Sepeninggal Safwan, Yusuf masuk ke rumahnya dengan raut kesal. Langkahnya lebar sedikit menghentak. "Ma!" serunya lantang bahkan masih beberapa langkah sebelum tiba di muka pintu. "Hmm ...," sahut Lesti malas. Sejak tahu perselingkuhan Yusuf dan Kirana, ia nyaris tidak peduli dengan suaminya itu. Satu-satunya alasan dia bertahan di rumah itu adalah nafkah lahir dan anak-anak mereka. "Selesaikan urusan Mama dengan saudara Mama itu. Jangan libatkan papa! Puyeng tahu, gak?" ucapnya lantang. "Papa berikan uangnya, maka mama selesaikan urusannya. Gampang," sahut Lesti santai. "Mengapa papa? Mama yang pinjam?" "Tapi Papa yang suruh." "Iya. Waktu itu tunjangan sertifikasi belum cair. Gaji tiga belas tunda. Tapi begitu cair, semua Mama yang pegang, mengapa tidak dibayarkan?" "Siapa ya

