Dalam Cengkeraman Kegelapan

1188 Words
Sisa-sisa kesadaran Lopita bagaikan serpihan kaca yang berserakan, memantulkan siluet punggung Leon yang menjauh. Tegapnya sosok itu kini perlahan menghilang, ditelan kilau dingin mobil hitam yang menantinya di luar sana. Setiap meter jarak yang tercipta antara mereka terasa seperti jurang yang semakin dalam menganga di hatinya. Keputusasaan mencengkeramnya dengan kekuatan yang melumpuhkan, merenggut setiap sisa harapan yang mungkin masih bersemi samar. Inikah akhir dari segalanya? Apakah garis takdirnya memang tertulis dengan tinta kelam, tanpa setitik pun cahaya untuk menerangi jalan? "Anda sudah merasa lebih baik, Nyonya?" Suara lembut menyapa, bagai hembusan angin sepoi di tengah badai batin yang berkecamuk. Seorang pelayan hotel wanita berdiri di dekatnya, raut wajahnya menyimpan kepedulian yang sederhana namun terasa asing bagi Lopita. Tatapan Lopita tertuju pada wanita itu, sebuah tusukan iri yang tak terduga menghantam hatinya. Kehidupan sederhana, rutinitas yang mungkin membosankan bagi sebagian orang, kini tampak seperti surga yang tak terjangkau baginya. Dengan anggukan kepala yang hampir tak kasat mata, Lopita memberikan jawaban yang hampa. Tak lama berselang, bayangan seorang pria berbadan besar muncul di sampingnya, lengannya yang kekar siap membimbingnya menuju pintu keluar. Langkahnya terasa berat, setiap gerakan diiringi oleh pertanyaan bisu: ke mana lagi ia akan dibawa? Jurang kengerian mana lagi yang menantinya? Di dalam mobil yang meluncur membelah jalanan kota yang gemerlap, Leon terbenam dalam kesibukan dunia digitalnya. Layar tabletnya memancarkan cahaya dingin di wajahnya yang tampan dan tanpa ekspresi. Namun, di tengah hiruk pikuk data dan angka, sebuah bisikan lirih kembali menyeruak dalam benaknya – suara putus asa Lopita. Jemarinya yang lincah di atas layar tiba-tiba membeku. Sebuah dorongan tak tertahankan memerintahkannya untuk membuka kembali rekaman CCTV dari suite hotel yang baru saja mereka tinggalkan. Layar menampilkan gambar-gambar yang membakar syarafnya: sentuhan lembut yang menjelma menjadi cengkeraman posesif, bisikan-bisikan mesra yang bercampur dengan erangan tertahan, dan tatapan penuh gairah yang kini terasa bagai bara yang membakar penyesalan. Leon menelan ludah dengan susah payah, setiap adegan terasa begitu nyata, membangkitkan kembali sensasi yang campur aduk. Namun, rasionalitas dengan cepat mengambil alih kendali. Ia membanting tablet itu ke samping, suara benturannya memecah keheningan mobil. Lopita bukan lagi urusannya. Wanita itu kini berada di bawah kekuasaan Elson, musuh bebuyutannya. Menolong Lopita berarti menginjak-injak harga dirinya sendiri, terlibat dalam perebutan "mainan" yang sudah jelas menjadi milik Elson. Sebuah pemikiran yang rendah dan menjijikkan bagi seorang Leon. Pintu mobil terbuka, dan Lopita kembali dihadapkan pada kegelapan. Ia didorong masuk ke dalam sebuah bangunan yang asing, indranya langsung diserbu oleh kontradiksi yang membingungkan. Kelap-kelip lampu disko yang menyilaukan mata berpadu dengan bayangan-bayangan yang bergerak liar, menciptakan labirin visual yang menyesatkan. Dentuman musik DJ yang memekakkan telinga memompa irama yang asing ke dalam nadinya yang berdenyut lemah. Di tengah lautan manusia yang berdesakan, Lopita melihat pemandangan yang membuatnya miris. Wanita-wanita berpakaian minim menari dengan gerakan menggoda di setiap sudut ruangan, menjadi objek tatapan lapar para pria. Sebuah ironi yang pahit terasa menggerogoti hatinya. Di tempat seperti ini, di mana tubuh menjadi komoditas dan kesenangan sesaat menjadi tujuan, ia terperangkap. Sebuah doa lirih, permohonan tanpa suara, meluncur dari bibirnya, memohon pertolongan dari kekuatan yang lebih tinggi. Lopita kembali digiring, kali ini menuju sebuah ruangan yang kontras dengan hiruk pikuk di luar. Pintu tertutup di belakangnya, dan keheningan yang tiba-tiba terasa menyesakkan. Di tengah ruangan yang remang-remang, Elson duduk dengan santai di sofa kulitnya yang besar, tatapannya yang dingin dan menusuk langsung menghujam Lopita. Firasat buruk mencengkeram hatinya bagai cengkeraman baja. Insting purba berteriak memperingatkannya akan bahaya yang mengintai. Secara refleks, kakinya mundur beberapa langkah, mencari ruang untuk bernapas, namun punggungnya menabrak dua dinding keras – tubuh kekar para pengawal yang setia mengawalnya bagai bayangan. "Kemari," titah Elson, suaranya rendah dan sarat akan kekuasaan yang tak terbantahkan. Setiap suku katanya terasa seperti perintah yang mengikat. Namun, tubuh Lopita membeku. Ketakutan menjalari setiap inci kulitnya, melumpuhkan setiap otot dan syaraf. Ia bagai rusa yang terhipnotis oleh tatapan ular. Ekspresi tidak senang terpancar jelas di wajah Elson. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya menggerakkan matanya ke arah para pengawal di belakang Lopita. Isyarat sederhana itu sudah cukup. Dengan gerakan kasar, salah satu pria bertubuh besar itu menyeret Lopita mendekat, menariknya tanpa ampun hingga tubuhnya terhempas ke pangkuan Elson. Dengan gerakan posesif, Elson memposisikan kaki Lopita terbuka di antara kedua pahanya yang tegang, sementara jemarinya yang dingin dan licin mulai menari-nari di atas wajah Lopita, menyentuh setiap lekuk dan sudut dengan keangkuhan seorang pemilik. "Kau masih marah padaku karena 'permainan' kita belum selesai?" desis Elson, napasnya menerpa wajah Lopita, membawa aroma alkohol dan kekuasaan yang memuakkan. Ia menggesekkan pipinya yang kasar ke pipi Lopita dengan gerakan yang pura-pura mesra namun terasa mengancam. Tanpa menunggu perintah verbal, kedua pengawal itu memberikan hormat singkat sebelum menghilang di balik pintu, meninggalkan Lopita sendirian dalam cengkeraman predatornya. Lopita hanya bisa memejamkan mata, sebuah tindakan pasrah yang menyakitkan. Setiap perlawanan dalam dirinya terasa telah terkuras habis. Takdirnya terasa begitu kejam, menjadikannya pion tak berdaya dalam permainan keji ini, sekadar objek pemuas nafsu bagi pria yang bahkan tak sudi melihatnya sebagai manusia. Dengan gerakan tak sabar, Elson menarik resleting celananya, suara deritnya memecah keheningan yang tegang. Ikat pinggangnya dilonggarkan, sebuah persiapan yang vulgar dan merendahkan. Ia siap melanjutkan "permainan" yang terputus, seolah Lopita hanyalah sebuah boneka yang bisa diperlakukan sesuka hati. Tubuh Lopita menegang, penolakan yang bisu namun terasa begitu kuat. Sentuhan Elson terasa menjijikkan, membangkitkan rasa mual yang tertahan. Mata Elson, yang tadinya berkilat nafsu, seketika berubah menjadi bara api kemarahan. Tangannya yang semula bergerak lembut di wajah Lopita kini mencengkeram kuat lehernya, jari-jarinya menekan lehernya dengan kejam. "Buat dirimu berguna," desis Elson dengan nada merendahkan, setiap kata bagai cambuk yang mencambuk harga dirinya yang tersisa. Mata basah Lopita menatapnya dengan nanar, menyampaikan keputusasaan yang tak terucapkan. Ia tidak bisa. Jiwanya memberontak, menolak untuk tunduk pada kehinaan ini. Lebih baik mati saat ini, tercekik oleh cengkeraman tangan Elson, daripada terus hidup dalam kehampaan dan perendahan. Hidupnya terasa tak lagi memiliki nilai, hanya menjadi wadah bagi kesenangan orang lain. Melihat Lopita tak bergeming, tubuhnya yang kaku dan tanpa respons, Elson dengan kasar melempar wanita itu ke lantai, bagai membuang sampah yang tak lagi berguna. "Kau sangat tidak berguna!" geramnya penuh kejijikan sambil mencengkeram kuat rahang Lopita, memaksa wajahnya mendongak. Kemudian, dari saku celananya, ia mengeluarkan sebutir pil kecil berwarna putih. Tanpa ampun, ia memasukkan paksa pil itu ke dalam mulut Lopita, memastikan pil itu tertelan dengan paksa. Lopita tersentak, tubuhnya menegang. Ia terbatuk-batuk, berusaha memuntahkan obat asing yang terasa membakar kerongkongannya, namun usahanya sia-sia. Cairan pahit itu telah merasuki tubuhnya. Sementara itu, Elson dengan murka menanggalkan semua pakaiannya, tubuhnya yang telanjang berdiri di atas Lopita yang terkapar, siap menerkam mangsa yang tak berdaya. Tak butuh waktu lama, efek obat itu mulai terasa. Pandangan Lopita mulai kabur, dunia di sekelilingnya berputar tak karuan. Kesadarannya masih ada, namun tubuhnya terasa seperti bukan miliknya lagi, terlepas dari kendali pikirannya. Kali ini, Elson benar-benar membabi buta, melampiaskan nafsunya tanpa peduli akan harga diri Lopita, apalagi kenyataan bahwa sentuhan Leon telah merenggut kesuciannya lebih dulu. Dalam kegelapan yang mulai merayap di benaknya, Lopita merasa diperlakukan seperti seorang p*****r rendahan, seseorang yang tak lagi memiliki kehormatan, tak lagi memiliki jiwa. Ia hanyalah sebuah objek, sebuah wadah kosong yang dipenuhi dengan kehinaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD