Menikah dengan Bos (Pov Ema)

1210 Words
Aku menggeret koperku memasuki kamar meninggalkan mereka berdua di luar. Kemudian mulai menyusun baju dalam lemari. Sedang asyiknya menyusun pakaian aku menemukan sebuah foto lama bersama teman kantor berpose dengan berbagai macam gaya. Ada Defitri, Sari, Ade, Aji, Jaka dan masih banyak lagi. Seorang pria memakai kemeja hitam polos menarik perhatianku dalam foto itu. Dua tahun yang lalu pertama kali aku masuk berkerja dialah orang paling ramah dan baik terhadapku. Membimbingku bekerja dengan sangat sabar dan tidak pernah marah. Awalnya aku pikir dia masih sendiri, ternyata dia pria beristri. Dan kini pria itu juga sah menjadi suamiku. "Mas Danu," lirih kuucapkan nama itu. Bibirku membentuk segaris senyum mengenang banyak hal. Dia pria yang begitu mencintai istrinya. Beruntungnya kamu Mbak Yura. Aku tidak akan merebut Mas Danu darimu Mbak. Berada di sini bersama kalian saja aku sudah bahagia. Aku beranjak dan berbaring di ranjang masih memegang foto di tangan. Kuusap wajah Mas Danu dalam foto. Dia tampak bahagia. Wajahnya yang sendu, sikapnya yang lembut kepada semua orang. Aku tidak tahu dengan perasaan ini. Apakah ini hanya sekedar kekaguman semata, atau cinta? Yang pasti aku bahagia jika dekat dengan pria berkumis tipis ini. 'Ema sadar! Dia milik Mbak Yura. Kau tidak boleh merebutnya. Pasti banyak pria lain di luar sana yang seperti Mas Danu' Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri, mejitak kepala beberapa kali. Kuselipkan foto Mas Danu di bawah bantal kemudian mencoba memejamkan mata. *** Pagi-pagi sekali setelah shalat subuh aku langsung menuju dapur. Memasak nasi goreng dan membuat teh hangat untuk sarapan. Ketika aku sedang sibuk dengan penggorengan Mbak Yura datang, dia sedikit tersenyum melihatku. "Mbak," tegurku di sela-sela kesibukanku. Mbak Yura tampak menguncir rambutnya dan menyiapkan piring serta gelas di meja makan. "Pagi, Sayang," ucap Mas Danu yang tiba-tiba sudah datang. Dia masih mengenakan sarung dan baju koko berwarna coklat serta peci berwarna hitam. Diciumnya kening Mbak Yura dan melingkarkan tangan di pinggangnya. "Hai, Dek," sapa Mas Danu terhadapku. "Hai, Mas," sahutku sumringah sekilas menoleh ke arahnya. "Masak apa?" tanyanya berdiri di sisiku. Memperhatikanku memasak. Karena grogi di perhatikan nasi dalam penggorengan bahkan ada yang berserakan keluar dari wadahnya. "Nasi goreng, Mas," jawabku singkat. "Kayaknya mantep nih. Iyakan, Sayang," ucapnya kembali mendekati Mbak Yura. Aku menarik napas lega. Nasi selesai di masak. Aku langsung menghidangkannya di atas meja. Tidak lupa dengan teh hangat juga. Mbak Yura berdiri mengambilkan dua centong nasi ke piring Mas Danu kemudian menuang teh hangat ke gelas. "Makasih, Sayang," ucap Mas Danu langsung melahap nasinya. Kemudian Mbak Yura juga mengambil untuk dirinya sendiri. "Wah, ini enak banget, Dek," seru Mas Danu. "Makasih, Mas. Gimana Mbak rasanya?" tanyaku pada Mbak Yura yang bersebrangan meja denganku. "Hem... Iya, enak." jawabnya singkat. Entah mengapa aku merasa Mbak Yura sepertinya tak mau berteman denganku. Padahal aku sebisa mungkin mejaga jarak dengan Mas Danu. "Hari ini ada meeting ya, Dek," tanya Mas Danu. "Oh, Iya Mas... " "Jam berapa?" "Jam 9.30 Mas." "Aku hampir lupa loh, kita berangkat jam berapa nanti ke kantor?" tanya Mas Danu masih sibuk mengunyah nasi goreng di mulutnya. Tampak Mbak Yura mengalihkan pandangan ke arah yang lainnya. "Mas, Aku ... Nanti di jemput teman," jawabku tersenyum memberi alasan. Padahal tidak ada yang akan menjemputku. "Siapa? Em... Pacarnya, ya?" sambungnya lagi bertanya. "Bukan, Mas. Temen biasa." Aku nyengir kuda. "Temen bisa jadi demen loh," ucap Mas Danu sembari meneguk teh di hadapan. "Mas," Mbak Yura yang sejak tadi diam tiba-tiba bersuara. "Iya, Sayang?" "Mau aku bawain bekal?" tanyanya hati-hati. Mas Danu membelai rambut Mbak Yura kemudian tersenyum. "Mas seneng banget kalau kamu mau buatin." Mata Mbak Yura langsung berbinar, dia langsung meninggalkan sarapannya dan mulai memasak. "Mbak, mau aku bantuin?" tanyaku. "Nggak, makasih... " "Oke," jawabku singkat. Selesai sarapan aku langsung menuju kamar. Kubiarkan mereka berdua bercanda penuh cinta di sana. Jujur saja, kadang aku iri melihat kemesraan mereka. Siapakah aku yang berhak berpikir seperti itu. Aku menarik handuk di belakang pintu kemudian masuk ke kamar mandi. Sejuk dan tenang rasanya seperti ini. Berada di bawah kucuran air yang dingin dan segar. Selesai mandi aku langsung memakai pakaian kerja. Celana berbahan dasar berwarna coklat dengan kemeja berwarna putih. Tidak lupa melilitkan jilbab berwarna cream. Pulang kerja aku akan mengunjungi Yudha. Sudah dua hari aku tidak ke sana. Rindu juga ingin bercerita, meskipun dia hanya diam, tak bisa merespon dan bicara, tapi aku lega bisa mengungkapkan apapun padanya. Selesai berdandan aku langsung menyambar tas selempang berwarna hitam. Membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Ada Mbak Yura yang sedang menyiram bunga. "Mbak aku pergi dulu, ya." Kucium punggung tangannya. Dia diam saja, hanya tersenyum dan kembali sibuk dengan kegiatannya. Sepertinya Mas Danu sudah berangkat, karena tidak ada lagi mobilnya di garasi. Aku buru-buru melangkah pergi sepertinya aku akan datang terlambat ke kantor. Karena aku sengaja membiarkan Mas Danu berangkat lebih dulu. Setelah menunggu tiga puluh menit akhirnya ojek online yang aku pesan berhenti tepat di depanku. Langsung saja aku naik dan berangkat menuju kantor. Setelah tiga puluh menit aku sampai di kantor, sedikit berlari memasuki gedung. Kemudian berdesakan dengan banyak orang di dalam lift. Karena kantorku berada di lantai enam gedung ini. Lift terbuka aku langsung menghambur keluar. Tanpa sadar langsung menabrak seorang pria yang akan masuk ke lift. Bruk! "Maaf, tuan. Saya buru-buru," ucapku berulang kali meminta maaf. "Santai, Dek," kata pria itu tersenyum. Mataku membulat mendengar suaranya. Lalu sama-sama tertawa. "Mas Danu!" ucapku sambil memukul lengannya. "Kamu kayak di kejar hantu pagi-pagi," katanya sambil terus memungut lembaran kertas yang berserakan. Aku membantu mengumpulkannya. "Maaf, Mas. Aku telat," kataku penuh penyesalan. "Santai aja, nggak apa-apa." "Kamu nggak marah?" tanyaku. "Nggaklah, nanti hukumannya di rumah aja, masak yang enak!" sahut Mas Danu sambil berdiri setelah semua kertas terkumpul dalam map. Mas Danu atasanku di kantor ini. Meskipun dia tidak pernah marah, tetap saja aku merasa tidak enak jika harus telat masuk bekerja. "Mana teman kamu?" "Oh, dia sudah pulang lah Mas... " "Oke, aku ke bawah dulu ya," katanya seraya masuk ke dalam lift dan melambaikan tangan. Aku hanya tersenyum sambil berdiri mengarah ke lift sampai pintu lift tertutup dan wajah Mas Danu hilang dari pandangan. Aku bergegas menuju ruangan, semua orang sudah mulai sibuk bekerja. Samar kudengar beberapa orang mulai berbisik seperti membicarakan sesuatu. Ternyata mereka membicarakan isu kalau Mas Danu menikah lagi. Mereka penasaran siapa wanita yang mau menjadi istri kedua Mas Danu karena menurut berita yang beredar wanita itu bekerja di perusahaan yang sama. Aku berusaha tenang duduk di kursi dan mulai bekerja. "Eh, kira-kira siapa ya perempuan itu?" kata Aji. "Aku juga sangat penasaran," sambung Sari. "Kalau dia bekerja di sini dia pasti berangkat kerja bareng sama Pak Danu. Kita perhatikan saja setiap hari siapa yang sering deket-deket sama Pak Danu," sahut Defitri. Aku masih berusaha memasang kuping mendengarkan ocehan mereka. Bagaimana kalau mereka tau wanita itu aku? Oh tidakk! Aku mengmbil gelas berisi air putih yang tergeletak di atas meja kemudian meminumnya. "Eh, bebs loe tau nggak sih gosip atasan kita nikah lagi? Kira-kira sama siapa, ya?" tanya Ade padaku. Seketika air yang masuk ke mulut tersembur keluar. Aku terbatuk berulang kali sampai mukaku memerah. Ade langsung mendekat dan menepuk-nepuk pundakku. "Gimana sih bebs, bisa kesedakan. Hati-hati dong minumnya." katanya mengingatkan. Aku hanya mengangguk beberapa kali sambil berusaha mengendalikan perasaanku sendiri. Apa tanggapan mereka jika tau, istri muda Mas Danu itu adalah ... aku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD