15

1153 Words
Kurang hadirnya sosok ayah di benak anak perempuan memberi dampak yang cukup besar bagi kestabilan emosi. Seorang perempuan yang tumbuh besar tanpa kasih saying dan perhatian dari ayah akan mengalami gejolak emosi yang labil mulai dari lebih mudah marah, tidak dapat mengontrol emosi sedih, agresif, sampai depresi. Maka dengan itu Sagitarius Yudantha mencoba lebih memahami akan ketidaklabilan yang saat ini tengah Barella alami. Bukan cuma karena kondisinya yang sedang berbadan dua. Namun juga hal lain seperti yang sudah Sagi ketahui. Bila di beri pertanyaan, apakah ini mudah? Maka jawaban diam yang bisa Sagi berikan. Dianggap mudah, ini tidak seperti bayangan orang-orang di luar sana. Berumah tangga dan hanya merasakan manis semata. Jauh lebih dari itu, Sagi harus rela berkorban dan bersabar untuk segala hal. Tidak hanya soal Barella semata. Namun juga banyak hal yang harus dirinya alami. Namun dianggap sulit, itu juga tidak bisa di mudahkan. Karena sesulit apa pun masalah yang saat ini Sagi alami, percaya atau tidak, di luar sana masih banyak orang-orang kekurangan dalam berbagai kondisi untuk setelahnya menyerah. Jika sudah putus asa, apa yang bisa dilakukan lagi? “Mau es krim?” Momen-momen bahagia, sesederhana apa pun itu, akan Sagi nikmati. Semua itu adalah bagian dari proses. Tidak indah bukan artinya buruk. Dan buruk pun belum tentu bermakna kejelekan. Semuanya memiliki takaran porsi masing-masing. Kita yang menjalani dan kita yang bisa memberi nilai. “Rasa apa?” “Mangga.” “Aice?” “Magnum!” Tatapan Barella berubah mengesalkan, bagi Sagi seperti itu. Tapi bukan nding. Di banding tatapan, ini lebih kepada lirikan mematikan. “Berarti cokelat ya Sayang.” Embuskan napas dulu Ferguso. Sebelum mengkis-mengkis. “Mangga.” “Magnum cuma punya cokelat.” “Usaha dong gimana caranya biar ada manga.” Ya Tuhan! Di sangka gue ini Direktur pabrik es krim.” “Kenapa?” Sagi menggeleng. Sudah tahu ke mana arah yang Barella maksudkan. “Mau nyerah?” Nah kan benar. “Makanya jangan bikin aku bunting kalau nggak mau kesusahan.” Ya sekarang bayangin gaes! Nikah tanpa ada nananinu mana bisa. Ayam saja ketemu lawannya langsung main sosor. Lah gue? Hallo! Manusia normal loh ini. Sembari meringis—Sagi pura-pura pasang muka menyesal—dan berbisik: Nak, bisa tolong Papi? Anaknya nggak bakal dengar. Bayi itu asik di dalam perut maminya. Asal nanti keluar semuanya copyan Sagi, rasanya menjadi babu selama masa kehamilan Barella, Sagi ikhlas. “Aku cari buat kamu.” Baik, Barella diam. Asik dengan tontonan kartunnya di tv. Sedang Sagi … mengkis-mengkis. *** Selama perjalanan mencari, Sagi lebih banyak diam. Mulutnya saja yang diam. Tapi otaknya, pikirannya rungsing total. Ada banyak yang Sagi resapkan untuk di jadikan beban pikiran. Maklum sudah ganti status: dari suami ke calon Bapak. Ada fakta yang tak ingin Sagi tampik. Namun juga tidak bisa Sagi benarkan sepenuhnya. Karena Sagi adalah lelaki kolot dengan prinsip semuanya harus seimbang. Fakta membuktikan: Hubungan akan bertahan lebih lama jika pihak laki-laki lebih besar cinta dan perhatiannya daripada pihak wanita. Sebab jika wanita mendapatkan lebih banyak perhatian dan kasih saying, 90% mereka akan menghargainya, dan itu bertahan ‘dalam waktu yang lama’. Tapi jika laki-laki yang mendapatkan perhatian ‘lebih banyak’ daripada perhatian yang ia berikan kepada pasangannya, mereka cenderung akan mengabaikan atau malah menyalahgunakannya. Sedang Sagi lebih banyak berpikir bahwa seharusnya ada kata saling di dalam sebuah hubungan. Karena jika hanya salah satunya saja, akan terjadi ketidakseimbangan. Laki-laki tidak bisa sepenuhnya di tuntut untuk mengucurkan perhatian 100%. Begitu juga dengan pihak perempuan. Ini mungkin soal wewenang yang di salah gunakan. Karena memang begitu yang terjadi saat ini. Banyak dari pihak laki-laki bertindak sesuka hati hanya karena sang perempuan terlalu menunjukkan perasaannya. Laki-laki merasa di atas angina dan menganggap dirinya paling benar. Namun tidak semua laki-laki seperti itu. Ada juga beberapa perempuan yang memperlakukan kepercayaan sang pasangan dengan sesuka hati. Perempuan bisa di katakana lebih kejam dari laki-laki. Saat perempuan di cintai, bisa saja bertindak sesuka hati. Jadi, tidak semuanya bermakna salah dan kalimat yang di tuliskan salah. Namun adanya keseimbangan untuk mempertahankan sebuah hubungan adalah dengan kerja sama. Dan Sagi ingin gila saja dengan tidak menemukan magnum mangga. Lagian orang gila mana, sih yang ngidam magnum mangga?! Oh ya istrinya sendiri. Yang mana ada andil dirinya untuk menciptakan tragedi kebuntingan. *** Sadar atau tidak. Diakui atau tidak. Barella sudah jatuh sejatuh-jatuhnya dalam pesona Sagitarius Yudantha. Lelaki yang dulu pernah amat Barella cinta—bahkan mungkin hingga detik ini—adalah jenis lelaki idaman semua wanita di belahan dunia mana pun. Mengapa demikian? Baik. Akan Barella bongkar sedikit perjalanan hubungan keduanya di masa lalu. Kurang lebih tidak ada beda dengan sekarang ini. Semuanya masih sama dan Sagi masih memperlakukan Barella dengan amat sangat istimewa. Sagi adalah lelaki yang tegas dan identik mengalah bila itu berurusan dengan Barella. Hanya dengan Barella. Sagi akan melakukan apa saja. Julukan Barella untuk dirinya sendiri bila sudah berurusan dengan Sagi adalah; bak kucing dengan majikannya. Manjanya tiada tanding dan Barella senang dengan predikat itu. Tapi, Barella juga lupa. Diantara semua kebahagiaan itu, datang badai untuk menyapa. Semuanya teruji dengan sangat rapi sampai-sampai Barella lupa bahwa selalu ada cobaan di balik senyum yang menawan. Barella juga lupa darimana dirinya berasal dan seperti apa keluarganya memperlakukan. Selama ini, yang Barella tahu hanyalah Sagi satu-satunya manusia yang memedulikan dirinya. Maka tidak menjadi masalah bila hanya melewati hari dengan tawa. Asal bersama Sagi, semua rintangan bukanlah masalah. Namun sialnya adalah, keluarganya yang sungguh tidak ingin melihatnya bahagia, dengan enteng menolak lamaran Sagi di hari itu. Terutama mamanya yang hanya peduli akan uang dan kekayaan. Barella merasa miris dengan kehidupannya. Namun mengeluh bukan satu-satunya jalan. Menjalani setelah menerima apa yang Tuhan gariskan, rasanya sudah paling benar. “Aku dapat.” Kepala Barella terdongak. Melihat wajah Sagitarius yang kuyu namun di paksakan untuk tetap tersenyum. “Mau langsung di makan atau taruh gelas—“ Belum usai penawaran Sagi—karena tahu seperti apa Barella—kali ini harus melototkan matanya kaget. Di pikir-pikir sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal; apa istrinya kesurupan jin penunggu rumah ini? “Aku baru tahu kalau makan es krim kayak gini lebih enak.” Oh okey. Nampaknya ada yang jadi racun makanya Barella jadi kayak kerbau dicucuk. Dan tanpa Sagi sadari, tangannya sudah mengusapi kepala Barella dengan sayang. Saking sayangnya, dalam hati Sagi membatin; bahwa seumur hidupnya, hanya boleh perempuan ini saja yang mentahtai hatinya. Bahwa hanya perempuan keras kepala ini saja yang Sagi izinkan menjajah harga dirinya sampai ke dasar tanah. Hanya Barella Yudantha. Tidak ada siapa pun. Tidak juga maminya. Apalagi orang baru. Pasangan yang sayang, kadang selalu menyebalkan saat perhatian, kalau ngomong panjang sekali, sering ngomel dan kata-katanya juga suka penuh saran dan masukan, padahal itu kadang terasa kurang penting bagimu. Tetapi itu arti perhatian. Pasangan yang kurang sayang, dari sikapnya saja sudah sering mengecewakan. Apalagi kata-kata dan perlakuannya, pasti terasa sering menyakiti hati, tetapi dia takkan pernah menyadari. Karena yang penting baginya adalah dirinya sendiri. “Sayang banget sama kamu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD