Sepanjang perjalanan menuju halte bus, Anulika hanya memikirkan bagaimana caranya memberitahu dan meyakinkan kedua orang tuanya, pasti kabar yang ia bawa, akan membuat mereka shock dan kecewa. Kemarahan Hadi atau omelan Kinanti akan segera memenuhi telinga dan ia harus siap mendengarkan semua itu, sebab, sebagai anak satu-satunya, Anulika tidak bisa menjaga nama baik keluarga Walaupun dirinya masih dihantui perasaan takut untuk jujur, tetapi langkah Anulika terasa lebih ringan setelah berbicara dengan Livia. Meskipun hatinya gamang, ayah dan ibu akan ikut mendukung keputusannya atau tidak, tetapi ia sudah memiliki jawaban untuk masalah ini. Mempertahankan kehamilannya mungkin bukan keputusan yang tepat, tetapi bisa menjadi sebuah pilihan yang benar, karena ia tidak membunuh sebuah nyawa

