"Kini saya paham, dan ya, saya benci kamu." —Balkon kamar, bersama angin. NADINE'S POV Persetan pada keadaan, aku benar-benar lelah hati maupun fisik. Semuanya menguras energiku. Tidak adakah yang mengerti? Seperti apapun keputusan yang kuambil, itu tampaknya selalu salah. Suara ketukan pintu kamar menyadarkanku, aku bergelung makin rapat dengan selimut. Aku pulang ke rumah sehabis isya semalam, membuat mama memborbardirku dengan banyak pertanyaan. Beruntung papa menahan mama, sehingga aku lepas dan bisa mengurung diri di kamar. "Nadine." Suara mama terdengar memanggil. Aku tidak akan keluar kamar sebelum Aqila pergi sekolah. Kulirik jam di dinding, dan seketika aku terdiam. Tentu saja Aqila sudah pergi, ini sudah pukul sembilan. "Nadine buka pintunya, Nak." Mama lagi-lagi bersuara.

