Lando berusaha mengejar Aira dengan sekuat tenaganya dan mempercepat langkahnya. Ia bahkan tak pernah menyangka kesempatan untuk bertemu wanita yang ia cintai kini berada di tempat favorite mereka berdua. Tentu saja ia tidak memperdulikan Lira yang sudah menangis ia tinggalkan di meja tadi. Ketika sudah berada di hadapannya, Lando langsung menarik pergelangan tangan Aira hingga tubuh mereka saling berhadapan. Mata Aira membulat dan tubuhnya limbung, Aira masuk ke dalam dekapannya. “Auuu …” rintih Aira yang terkejut mendapat perlakuan Lando yang menarik tangannya. “Aku mau bicara sama kamu!” kata Lando menatapnya dalam. “Jangan macem-macem ya lo! Mau tarung sama gw, lo?!” kata Willa sinis lalu melerai pelukan Lando pada Aira. Aira membalikkan tub

