Berat badanku semakin turun setelah tahu yang sebenarnya mandul itu aku. Mas Danu tidak pernah memberitahu, meskipun ia melakukannya karena tidak ingin membuatku hancur. Nyatanya, ini terasa lebih sakit ketika aku tahu semua itu dari mulut Papa yang selama ini sangat membenciku. Entah sudah berapa kali aku berniat mengakhiri hidup, tapi selalu ketahuan oleh Mas Danu. Kini aku sadar, tidak ada gunanya mati, di dunia aku sudah tersiksa seperti ini, bagaimana di akhirat nanti—jika aku masih nekat mengakhiri hidup? Allah pasti murka padaku yang seolah melupakan nikmatnya. Aku hanya perlu bangkit dan bersikap normal seperti wanita pada umumnya. Beruntung aku memiliki Mas Danu yang dengan sabar menerima kekurangan ini. Jika aku menikah dengan pria lain, mungkin aku sudah ditendang dan diting

