Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku saat mobil mewah Nenek Marine mulai membelah jalanan kota yang padat. Aku menoleh ke arah Nenek, memberanikan diri untuk bicara. "Nek, aku rasa pernikahan ini nggak bisa diburu-buru seperti ini." "Kita bahkan belum membicarakan konsep, undangan, atau apa pun," kataku pelan, berusaha terdengar logis. "Lagipula, harusnya Nenek tanya aku dan Om Alan dulu." "Bagaimana kalau dia merasa terpaksa?" "Bagaimana kalau dia sebenarnya belum siap untuk langsung menikah minggu depan?" Nenek Marine tidak langsung menjawab. Dia justru memutar tubuhnya, menatap mataku dengan tatapan yang begitu tajam dan tegas, hingga aku terdiam seketika. "Alea, dengarkan Nenek. Kamu seharusnya cemas," suaranya merendah, penuh penekanan. "Kalau ka

