Setelah menempuh perjalanan selama hampir setengah hari, aku pun tiba di rumah. Kampung halaman. Tanah kelahiran. "Udah. Sini, Mang," pintaku pada sopir ojeg. "Siap, A." Motor pun berhenti. "Berapa ongkosnya?" tanyaku setelah turun. "Dua puluh ribu," jawabnya. Kukeluarkan selembar uang dari dalam dompet. "Nih, Mang." "Hatur nuhun, A," ucap sang sopir ojeg seraya mengambil uang berwarna hijau itu. "Sami-sami," sahutku. Selepas si amang ojeg pergi, kulihat isi dompet di tangan. "Sisa sepuiuh ribu?" gumamku tak percaya. "Halah, Boy. Bagaimana kumaha ini teh?" Boy yang terlelap tidur jelas saja tidak memberi tanggapan apa-apa. Akhirnya kulanjutkan langkah, masuk ke dalam rumah yang jaraknya hanya tinggal tiga meter di depan mata. Azan Magrib berkumandang. Pantesan udah pada sepi. "B

