Suasana di ruangan itu langsung membeku. Aku menatap Alisa, terkejut dengan keberaniannya. Dia baru saja siuman, tapi dia langsung menyatakan perang. River menoleh, tatapannya kini jatuh padaku. Mata kami bertemu. Tatapan River sedetik pun tidak menunjukkan rasa bersalah atau panik. Matanya hanya memancarkan rasa ingin tahu yang tenang dan sedikit geli. Dia sedang mengamatiku, melihat bagaimana aku, yang baru ia teror, bereaksi terhadap pengakuan traumatis Alisa. Dia tersenyum tipis, senyum yang sama persis saat ia menawarkan tangannya padaku di luar tadi. Senyum yang meremehkan. Dengan santai, seolah Alisa baru saja mengeluhkan tentang PR, River melangkah mendekati ranjang. "Lisa, waktumu habis. Kamu tidak boleh bicara terlalu lama. Kondisimu masih butuh banyak istirahat, Sayang." R

