Kami duduk di meja makan minimalis, diterangi lampu gantung yang temaram. Suasana hening, tapi jantungku masih berdegup kencang. Aroma makanan hangat memenuhi udara, namun tak ada yang langsung menyentuh sendok. "Alea." "Hem?" "Semoga kamu suka makanannya." Aku mengangguk kikuk. Aku masih tidak percaya, kini aku tinggal bersama pria dihadapanku. Tinggal satu atap dengannya, berbagi meja makan, dan saling menatap intens seperti ini. Kalandra menatapku, lalu mencondongkan tubuh. Suaranya rendah, mantap, namun terdengar jujur. “Tadi aku kelewatan. Aku ingin minta maaf,” ucapnya. "Eh, kok?" sahutku bingung. "Alea, aku berpikir dan teringat waktu kamu nangis ngga mau sampai Alisa tahu. Aku kayaknya udah narik kamu ke jurang dosa. Benar?" Aku hanya diam, mendadak lidahku kelu. Ken

