"Om," bisikku dengan nada manja yang masih menyisakan serak. Aku menatapnya dalam, sementara tanganku bergerak nakal, memastikan dia tahu kalau aku belum ingin malam ini berakhir begitu saja. "Aku tahu kamu capek, tapi sepertinya sisi jantanmu ini masih sangat terjaga, kan?" Aku meremasnya pelan, memberikan godaan yang membuatnya tersentak kecil. Aku lalu menangkup wajahnya, memaksanya untuk terus menatap mataku yang sudah gelap oleh hasrat. "Apa kamu pikir dua kali saja sudah cukup?" Aku mencibir sambil memberikan senyum yang menantang. "Aku baru saja mulai panas, Daddy. Aku merasa masih butuh lebih banyak lagi, ingin kamu mengisi seluruh kekosongan dalam diriku sampai meluap." Aku mencondongkan tubuh, menjilati garis rahangnya yang keras. "Aku mau kamu ada di dalamku lagi, s

