WARNING EKSPLISIT! Skip If Disturbed! *** Aku tertawa kecil melihat ekspresi Kalandra. Wajahnya yang tegang kini terlihat santai, tapi masih memancarkan gairah yang belum sepenuhnya padam. Ia meraih tanganku yang baru saja kujilati—gerakan yang membuat erangan kecil keluar dari tenggorokannya—dan mengecup telapak tanganku dengan lembut. "Kamu nakal sekali, Alea," katanya, suaranya kembali serak dan penuh kekaguman. "Aku hanya meniru Om," balasku, mencium pipinya. "Sekarang, kita harus membersihkan ini." Aku bangkit dan menariknya. Kalandra, meski terlihat lemas, menurutiku. Ia berdiri, sementara aku buru-buru menaikkan ritsleting dan mengancingkan celana panjangnya—setidaknya agar terlihat sopan jika ada yang masuk, meskipun aku tahu kami sendirian. Kami melangkah ke kamar mandi s

