Aku berdiri di balkon restoran yang telah dipesan secara privat oleh Kalandra, menatap hamparan lampu kota yang berpendar seperti berlian yang tumpah di atas beludru hitam. "Mas Alan... ini indah banget," bisikku tanpa bisa mengalihkan pandangan dari Menara Eiffel yang berdiri megah di hadapan kami. "Aku nggak pernah membayangkan bisa makan malam di tempat seindah ini. Mas benar-benar menyiapkan ini semua?" Kalandra melangkah mendekat dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggangku dan menarik punggungku untuk bersandar di d**a bidangnya. Ia mengecup bahu bahuku yang terbuka, menghirup aroma parfumku dalam-dalam. "Apapun untuk istriku, Alea," jawabnya dengan suara bariton yang rendah dan menenangkan. "Aku ingin malam pertama kita di Paris menjadi sesuatu yang tidak akan pernah ka

