32 - Rasa Yang Memuncak

1317 Words

Saat Vio menunjukku dengan dagunya, River tiba-tiba saja menarik tangan Vio ke sisinya. Gerakan River tegas, seolah memutus siaran yang mengganggu. "Kita harus bicara, Violin," ujar River, nadanya penuh penekanan, tidak memberi ruang bantahan. "Bicara apa?" sahut Vio, tampak enggan. "Aku rasa kamu lebih baik fokus pada kerjaanmu sendiri, River." "Oh, ya?" River menatap Vio dengan sejuta makna. Kalandra menghela napas panjang, memanfaatkan jeda yang diciptakan River. "Jangan kekanak-kanakan, Vio," katanya, suaranya kembali datar dan terkontrol, ditujukan pada Vio. "Pertemanan Alisa bukan menjadi masalah kita, lagipula Alisa tidak pernah macam-macam." River terkekeh, tawa sinis itu selalu sukses membuatku merinding. Dia menatap Kalandra. "Ah, berlagak jadi orang tua, padahal belum

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD