Upaya Keduanya : Dikacangin di Taman, Risih di Bus

1495 Words
Kamil menuruni anak tangga. "Yah, nggak ke kantor hari ini?" "Ke kantor kok, tapi agak siangan. Jadi nanti aja siap-siapnya," jawab Pak Galih sembari menyajikan sarapan di meja. "Mau ayah antar kesekolah?" "Pake mobil?" Kamil berbalik tanya. "Iya." "Nggak ah, Yah. Aku naik motor aja kayak biasa. Naik mobil nanti macet ribet, motor bisa selip-selip jadi tepat waktu nggak telat." Kamil menolak dengan ramah. "Ya sudah, makan dulu yuk!" ajak Pak Galih. Setelah selesai sarapan, Kamil bergegas ke garasi. Tapi baru setengah jalan ke sekolah, ponselnya berdering – Rivan yang nelpon. "Halo, Van. Kenapa?" tanya Kamil sambil tetap ngemotor. "Mil, mau gue jemput nggak?" "Nggak usah deh, kasihan lo muter. Gue udah di jalan. Eh, iya nih – si Demplon malah mogok lagi! Bentar gue cari bengkel, terus gue lanjut naik bus aja." "Ya sudah, ketemu di sekolah ya!" Rivan langsung putus sambungan. "Hmm!" Kamil menghela napas, lalu taruh motornya di bengkel terdekat. Tak lama, bus yang dia tunggu tiba. Dia langsung naik – dan ternyata sebagian penumpangnya adalah siswa SMK Garuda. Seketika mereka melihat Kamil, langsung terpesona. Karena kursi sudah penuh, mereka segera berdiri bersamaan. "Waah, ganteng banget!" puji salah satu cewek. "Kamil duduk disini aja!" "Di sini! Di sini!" Mereka berebut memberikan tempat duduk. Kamil merasa tak enak. Dia melihat kursi di depan yang masih kosong (kayaknya ada yang mau kasih tapi dia cepet duluan) dan berkata, "Kamil duduk di sini aja ya!" "Yaaaahh..." seru mereka serempak, tampak kecewa banget. Kamil duduk tenang, lalu gumam dalam hati. "Andai aja si cewek jutek itu kaya mereka. Kan nggak perlu susah-susah gue nyari cara buat deketinnya. Ah, frustrasi deh!" Kamil tiba di sekolah, berjalan santai menyusuri koridor. Sayup-sayup angin membuat rambutnya sedikit berterbangan – menambah pesonanya pagi itu. Mata para cewek langsung melirik saat dia melintas, beberapa menyapa dengan senyum. "Permisi," sapa Kamil saat melewati dua orang dari XII Akuntansi I – Edo dan Haikal. Mereka terkenal cuek dan galak, dan Edo juga populer sebagai ketua tim basket. Tapi mereka tidak menjawab sapaan Kamil. "Sok kegantengan banget sih," cibir Edo. "Tapi do, emang dia beneran ganteng lho," sahut Haikal. "Itu bukan ganteng, cuma sok ganteng! Gantengan juga gue dimana-mana kali," bantah Edo, nggak terima. "Awas aja kalo dia bikin masalah sama gue." "Van!" Kamil berteriak sambil menghampiri Rivan yang lagi berdiri di pojok koridor. "Kamil, tunggu! Mundur dikit!" pinta Rivan. "Kenapa?" "Gantenganmu kelewatan, mau foto dulu!" Rivan tertawa terbahak-bahak. "Hih, Rivan! Gue kira apa," Kamil tersipu malu. "Udah siap hari ini?" tanya Rivan dengan wajah serius. "Mau nggak mau, siap nggak siap – gue harus maju, demi si Demplon!" Kamil jawab tegas. "Tos dulu dong!" Rivan mengangkat tangan, dan mereka saling menepuk tangan. "Gue mulai darimana nih?" tanya Kamil, sedikit gugup. "Ya, kalo mau deket, harus kenalan dulu dong. Tuh!" Rivan menunjuk diam-diam ke arah Titah yang lagi duduk sama temen-temannya di taman sekolah. "Terus gue ngapain, Van? Masa tiba-tiba ngajak kenalan – kan aneh banget!" "Ah, elah. Ya pura-pura lewat kek, atau cari alasan apa gitu. Pokoknya harus caper lah!" "Iya-iya, tapi pick me banget nggak sih kalo gue caper sama mereka?" "Enggak lah, cepat sana!" Rivan mendorong Kamil pelan-pelan. Kamil menarik napas dalam-dalam, mengangkat dagu. "Oke! Ini dia, aksi kedua!" Kamil berjalan perlahan menuju kelompok mereka yang asik ngobrol. Rasanya gugup, tapi harus tetap dilakuin. "Duh, gue harus ngapain ya?" gumamnya dalam hati. Saat tepat melewati, tiba-tiba ada yang menyapa – bukan Titah, tapi Inggit. Ya kan, mustahil si cewek jutek itu menyapa tiba-tiba; lebih mungkin hujan mendadak. "Pagi, abang Kamil ganteng!" sapa Inggit dengan senyum ceria. Dia memang ramah ke semua cowok, apalagi yang ganteng. Kamil langsung berhenti – ini kesempatan yang harus dimanfaatkan. "Pagi juga. Eh, siapa ya? Gue kurang tahu nama lo," tanya dia berpura-pura. Padahal dia tahu banget. "Ah, abang Kamil mah gitu! Masa nggak tahu nama neng cantik ini?" sahut Inggit sambil menebarkan pesona. Titah yang menyaksikan, cuma asik main hpnya – tidak menghiraukannya sama sekali. "Ya udah, kita kenalan deh biar makin dekat!" Inggit cengar-cengir. "Gue Inggit. Panggil sayang juga boleh lho, dengan senang hati!" "Oh, Inggit ya." Kamil menjabat tangannya. "Mau kenalan juga sama temen-temen gue?" tawar Inggit. "Boleh!" Kamil jawab cepet. "Nah, ini Hawa – cewek kurang cantik, tapi nggak jelek-jelek amat kok!" Inggit menunjuk Hawa. "Apaan sih lo!" Hawa menepis tangannya. "Gue Hawa, perempuan pertama di bumi ini!" dia mengulurkan tangan. "Itu nama istri Nabi Adam, bege!" Inggit menepis tangan Hawa yang mau bersalaman. "Sudah, nggak usah salaman – nanti abang Kamil alergi!" "Licik lo!" cibir Hawa. "Kalo yang itu siapa?" Kamil melirik ke arah Titah. "Tah, diajak kenalan tuh!" seru Inggit ke Titah. Titah cuma memutar bola matanya dengan malas. Kamil mengulurkan tangan ke arahnya. "Kenalin, nama gue Kamil. Semoga kita bisa jadi teman baik ya." Titah cuma mengernyitkan dahi – nggak ada niat sama sekali buat membalas uluran tangan. "Cabut yuk!" ajak dia ke temen-temennya, lalu langsung pergi duluan. Pipi Kamil langsung memerah – dia merasa malu banget. Tangannya yang tergantung itu terasa berat, lalu dia perlahan menurunkan. "Woy!" teriak Inggit memanggil Titah, tapi tidak dihirau. "Heran deh gue sama dia – diajak kenalan doang juga nggak menghargai!" gerutu Inggit merasa kasihan. "Kamil maaf ya, dia namanya Titah. Emang orangnya kaya gitu, dingin banget," ucap Inggit meminta maaf. "Kayak kulkas yang lagi full pendinginan!" sambung Hawa tertawa. "Oh, iya nggak apa-apa." Kamil jawab dengan suara pelan. "Ya udah, kita duluan ya. Dah, abang Kamil ganteng – lain kali ngobrol lagi ya!" pamit Inggit lalu menyusul Titah, Hawa ikut sesudahnya. Kamil cuma bisa tunjukin senyum paksa. "Astaga! Itu cewek bener-bener ya? Respon sedikit aja nggak? Gue cuma ngajak kenalan, bukan ngajak nikah!" dia bertolak pinggang, kesal. Tiba-tiba Rivan menghampirinya dengan senyum meledek. "Gimana-gimana? Berhasil?" "Enggak usah ketawa lo! Lo nggak lihat tadi? Gue dikacangin abis-abisan! Baru kali ini gue di cuekin sama cewek!" gerutu Kamil sambil menyentuh kepala yang mulai pening. "Sabar-sabar, kan itu tantangannya. Udah gue bilang, dia cewek es batu bukan manusia!" Rivan terkekeh. "Tapi, gue kok makin penasaran