. Dia sudah lama berkecimpung dibidang ini, meyakinkan adalah bidangnya. Dalam waktu satu jam Tissa akhirnya mengambil satu unit mobil dan dibayar lunas.
"Kalian terlihat cocok," ucap Nandini pada Tissa saat mengurus administrasi mobil.
"Masa iya ?"
"Beneran."
"Doakan saja jodoh mbak, saya baru kenal sama mas Edward. Mama saya dan Mama Edward berniat menjodohkan kami."
"Saya doakan semoga kalian berjodoh." Kabar ini membuat Nandini legah.
Nandini lagi-lagi pulang terlambat, dia berjalan sambil membawah kantong yang berisi beberapa jenis buah dan jajanan pinggir jalan. Namun sebelum dia masuk kerumah kosnya melihat mobil yang familiar, itu adalah milik Hero.
Hero keluar dari mobil dan manarik pelan Nandini untuk masuk kemobil. Tidak ada perlawanan dari Nandini. Tidak berapa lama mereka tiba dirumah sakit terbaik dikota itu.
"Kenapa kamu membawahku kesini ?" Nandini menoleh kearah Hero.
Kemudian ekspresinya menjadi marah dan berucap, "Jangan berpikir untuk menggugurkan anakku, aku tidak menyetujuinya. Aku tidak memintamu bertanggung jawab, aku masih mampu menghidupi anakku. Sekarang antar kami pulang."
"Jangan cerewet ikut saja."
Hero keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Nandini, "Keluarlah, buat semuanya mudah Nandini."
"Tidak ! Aku tidak mau." Dia menolak keluar dan melindungi perutnya.
"Nandini, saya tidak berniat buruk. Kita kesini untuk USG saja."
"Apa benar ?" Nandini masih curiga.
"Iya, aku bersumpah tidak memiliki niat buruk terhadap kalian berdua."
Nandini masih terlihat tidak yakin, Hero kehabisan kesabaran dia menggendong Nandini turun dari mobil.
"Hei apa yang kamu lakukan, malu dilihat orang."
"Jika kamu malu harusnya kamu keluar dari tadi." Hero mengangkat Nandini berjalan memasuki rumah sakit. Sopir Hero hanya mengelengkan kepala melihat kelakuan dua orang itu.
Hero melangka dengan tegap menggendong Nandini ala bridal style. Nandini mengalungkan tangannya dileher Hero, dan menyembunyikan wajahnya didada pria itu. Nandini benar-benar malu digendong seperti ini, banyak orang melihat kearah mereka.
"Hero, apakah ini menyenangkan menurutmu ?" Bisik Safhira.
"Tidak, kamu terlalu berat. Lani tidak seberat ini."
"Lebih baik kamu turunkan aku, dan gendong saja Lani mu."
Hero tersenyum samar, "Diamlah, aku tidak akan melemparkan mu dari lantai tertinggi gedung ini."
Hero membawahnya keruang pemeriksaan kandungan. Disana Nandini melakukan USG, dan Hero tetap berdiri disana melihat ke arah monitor.
"Anda bisa melihat, itu embrio. Ibu Nandini benar-benar hamil."
"Ternyata dia tidak percaya jika aku hamil, karena itu membawahku kesini," batin Nandini.
"Sangat kecil," ucap Hero.
Dokter tersenyum dan berkata, "Tentu masih kecil Pak, kandungan Ibu Nandini baru memasuki minggu ke 3 dan embrionya masih berukuran 0,1 mm."
"Itu benar-benar kecil, aku rasa titik penah akan lebih besar dari itu," ucap Nandini tiba-tiba. Dan dokter hanya tersenyum mendengar ucapannya.
Mereka hanya memeriksa sebentar dan meninggalkan rumah sakit. Diperjalan Hero berkata, "Pindahlah ke lingkungan baru, itu akan baik untuk kehamilanmu."
"Lingkungan tempatku tinggal sudah cukup baik, dan yang terpenting dekat dengan tempat kerjaku.
"Ingat yang dokter katakan, kamu harus lebih banyak beristirahat dan..."
"Aku lebih tahu apa yang harus kulakukan, berhentilah memberitahuku," Nandini agak membentak dan wajahnya terlihat kesal. Nandini tidak mengerti kenapa dia merasa sangat kesal dengan pria ini, begitu dia melihatnya malam ini rasanya dia sangat ingin mencakar wajahnya.
Wajah Hero juga tidak terlihat baik, dia belum menyelesaikan kata-katanya namun sudah di potong wanita ini. Didalam mobil itu berakhir sunyi, dan sopir mencuri pandang sekilas melalui kaca spion mobil kearah dua orang yang saling membuang muka.