Setelah teriakan Kalandra yang memecah keheningan kamar, segalanya terasa kabur dan bergerak terlalu cepat. Ia menarik tanganku, dan kami berlarian tanpa sempat mengganti pakaian, hanya membiarkan kaus longgar dan robe tidur kami tergesa-gesa tersentuh angin malam. Koridor rumah sakit berlantai licin terasa dingin di bawah kakiku. Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan bau ketakutan yang mendominasi udara. Kami tiba di area IGD, yang dipenuhi kesibukan para perawat dan suara monitor yang berdetak konstan. Kalandra langsung menghampiri meja resepsionis, suaranya lantang dan dipenuhi kecemasan, menghilangkan semua kepercayaan dirinya yang biasa kulihat. "Suster! Pasien bernama Alisa Atmaja, di mana dia sekarang?" Suster dengan wajah lelah memandang kami dengan tenan

