5. Tidak sudi

1160 Words
Malam Hari Nandini kembali, ke hotel PJ, ketika dia masuk ke kamar ada beberapa paper bag diatas tempat tidur. Nandini melihat isinya satu persatu, ada tas, make up dan beberapa pakaian. Ada juga pil kontrasepsi dan sebuah memo ditempel disana, "Untuk berjaga-jaga." "Aku sulit untuk hamil atau mungkin tidak bisa hamil, aku tidak akan merusak kesehatan rahimku." Nandini membuang semua obat itu ketempat sampah. Nandini sebenarnya ingin memeriksa kesehatan rahimnya, namun dia terlalu takut untuk menghadapi hasilnya. Selama menjalini hubungan dengan Dony dia selalu berharap bisa hamil agar mereka bisa menuju jenjang selanjutnya, namun keinginan itu tidak pernah tercapai. Hero menelpon Nandini, "Apakah kamu sudah pulang ke hotel ?" "Ya." "Apakah kamu menyukai hadia dariku ?" "Aku selalu suka semua yang berbau gratis." "Apa kamu sudah makan ?" "Hero, pertanyaan jenis apa ini. Jika tidak ada sesuatu yang penting lebih baik kamu matikan telpon ini karena aku sangat lelah dan butuh istirahat." Nandini tidak suka pertanya basa-basi seperti itu. "Tunggu sebentar, apa kamu sudah meminum pil nya ?" "Aku membuangnya". "Ou, apakah kamu berniat mengandung anakku ? Niat apapun yang kamu miliki aku tidak peduli, yang perlu kamu ingat anak dari Lani akan menjadi anak pertamaku. Aku akan mengizinkan jika kamu melahirkan beberapa anak setelah anak pertamaku." "Hahaha... pikiran jenis apa yang kamu miliki Hero ? Aku sedang tidak ingin bertengkar karena aku tidak ada tenaga untuk itu." "Jika kamu ingin menjadi wanita simpananku, maka aku akan menerimamu dan kamu akan menjadi yang ku utamakan setelah Lani." "Hero, kamu dengar ini baik-baik, kalaupun aku mengandung anakmu aku tidak sudi menjadi simpanan pria b******k seperti mu. Lebih baik sekarang kamu bersenang-senang dengan kekasihmu disana dari pada bicara ngelantur membuatku pusing, bye bye." Nandini mematikan ponselnya dan bersiap untuk tidur. "Bagaimana dia tahu aku memiliki kekasih disini ? Dia memang selalu pandai menebak", gumam Hero memandangi ponselnya. ...... Pagi-pagi sekali Nandini sudah bersiap akan kembali ke Bandung, dia membawah beberapa paper bag, saat dia menutup pintu dan berbalik malah menabrak seseorang. "Au ! maaf". Nandini mengangkat kepalanya dan melihat wajah itu, wajah yang sudah bertahun-tahun tidak dia lihat, wajah orang yang sudah menyakitinya. "Dini", ucap pria itu. Nandini hanya diam, dia segera mengambil barang-barangnya yang terjatuh dan ingin bergegas meninggalkan pria itu. "Dini, tunggu". Pria itu memegang pergelangan tangan Nandini. "Lepas, Dony," ucap Nandini dengan suara dingin dan tatapan tidak suka. "Ini, jatuh." Dony memberikan lipstik. Dini mengambilnya, namun Dony tidak melepaskan liptik itu dari pegangannya. "Apa kamu baik-baik saja selama ini ?" "Menurutmu, bagaimana aku terlihat ?" "Sepertinya sangat baik. Apakah kamu menjalani hubungan dengan pria yang lebih kaya dariku ?" "Ya, bahkan dia lebih baik darimu dari segi apapun". "Nandini siapa yang kau bicarakan," batin Nandini. "Berhati-hatilah jangan menemukan pria berengsek sepertiku." "Tentu." Dony melepaskan pegangannya pada lipstik, Nandini mengambilnya dan meninggalkan pria itu begitu saja. Namun, air matanya tiba-tiba menetes begitu saja dan segera dia menghapusnya. .... Nandini tiba di Bandung sudah pukul satu siang dan dia langsung masuk kerja. Setiba di kantor tempat pertama yang dia kunjungi adalah ruang Direktur. "Mas, gimana apakah kemaren deal ?" "Ya, mereka mengambil 5 unit mobil yang kamu tawarkan. Sebentar lagi mereka akan datang mengurus administrasi." "Yes, tambah 20 juta masuk kantong." Targetny bulan ini sudah tercapai dan sekarang di hany akan menikmati bonusnya. Bonusnya memany besar karena dia bisa menjual mobil sport." "Ingat 50:50". "Ou, iya. Makasih ya mas". "Dini, Istriku mengundang kamu buat nginap dirumah malam ini, kebetulan Rangga juga nginap." "Rangga, sejak kapan dia kesini perasaan malam kemaren aku masih minum bareng dia ?" "Minum ?" "Minum kopi di cafe," ucap