ya? Cewek-cewek seantero Nusantara, cuma dia doang yang bentuknya kayak es!" "Nah, kan! Makanya gue suruh lo jalanin tantangan ini – gue juga penasaran!" balas Rivan. "Oke, daripada stres – mending kita ke kelas. Karena pagi ini ada ulangan!" seru Kamil lalu berjalan lebih dulu. "Hah? Emang iya?" Rivan terkejut. "Mil, gue nggak belajar! Gue nyontek aja ya!" teriak dia lalu segera menyusul. **** "Tah, lo kenapa sih? Buru-buru amat. Tadi ada pangeran tampan loh, main tinggal aja!" ujar Inggit. "Terus?" tanya Titah dengan wajah datar, sedang asik baca buku. "Ya kita temenin lah, ngobrol kek, godain kek. Siapa tahu bisa jadi ... ekhem!" Inggit tersenyum sinis. "Ya sudah, godain aja sana. Ngapain ajak gue, nggak guna!" "Pantes lo jomblo terus. Mana ada cowok yang mau sama cewek jutek kayak elo? Iya nggak, Nggit?" sahut Hawa ikut geram. "Yoi, bro! Titah kalo bahas cowok, mukanya langsung asem!" Inggit tertawa terbahak. Titah cuma memutar bola matanya dengan malas, mendengar ledakan kedua temannya. Bel pulang berbunyi, siswa berhamburan keluar kelas. "Tah, lo nggak bawa mobil?" tanya Hawa. "Enggak, mobil gue tadi diambil Mas Reno buat jemput pacarnya ke bandara." "Terus lo balik naik apa?" "Naik bus mungkin." "Nggak mau bareng gue? Gue anterin sampe pintu kamar lo!" tawar Inggit terkekeh. "Kalo bareng lo, nyampe rumah paling sore – banyak mampir muter-muter nggak jelas!" timpal Titah menolak. "Ya namanya jiwa muda! Balik sekolah langsung ke rumah, nggak asik lah. Nongki dulu dong!" sahut Hawa. "Serah lo dua. Gue mau balik, bye!" Titah bergegas pergi. "Hati-hati, Tah!" teriak Inggit. "Awas nanti di bus ketemu jodoh!" sambung Hawa meledek. Titah cuma menggeleng, mendengar sayup-sayup ocehan mereka. Saat Titah masuk bus, semua kursi sudah penuh – dia terpaksa berdiri. Di kursi kanan, terlihat si cowok yang lagi mengincar dia : Kamil. "Titah!" kata Kamil dalam hati. "Kesempatan nih! Tuhan emang paling ngerti deh." "Ekhemm!" dia dehem, lalu menawarkan kursinya. "Titah mau duduk?" Titah tidak menjawab, bahkan tidak melirik sama sekali. Kamil menghela napas, menenangkan diri. "Titah, Kamil nanya – Titah mau duduk?" "Penuh!" jawabnya sinis. "Nggak apa-apa. Kalo Titah mau, biar Kamil yang berdiri." "Nggak usah!" Titah langsung bergeser lebih jauh. "Sinis amat, tapi setidaknya dia jawab pertanyaan gue," gumam Kamil dalam hati. Kalau bukan karena tantangan Rivan, dia pasti tidak mau begini. Tak lama, ada penumpang lansia masuk dan cari kursi. Kamil yang peka langsung berdiri. "Kakek, duduk sini aja!" "Oh iya, dek. Terima kasih ya!" kakek langsung duduk. Kamil berdiri, lalu perlahan mendekat ke Titah – bahkan sengaja berdiri tepat di depannya. "Titah, kita belum kenalan lho. Tadi pagi Titah langsung pergi. Nama aku Kamil, K-A-M-I-L – nggak pake nama panjang, karena nama Kamil udah panjang banget!" dia cerocos memperkenalkan diri lagi. "Ini cowok kenapa sih? Bikin nggak mood aja. Nyesel gue naik bus – seharusnya naik ojol aja!" gerutu Titah dalam hati, lalu memalingkan wajah. Tidak ada niatan sama sekali buat membalas. Karena tak ada jawaban, Kamil terdiam. Tapi matanya tetep menatap Titah, sampe Titah merasa risih. "Nggak usah lihatin gue kayak gitu! Nggak sopan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD