ELEVEN

2951 Words
                Riman pulang setelah melihat keadaan Aira. Lalu mereka juga sempat makan malam bersama. Aira tidak menampik bahwa ia sangat merindukan Wafda. Tapi entah kenapa ia menolak untuk berterus terang. Bahkan rasa sakit ketika ia mengingat kejadian di Bali masih terasa menyesakan daada.                           Malam itu Wafda menginap di rumah Aira. Albert dan Lia sudah masuk ke kamar mereka sedari tadi. Sedangkan Aira dan Wafda menonton film yang diputar di Netflix, di kamar Aira. Wafda memegang kendali, sesekali ia menyuapkan biskuit coklat kesukaannya kepada Aira. Wafda sesekali mencuri pandang kepada Aira yang terlalu fokus dengan film yang sedang mereka tonton. “Boleh ga kalau aku kaya cowo itu?” tanya Wafda di tengah-tengah film romantis itu diputar.                 Pemeran utama laki-laki itu sedang melakukan adegan ciuman dengan wanita yang bukan kekasihnya a.k.a berselingkuh dari pacarnya. “Maksudnya?” tanya Aira sambil terus melihat ke layar TV yang berada di kamarnya “Ya kaya barusan yang kamu liat,” “Kamu udah taulah jawabannya. Jangan ngaco, nanya-nanya yang ga jelas deh.” “Hehehe … kamu ga cemburu?” godanya. “Jelaslah aku cemburu,” kata Aira dengan lantang kemudian menatap laki-laki yang berada di sampingnya. “Aku mau jujur boleh ga?” tanyanya dengan nada ragu. “Kalau jujurnya bikin aku sakit engga usah,” kemudian membalikkan badannya lagi lalu menatap layar Tvnya.                 Beberapa menit kemudian Aira menghadap ke Wafda. “Ok, aku ga bisa fokus jadinya. Kamu mau jujur apa? Kamu habis boongin aku apa?” tanya Aira sambil mematikan Tvnya agar Wafda terfokus kepadanya.                 Kemudian Wafda menghadap Aira dengan wajah yang agak sedikit takut. “Jujur deh, apa ini ada hubungannya dengan parfum cewe yang nempel di baju kamu?” tanyanya dengan lantang namun agak sedikit takut dengan kejujuran Wafda yang mungkin akan menyakitkannya. “Iya,” menjawab dengan ragu. “K-kamu ngapain Ka?” tanya Aira yang menahan air matanya setengah mati.                 Wafda sudah mengetahui jika Aira sedang marah jika menyebut namanya bukan dengan sebutan Sayang atau memanggil namanya. Dengan sebutan ‘Ka’ itu seperti sedang mengambil jarak. “Jangan panggil aku ‘Ka’, Aira.” Sambil memegang tangan Aira. “Jawab aku, Ka Wafda!” kata Aira sambil meneteskan air matanya. Ia juga menepis genggaman tangan Aira.                   Entah kenapa semenjak kejadian di Bali itu, Aira lebih cengeng dan mudah menangis di depan Wafda. “Ok ok … tadi aku ketemu Manda,”  “Oh God,” Aira tak mampu lagi menahan laju air matanya yang semakin deras. Aira menutup wajahnya “Sumpah, aku ga pengen sebenarnya. Dia bilang ada hal penting. Tapi ternyata dia cuma pengen ngomong ga penting.” Mencoba memegang tangan Aira lagi. “Aku lagi mencoba membiasakan diri untuk bisa seserius mungkin ngejalin hubungan ini sama kamu. Sedangkan banyak hal yang ga aku ingat tentang kamu. Yang aku tau dari cerita-cerita yang aku dengar. Kamu orang yang sangat menyayangi aku. Jadi aku mohon, untuk tidak menyakiti aku lagi dan lagi Ka Wafda. Jangan rusak aku yang sudah mulai mengingat sedikit demi sedikit yang seharusnya aku ingat tentang kamu, aku, keluarga dan pekerjaanku. Aku mohon keterbukaan kamu. Aku juga sedang membiasakan diri menjadi kekasih orang terkenal. Jangan sakiti aku lagi. Aku mohon!”                 Aira kemudian berdiri dari sofanya dan menuju walk in closet yang berada di kamarnya. Terdengar isak tangis Aira. Wafda tak berani mendekati, ia hanya memberikan ruang dan waktu untuk Aira bisa menenangkan diri sebentar.                 Kemudian setelah beberapa menit, Wafda mendekati Aira dan memeluk Aira. Ia membenamkan wajahnya di leher Aira dan menciumi leher jenjang itu. Aira hanya diam mematung tanpa melawan dan masih menangis. Kemudian Wafda membalikkan tubuh Aira dan mengunci tubuhnya dengan sempurna. Kini mereka saling bertatapan walaupun Aira nyatanya masih menangis. Wafda menyentuh pipi Aira dan mengusap air matanya. Pipinya sudah basah dengan air matanya. Wafda benar-benar takut jika ia harus kehilangan Aira. Ia benar-benar tak ingin itu terjadi.                       Wafda mendekatkan bibirnya ke bibir Aira dan berhasil menautkannya secara sempurna. Suara isak tangisnya berangsur menghilang. Wafda memeluk tubuh Aira dengan sempurna lalu memperdalam ciumannya. “Maafin aku ya Sayang. Aku cuma sayang sama kamu dan cuma kamu yang akan menemani aku nantinya, yang jadi istri aku tuh aku maunya cuma kamu. Ga akan ada yang lain. Percaya ya sama aku,” kata Wafda begitu setelah puas dengan ciuman permintaan maafnya yang tulus.                 Aira hanya mengangguk dan kemudian memeluk kekasihnya itu. Kemudian Wafda mencium pucuk kepala wanitanya itu dengan sayang.   * * * * *                       Aira pergi kerumah sakit untuk cek kondisinya. Beberapa kali juga ia mengeluhkan sakit kepala hebat dan ngilu di tangannya. Lalu dokter memutuskan untuk melanjutkan beberapa terapi di tangannya dan memberikan obat untuk ia minum. Jadi untuk seminggu ke depan Aira harus stay di Jakarta dan mengosongkan jadwal untuk melakukan terapinya.                 Setelah bertemu dengan dokter yang menanganinya, Aira kemudian melajukan sedan merah kesayangannya ke sebuah resto untuk bertemu dengan mba Maia untuk membicarakan beberapa pekerjaan yang tertunda karna kecelakaan beberapa waktu lalu. “Hai Mba,” kata Aira kemudian cupika cupiki. “Maaf ya, tadi agak macet,” kata Aira kemudian memberikan sebuah paper bag yang berisi print hasil karyanya. “Kamu udah kirim softcopynya?” “Udah Boss,” kata Aira sambil tersenyum.                 Seorang waitress memberikan segelas strawberry mojito yang merupakan minuman favorite Aira. Ia memberikan juga secarik tissue yang bertuliskan no telpon dan namanya. “Loh, saya ga pesen ini Mba.” Kata Aira kaget. “Maaf, ini dari laki-laki yang di sebelah sana.” Kata waitress itu menunjuk seorang pria.                 Pria itu memiliki badan tegap yang berisi, lengannya terbentuk otot-otot yang sempurna dan sudah pasti perutnya sixpack. Kulitnya tanned dan disekitaran dagunya ditumbuhi bulu-bulu halus yang menambah ketampanannya. Dari tampangnya sepertinya ia bukan keturunan orang asia pada umumnya. Lalu Aira melihat ke arah laki-laki berbaju biru polo shirt, mengenakan celana panjang denim berwarna biru navy dan menambahkan topi sebagai penutup kepalanya. Menambahkan kesan tampan di wajah khasnya. Laki-laki itu melambaikan tangan ke arahnya dan tersenyum manis. “Terima kasih,” kata Aira mengucapkan kalimat itu dengan jarak yang berjauhan.                 Lelaki itu kemudian mengangkat gelasnya seakan mengajaknya untuk bersulang dan mengulas senyuman di bibirnya. Tak lupa Aira membaca tulisan di tissue yang baru saja mendarat di tangannya. “Kamu kenal?” tanya Mba Maia. “Nope,” kata Aira sambil meletakkan tissue itu di meja. “Tampan Ra.” Kata mba Maia sambil melirik ke arah laki-laki yang diketahui bernama Cheval Godelief. “Hmmm …” Kata Aira sambil menikmati pizzanya.                 Baru saja Aira menanggapi perkataan mba Maia, tiba-tiba Cheval berjalan menghampiri mereka berdua yang sedang menikmati makananya. “Permisi,” kata laki-laki itu yang sepertinya sudah lancar berbahasa Indonesia. “Ya,” kata mba Maia sambil menatap laki-laki itu. “Kamu Ms. Walden kan? Penulis novel ini,” kata Cheval sambil menunjukkan novel yang Aira tulis. “Iya,” katanya tersentak. “boleh saya minta tanda tangan kamu?” kata Cheval tersenyum ramah sambil menyodorkan novelnya. “Ya, tentu.” Kata Aira tersenyum. Ternyata ia hanya seorang penggemar yang ingin meminta tanda tangannya.                 Aira menerima pena yang diberikan Maia. Lalu Aira membubuhkan tanda tangan di halaman ucapan terima kasihnya. Setelahnya ia memberikan kembali novel yang sudah dilengkapi oleh tanda tangannya kepada Cheval. “Thank you so much, Ms. Walden.” Kata Cheval dengan senyuman manisnya.                 Aira tersenyum membalas senyuman lelaki itu. “Baiklah, kalau begitu. Terima kasih atas tanda tangannya dan saya permisi dulu.” Kata Cheval mengulurkan tangannya, mengajaknya untuk berjabat tangannya.   “Baik,” lalu membalas jabatan tangan lelaki keturunan Belgia nan tampan itu.                 Cheval pergi dari hadapan mereka. Aira dan Maia melanjutkan acara makan siang mereka dan pembicaraan tentang pekerjaan.   * * * * * *                   Beberapa hari kemudian, Aira sedang menyantap buah dan oat meal yang disajikan oleh ARTnya. Ia sambil berkonsentrasi untuk cek beberapa e-maail. Hari ini ada beberapa paket endorse yang ia kerjakan. Juga membuat video untuk diunggahnya ke channel youtubenya. Tak lama kemudian mba Maia datang dan membawa beberapa paket yang baru saja ia terima untuk Aira promosikan hari ini. “Tumben banget sebanyak ini,” kata Aira. “Iya, kamu lagi banyak rezeki nih. Hahaha …” kata mba Maia terkekeh.                 Mba Maia mensortir paket-paket itu. Dan ia temukan paket yang sama sekali beda dari bungkusan paket yang biasanya. Ia membaca dengan benar nama pengirim dan alamatnya, agar memastikan paketnya bukan paket yang kesasar. “Kenapa Mba?” tanya Aira memandang Mba Maia yang kaget melihat paket yang berisi telur busuk itu. “Ih itu apaan? Kok bau banget?” tanyanya lagi sambil mendekati Mba Maia. “Telur busuk Ra,” kemudian bergegas membuang paket tersebut ke tong sampah di depan rumah.                 Setelah kembali dari depan rumah. Mba Maia langsung kembali lagi ke tempat Aira. “Dari siapa itu?” Tanya Aira. “Engga tau … di situ ga ada nama pengirimnya.” Lalu mengambil cairan pembersih tangan, “dulu, waktu kamu di Jogja. Kamu pernah dilempar telur busuk loh, Ra.” Katanya menceritakan tentang apa yang dialami oleh Aira.                                  Aira mengernyitkan dahinya. Kini perhatiannya tertuju pada Maia. “Ada fansnya Wafda, ya bisa dibilang fans gilanya dialah. Dia ga terima kalo kamu pacaran sama Wafda. Terus dia datang ke hotel dan ngikutin kita dari Bandara. Waktu itu kamu juga mau ada meet and greet di salah satu Universitas di dekat hotel itu. Eh, ga taunya pas kita turun dari mobil. Ada timpukan telur busuk ke arah kamu. Tapi fans gila itu udah ketangkep kok. Jadi kamu tenang. Ini dari mana lagi ya?” Jelas mba Maia sambil menggerutu. “Kacau ya fansnya Wafda, saking terkenalnya tuh pacar aku Mba.” Katanya terkekeh. “Untuk kejadian ini jangan diambil pusing mba. Nanti kalo udah ganggu banget baru kita ngomong ke Albert.” Lanjutnya meminta mba Maia.   “Engga ah, nanti aku kesalahan lagi.” Maia menggerutu. “Aku yang tanggung jawab.” Ujar Maia.                 Maia menggedikkan bahunya. “Riman tadi telp ke aku nanyain jadwal kamu hari ini. Tapi aku bilang kamu padet banget hari ini Ra. Ga apa-apa kan?” “Engga apa-apa kok. Aku juga lagi males ngomong sama Wafda.” “Loh, ada apa? Apa kalian sedang ada masalah?” “Ya namanya juga pacaran sama orang terkenal Mba. Ya pasti ada aja masalahnya, jangankan sama orang terkenal. Sama orang biasa aja bisa putuskan?” tersenyum miring. “Jangan sampai kena gosip aja ya kalian. Oiya, kamu inget ga cowo yang beberapa hari lalu yang ketemu kita?” “Iya, ehmm … cowo tampan itu. Kenapa dia?” tanya Aira. “Dia hubungin aku.”                 Maia Flashback on.                 Maia pergi ke toilet, ketika ia keluar dari toilet dan berada di koridor penghubung antara resto dan ruang service resto, seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan otot di lengan yang sangat terawat dan juga warna kulit tanned yang sudah dilihatnya beberapa saat lalu sedang menunggunya. Awalnya Maia hanya tersenyum kepada Cheval dan ketika melewati Cheval, ia menegurnya dan ternyata sengaja menunggunya. “Sorry. Kamu managernya Aira kan?” katanya tersenyum ramah. “Ya.” Membalas senyumnya. “My name is Cheval Godelief. Please call me Cheval” mengulurkan tangan “Ya Cheval. Saya Maia. Kamu yang tadi mengirimkan strawberry mojitos untuk Aira kan?” membalas uluran tangannya. “Ya, betul sekali. Kamu bisa beritahu tentang dia?” kata Cheval sambil menunjuk Aira yang sedang fokus membaca e-maail yang masuk. “Oh, my boss?” katanya menunjuk dirinya sendiri. “Im interesting with her dan saya ngefans banget sama Aira. Saya juga mau memberikan beberapa jobs untuk Aira. She is a beauty vlogger, right?” “Yes,” “Bisa kamu bantu saya?” “Ok. Give me your phone.” “Ya sure,” kemudian memberikan smartphone itu kepada Maia. “Ok, you can know about her from this. If you want to asking about her. So, you can call me. Here is my phone number. Ok?” “Ok thank you so much Maia. I’ll call you.” “You’re welcome.”                 Maia flashback off.   * * * * * *                   Aira melajukan sedan merah kesayangannya menuju tempat SPA kesukaannya dengan Willa. Willa akan datang terlambat di tempat itu. Aira kemudian mampir ke sebuah toko buah untuk membeli beberapa buah untuk stocknya sarapan. Mbok Darmi sedang pulang kampung sejak kemarin. Jadi ia tidak ada yang membuatkan sarapan di rumah, sedangkan Mba Lia juga sedang mengunjungi orang tuanya. Terpaksa ia mencari makanan simple yang bisa ia makan dalam perjalanan menuju tempat SPA. Sesampainya di toko buah Aira mengambil trolly belanjanya dan menjelajahi lorong-lorong buah-buahan dan mengambil beberapa buah apel yang ia masukan ke dalam plastik.                    Toko tidak terlalu ramai karna masih sangat pagi. Aira kemudian melihat smartphonenya takut-takut kalau Willa sudah sampai di tempat SPA yang memang tidak jauh dari toko buah ini. Ketika sedang serius dengan mengecek smartphonenya. Seseorang menepuk pundaknya. Aira kemudian membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa orang yang menyapanya. “Hai Aira,” kata laki-laki itu dengan tersenyum ramah dan sangaaattt  manis . “Oh hai. Cheval good morning.” Katanya yang baru saja tersadar dari lamunannya akibat senyuman mautnya. “Good morning Sweetie. Wow, kamu ingat namaku?” tersenyum takjub. “Ya ...” “Kamu belanja buah?” “Iya, kebetulan asistenku pulang kampung. Jadi aku cari buah, makanan yang simple untuk sarapanku.” Seraya tersenyum.                   Smartphone Aira berdering. Begitu ia lihat smartphonenya itu ternyata Willa yang menelponnya. “Sorry,” memberikkan kode untuk menjawab telpon dari sahabatnya.   “Yes, please.” Tersenyum. “Oiii … udah sampe lo ya. Gw lagi di toko buah, cari sarapan dulu. Gw 10 menit sampe kok. Lo mau nitip buah ga? Ya … oke oke.” Kemudian mengakhiri panggilan telponnya. “Cheval, I’ve to go now. See you,” “Ok … take care Aira and see you,”                 Baru beberapa langkah Aira meninggalkan Cheval, Pria itu mengejarnya dan berdiri menghadapnya. Aira kemudian berhenti mendadak hampir menabrak tubuh lelaki tampan itu. “Oh God. Cheval ada apa?” tanya Aira kaget. “Sorry Sweetie. Aku cuma mau tau, apa aku boleh menelponmu nanti?” tanya Cheval tersenyum. “Untuk?” “Untuk mengenal kamu. Karna di Indonesia ini aku tidak punya banyak teman. Jadiku mohon untuk bisa menjadi temanku.” Katanya sambil menyatukan tangan, tanda memohon. “Sepertinya tidak sopankan ya kalau aku menolak. Jadi aku putuskan boleh. Tapi tolong konfirmasi jadwalku dulu dengan mba Maia. Kamu kenalkan pasti dengannya,” katanya tersenyum. “Ok. I’ll call you and thank you so much Aira.” “You’re welcome.” Berlalu kemudian melambaikan tangannya.                 