Nandini berbohong. "Dia dari kemaren di Bandung, katanya ada shooting vidio clip lagu terbaru. Kamu harus datang jika tidak akan rugi, karena Chef Yoko akan masak bebek bakar madu." "Tenang saja, kalau urusan makan Nandini nomer satu." Malam hari, saat itu pukul 8 Nandini sudah tiba di rumah milik Yoko, rumah itu tidak terlalu besar namun memiliki pekarangan yang luas dan indah. "Ting tong," Nandini memencet bel. "Ceklek," pintu dubuka oleh Sarah, istri Yoko. "Masuk Din, Rangga sama Mas Yoko lagi manggang bebek dibelakang." "Ini Ra, ada buah untuk tambahan cemilan". "Kebetulan sekali, kita bikin es campur aja." "Aku bantuin ya." "Ayo." Mereka berdua mulai memotong buah didapur. "Baby Yasa udah tidur ?". "Iya, baru aja tidur". "Din, aku ada temen usianya udah 29 tahun. Dia minta dikenalin sama temen cewek, kamu mau gak ? Siapa tahu kalian cocok". "Boleh dicoba". Nandini menyetujuinya, dia harus mendegarkan saran Dokter Hendra yang menganjurkan untuk mencoba membukadiri. Dokter Hendra adalah dokter psikologis yang membantu Dini. Setahun lalu Mas Yoko dan Rangga membawah paksa Nandini untuk menjalani pemeriksaan psikologis karena mereka takut Nandini mengalami kelainan seksual yaitu tidak menyukai pria lagi karena patah hati. Semenjak putus dia berubah menjadi wanita yang sangat dingin, bahkan selalu menolak secara terang-terangan para pria yang mengejarnya. Setelah konsultasi hasilnya menunjukan bahwa seksualitasnya normal hanya saja Nandini mengalami Gamophobia. Gamophobio adalah ketakutan untuk memulai hubungan terikat atau lebih jauh dengan lawan jenis atau bahasa sederhananya tidak memiliki keingin menikah. Dan Nandini tahu jelas penyebabnya, karena dia berusaha melindungi diri dari rasa sakit hati. "Oke, aku kasih nomer kamu sama dia." "Ngomongin apa kalian ?", tanya Yoko. "Ini, aku mau ngenali Dini sama temanku dan dia udah setujuh". "Ini kabar baik, semoga lancar. Ayo kehalaman belakang bebek bakarnya udah siap." "Ayo Din, kita bawak minumannya kesana", ucap Sarah. "Biar mas yang bawak", Yoko mengambil nampan ditangan istrinya. "Dini bawak sendiri ya, kalau kamu mau dibawaki makanya cepat punya suami," ejek Yoko. "Resek deh mas," ucap Nandini. Saat mereka kehalaman belakang, Rangga sedang menyantap paha bebek sendirian, dia tersenyum kearah tiga orang yang datang. "Lapar, habis shooting belum sempat makan," ucapnya. Nandini meletakan satu mangkok besar es campur dihadapan Rangga, "Jangan sampai gak habis." "Aman, siap nambah juga". Bebek panggang, spaghetti, es buah adalah menu makan malam mereka. Setelah makan, mereka melanjutkan nonton film horor dan mematikan lampu agar feel seramnya terasa. Ponsel Nandini berdering, dan dilihat panggilan vidio dari Hero. Nandini mengangkatnya, "Ada apa ?" "Apa yang sedang kamu lakukan ?" "Aku lagi nonton film horor." "Dini, ini pesanan mu," Rangga menghapiri Dini memberikan sekantong cemilan, dan Hero melihatnya. Pria ditelpon melihat seorang gadis mengenakan piyama tidur dan seorang pria mengenakan bokser dan kaos santai saat jam malam. "Kamu dimana ?" tanya Hero. Rangga mengambil telpon, "Kami lagi bermalam di hotel, jangan ganggu." Tanpa menunggu jawaban dari Hero panggilan itu dimatikan oleh Rangga. Yoko dan Sarah hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Rangga, dia memang biasa membual. Sebelum film selesai baby Yasa terbangun sehingga Yoko dan Sarah kembali kekamar lebih dulu. "Din, kemana kamu malam itu ?" tanya Rangga. Nandini yang sedang makan kentang goreng tersedak, "Uhuk-uhuk...". Rangga mengabil gelas dimeja dan memberikan kepada Nandini, "Minum dulu". Nandini mengambilnya dan langsung meminumnya. Rangga mengambil napas panjang dan berucap, "Aku kekamar Hero pagi kemarin dan melihat sepatu dan pakain mu berserakan dilantai, Apakah kamu berhubungan s*x dengannya ?" Nandini yang baru akan meneguk minumnya langsung menyemburkan air itu kembali dan wajah Rangga menjadi sasaran. Rangga mengambil tissu dimeja mengelap sendiri wajahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD