Aku terlelap setelah badai gairah dan emosi itu mereda. Kepuasan yang ia berikan terasa begitu intens, membuat saraf-sarafku benar-benar rileks. Namun, tidurku tidak bertahan lama. Aku mulai mendengar suara bisikan dari Kalandra. Perlahan aku membuka mataku. Kamar masih remang-remang, tetapi aku bisa melihat sosok Kalandra berdiri di dekat jendela, berbicara di telepon. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk yang melingkar erat di pinggangnya, memperlihatkan d**a bidang dan perutnya yang kencang. Wajahnya yang tadi penuh hasrat kini dilingkupi ekspresi yang sangat serius, bahkan tegang. Aku berbaring diam, berpura-pura masih tidur dan mendengarkan. "Tidak, Alisa," suara Kalandra terdengar rendah dan tegas. "Daddy tidak bisa mengikuti keinginanmu itu. Daddy tidak bis