Sedangkan Cheval tersenyum senang dan menggerakan tangan, seperti tanda yes.   * * * * * *   “Lo jadwal ke mana minggu depan La?” “Minggu depan gw ke Malang. Wafdakan di sana selama seminggu. Lo ga nyusul?” tanya Willa “Ehmmm … sejujurnya hubungan gw ama Wafda kaya ga jelas gitu sekarang. Gw ngerasa kaya ada yang ditutupin dari gw deh La.” “Maksudnya?” “Gw lagi agak renggang sekarang ama Wafda.” “Renggang gimana?” “Iya renggang.  Masa Wafda ga cerita sama lo?” “Engga ada. Mangkanya gw kaget. Lo juga biasanya cerita, ini malah udah jarang cerita ke gw. Ada apa sih Ra? cerita dong sama gw,” menampilkan raut muka khawatirnya. “Ok, gw ceritain ya …”                 Aira kemudian mengeluarkan apa yang dialaminya dengan Wafda. Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Willa bahkan sangat terkejut dengan apa yang dialami sahabatnya dengan kakanya. Willa juga memberitahukan “Nanti gw omongin deh sama dia. Gw coba cari tau juga. Lo jangan khawatir ya, kan ada gw.” Merangkul dan mengusap bahu calon kaka iparnya itu. “Makasih ya, La.” Kata Aira.     * * * * * *                   Di kediaman keluarga Walden, Aira sedari tadi masih mengedit videonya untuk diupload pada channel youtubenya. Sedangkan Mba Lia dan Albert sedang menyantap makan malam mereka berdua. Kabarnya ibu akan datang esok hari ke Jakarta dan Lia akan menjemput ibu di bandara. “Mba, aku laper juga ternyata.” Sambil cengar-cengir. “Sini makan, dari tadikan aku udah panggilin. Tapi kamunya ntar-ntar aja jawabnya.” Kemudian memberikan piring berisi nasi. “Iya maaf deh. Namanya juga lagi hectic,” lalu duduk di depan mba Lia, seperti biasanya. “Aku tuh ngeri kamu sakit, De. Bukan apa … kata Maia kerjaan kamu lagi banyak banget. Nanti kalo sakit aku ga enak sama ibu loh. Disangkainnya aku ga jagain kamu.” Mba Lia berubah jadi murung.   “Tau nih anak, bandel banget.” Kata Albert nimbrung, “eh, btw kemarin katanya ada yang kirimin kamu telur busuk ya?” lanjutnya. “Heeeh …” hanya berheeh ria, sedang asik menyuapkan sop jamur ayam kesukaannya. “Kok … kamu ga bilang aku?” Albert protes dan mengubah raut wajah kekesalannya. “Aku ga apa-apa kok Bang, jangan berlebihan kaya Wafda deh. Masalah kaya gitu aja ga usah dibesar-besarinlah Abangku Sayang. Akunya juga ga apa-apa kok. Kecuali akunya yang kenapa-kenapa baru Abang heboh,” sambil cengar-cengir. “Kamu beda banget loh, Ra. Sekarang kok ngeliat masalah gini anteng-anteng aja. Kemarinan tuh sebelum kamu kecelakaan, kamu tuh pasti udah panik dan ketakutan karna hal beginian.” Kata Mba Lia. “Ya mau gimana? kecuali kalo aku kenapa-kenapa baru kalian bereaksi. Udah pokoknya kalian tenang aja. Ga usah dipusingin ya Kaka dan Abangku tersayang. Kalo ada apa-apa aku pasti ngomong kok,” mencoba menenangkan kaka-kakanya. “Oiya dan satu lagi. Jangan kedengeran ibu ya, kalo ada kejadian telur busuk ini lagi. Yang duluan aja aku ga ngasih tau. Takutnya ibu panik.” Lanjutnya. “Oke … tapi kalo ada apa-apa kamu ngomong ya,” kata Albert mengusap bahu adik tersayangnya.                 Aira hanya tersenyum menjawab ucapan abangnya itu   * * * * * *           
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD