Torro tetap berada dalam kamar Rendy sampai sang pemilik benar-benar telah pergi meninggalkan rumah. Penyebabnya? Torro sudah kehilangan muka untuk menyusul Rendy dan mendebat lebih jauh tentang apa yang mereka pertengkarkan barusan.
Dirinya telah kalah. Rendy memang berhak menolak permintaannya. Kini Torro harus memikirkan cara lain dalam membantu Ruslan menghadapi masalah---sayangnya, Torro tahu apa opsi lain tersebut dan tak senang dengan peluang keberhasilannya.
Ketika Torro memutuskan turun ke lantai bawah, yang tersisa di rumah hanyalah adik perempuan serta ibu sambungnya. Anggi tengah menikmati sarapan berupa nasi goreng di meja makan, sementara Puspa menyiapkan mobil di luar---mengeluarkannya dari garasi dan memanaskan mesin.
“Pagi, Mas Torro!” Anggi manyapa kala menyadari kedatangan mendiang kakaknya. Anak perempuan tersebut sudah mengenakan seragam sekolah dan sepatu, tas punggungnya tergeletak di atas kursi di dekatnya.
“Pagi juga, Dek,” timpal Torro kalem lalu mengisi salah satu kursi. Hanya untuk berbasa-basi, Torro bertanya, “Kamu lagi sarapan apa?”
“Nasi goreng sama telur ceplok,” jawab Anggi, menyendok isi piring dan menyuapkan ke dalam mulutnya. Ia lalu mengamati sosok kakak tertuanya. “Mas Torro kenapa? Kok cemberut? Lagi banyak pikiran, ya?”
Torro mengulum senyum, terkadang ia begitu lupa bahwa adik perempuannya ini jauh lebih peka dan cerdas dari anak seusianya. “Iya, kurang lebih begitu.” Ia terdiam menimbang-nimbang, masih yakin tak yakin dengan rencana yang tersusun di kepalanya. Sesaat berselang, Torro menemukan dirinya bertanya, “Dek, Mas boleh ikut ke sekolahan kamu?”
“Boleh.” Anggi nyengir, tapi kemudian terlihat bingung. “Tapi buat apa Mas mau ikut?”
Iseng, Torro mencoba menyentuh sebuah gelas di atas meja, tentu saja percobaannya gagal---jemarinya tetap menembus benda tersebut. “Mas mau ketemu sama Donovan, ada perlu … sesuatu. Mas mau minta tolong hal lain lagi sama dia.”
Raut wajah Anggi bertambah bingung, barangkali ingin tahu permintaan tolong apa lagi yang dinginkan kakaknya. Namun sebelum ia bertanya lebih jauh, terdengar suara langkah kaki mendekat dan sekejap saja ibunya menghampiri.
“Anggi, ayo makannya cepetan dihabisin,” ujar Puspa, mengambil gelas berisi air teh hangat yang tadi Torro coba sentuh dan meminum isinya hingga habis. “Jalanan pasti bakalan macet, kamu gak mau telat ke sekolah, kan?”
“Iya, Mah.” Anggi cepat-cepat menghabiskan sarapannya, jadi tak ada waktu lagi untuk mengobrol lebih lama, yang bagi Torro, merupakan sebuah keberuntungan.
Bukan berarti Torro tak mempercayai adiknya, atau menganggap Anggi masih terlalu kecil untuk ikut-ikutan tahu, tapi Torro tak berniat sama sekali memberi tahu Anggi mengenai masalahnya yang terbaru. Sudah pasti Anggi tak mengenal Ruslan dan memang tak diperlukan untuk saling mengenal.
Hanya saja, Torro berpikir ia bercerita pun tak akan berguna banyak. Anggi takkan bisa memberinya sekedar saran yang bermanfaat, masalah yang Torro dan Ruslan punya terlalu serius untuk direnungkan seorang anak SD.
Lagian, Torro tidak ingin memperburuk citranya di mata adik-adiknya lebih jauh lagi. Sudah cukup Rendy saja yang menganggapnya begitu---sosok saudara yang mengecewakan dan biang onar, Torro tak mau kalau Anggi pun berpendapat serupa.
Rumah praktis kosong saat mereka akhirnya pergi. Sekali lagi Torro ikut menumpang duduk di kursi belakang mobil, memandang aktivitas pagi warga Jakarta di jalanan selagi kendaraan beroda empat itu melaju. Para pekerja memadati halte bus, pejalan kaki menunduk memandangi layar ponsel mereka sambil berjalan dan anak-anak sekolahan berlarian di tepi jalan.
Dalam ketermenungannya, Torro berusaha mengumpulkan kepercayaan diri. Ia harus optimis bahwa rencananya akan berjalan baik, bahwa Donovan sekali lagi akan bersedia membantunya: yakni membuka mata batin Ruslan.
Memang, hatinya sempat menolak rencana tersebut. Itu tidak benar. Tak bijak menyeret orang baru dalam perkara ini. Tak bagus jika harus membuat Ruslan ikut menyadari hantu Torro bergentayangan, Rendy saja tadi menyuarakan ketidak setujuannya. Namun, pilihan apa lagi yang Torro punya? Keadaan memaksanya mengambil pilihan demikian.
Torro berjanji dengan dirinya sendiri bahwa ia akan menyelesaikan masalah yang ditimbulkannya semasa hidup sebelum ia benar-benar pergi dari alam ini. Ini bisa saja langkah yang tepat dalam memenuhi janji tersebut. Toh Ruslan bisa menutup matanya kembali setelah perkara yang ada terselesaikan, dan Torro pun dengan begitu bisa jadi lebih tenang menikmati sisa waktu yang dimilikinya.
Masih ada perkara perceraian orang tuanya---tentu saja, tapi itu perkara di kemudian hari.
Hari telah bertambah terang, matahari mulai meninggi posisinya di langit. Suasana sekolah tampak ramai dan normal kala mobil terhenti dan Anggi serta Torro turun dari mobil. Aura semangat khas menjelang libur akhir pekan menggelayuti udara. Puspa memberi Anggi ciuman perpisahan dan berjanji akan menjemputnya setelah kegiatan sekolah hari ini usai, dan ibu mereka kembali melajutkan mobil di jalanan.
“Oke,” Torro berkata, memandangi keramaian di sekelilingnya. “Jadi di mana Donovan berada?” Matanya memicing meneliti tiap siswa berseragam putih abu-abu.
“Mungkin di tempat biasa,” sahut Anggi, kepalanya harus mendongak menatap Torro. “Di bawah pohon dekat lapangan olah raga kayak waktu itu. Mas Torro mau Anggi temenin cari Kak Devan atau bisa sendirian?”
“Mas bisa sendirian.” Torro memutuskan, toh ia juga masih ingat arah ke lapangan olah raga. “Kamu langsung pergi ke kelas aja, siapa tahu jam pelajarannya bakal dimulai sebentar lagi.”
Tepat waktu dengan keluarnya kata-kata itu, beberapa siswi SD menghampiri Anggi dan mengajaknya bicara. Pasti mereka teman sekelas adiknya. Torro memberi Anggi tatapan meyakinkannya yang terakhir dan berkata, “Pergi aja, yang semangat belajarnya.”
Anggi pun segera menghilang bersama sekumpulan teman-temannya.
Torro memulai pencarian. Menembus kerumunan.
Tiap kali menembus sesosok tubuh manusia hidup, Torro sebenarnya tak merasakan apa-apa, tapi ia mulai bertanya-tanya apa orang yang ditembusnya mengalami sensasi aneh yang lebih kuat. Sebab tiap kali terjadi, orang tersebut berjengit, terlonjak dan menoleh ke sana kemari sambil mengusap tengkuknya. Mungkin ini satu-satunya cara bagi Torro agar kehadirannya dapat dirasakan oleh orang awam tanpa bakat mistis luar biasa. Torro tak berniat melakukannya---sungguh, tapi keramaian begitu padat sampai ia tak bisa menghindari tubuh mahluk hidup.
Sesampainya di lapangan, Torro menemui bahwa Anggia benar. Donovan ada di sana, di bawah naungan salah satu pohon, terduduk di atas rumput sambil membaca buku. Lokasinya sama persis dengan waktu kali pertama Torro menjumpai anak itu. Barangkali pohon itu adalah pohon keramat sang anak indigo atau apalah, Torro benar-benar tak mengerti kenapa siswa tersebut betah sekali berdiam diri di sana. Dan kenapa harus sambil membaca buku? Dasar kutu buku, batin Torro.
Donovan tak meliriknya sama sekali, bahkan ketika Torro sudah berada sangat dekat dengannya.
“Kali ini apa mau Kakak?” Donovan bertanya tanpa memalingkan wajah, matanya tetap terpancang pada buku yang terbuka.
Anak ini ajaib betul, Torro berpikir takjub. Donovan belum melihatnya, tapi tahu akan keberadaannya. Barangkali berkat indera khusus pendeteksi hantu miliknya---kalau sesuatu semacam itu benar-benar ada.
Torro putuskan untuk langsung berkata jujur. “Gue mau minta tolong lo buat bukain mata batin seseorang lagi.”
“Siapa?”
“Seorang teman dekat.”
“Dan kenapa saya harus mau ngelakuin itu?”
Torro tak lantas menjawab, karena tak ada jawaban bagus untuk pertanyaan itu. Kenapa siswa SMA ini harus membantunya? Tiba-tiba Torro merasa bahwa pola pembicaraan yang dilakukannya dengan Rendy tadi pagi akan terulang lagi di sini. Peluang tersebut tak menenangkan hatinya. Dalam beberapa hal Donovan dan Rendy punya kesamaan, salah satunya: bermulut pedas jika mereka mau.
“Karena lo ini seorang indigo?” Torro asal saja memberi alasan. “Dan udah sepatutnya kaum kalian membantu urusan tak terselesaikan para arwah yang baru meninggal? Seharusnya itu jadi kewajiban kalina, kan?”
Barulah Donovan mendongakkan kepala menatapnya. “Kaum kami? Saya gak merasa berkewajiban ngebantu Kakak.” Ia mulai memberesi barangnya, hendak bergegas pergi.
Sadar bahwa ucapan sebelumnya keliru, Torro buru-buru berkata, “Oke, gue minta maaf. Tolong jangan kabur. Masalahnya cuman lo orang yang gue kenal bisa membantu, Anggi sendiri---lo tau dia belum bisa buka mata batin orang.”
Donovan menghentikan gerakan tangannya. Angin yang berembus di antara pepohonan membuat rambutnya turut melambai-lambai. Ia lalu menghela napas. “Kasih tahu saya, kenapa Kakak harus banget berkomunikasi sama temen Kakak ini? Dan bukannya ada Kak Rendy yang bisa bantu jadi perantara sekarang? Anggi bilang mata batin Kak Rendy udah berhasil terbuka, kan? Dia udah bisa lihat Kak Torro?”
“Iya emang.” Torro turut duduk di antara rerumputan. “Tapi dia gak mau bantu.” Dirinya pun menceritakan secara singkat perdebatan tadi pagi.
Mata Donovan semakin menyipit selagi mendengarnya. “Yah, Kakak gak bisa salahin Kak Rendy, kan? Masalahnya emang gak ada sangkut pautnya sama dia.” Ia membenarkan letak kaca matanya yang bertengger miring di hidung. “Tapi Kak Rendy masih baik-baik aja, kan? Dia gak berminat sama sekali buat tutup mata batinnya lagi setelah tahu resikonya?”
Lagi-lagi pertanyaan yang tak bisa dijawab langsung. Torro hanya terdiam.
“Kak Rendy belum tahu?” tebak Donovan, nadanya menyiratkan bahaya. Air mukanya dua kalilipat lebih serius. “Dia belum tahu resikonya? Padahal udah saya minta Anggi buat menyampaikan itu kemarin!”
“Gue yang ngelarang Anggi ngasih tahu itu.” Torro berusaha agar nada suaranya tak terdengar merasa bersalah. “Rendy belum tahu, soalnya kalau Rendy sampai tahu, bisa-bisa dia---”
“Kakak egois,” potong sang anak indigo. “Cuman demi kepentingan Kakak sendiri, Kak Rendy bisa dalam bahaya besar, dia bisa-bisa melihat mahluk yang gak akan pernah mau dia lihat! Bisa Kakak bayangkan gimana efeknya nanti kalau itu terjadi?”
Torro menggeram, mengepalkan kedua tangannya. “Dia bisa tanggung resikonya.”
Donovan sontak berdiri. “Kakak gak bisa tahu itu secara pasti! Astaga, saya gak percaya sempat bersedia bantu Kakak kemarin. Mungkin nanti saya yang harus datangi Kak Rendy langsung buat ngasih tahu dia resikonya.”
“Jangan!” seru Torro panik. Jaring keputus asaan seolah mulai membelit eksistensinya.
Donovan tetap beranjak pergi … bukan seketika menemui Rendy, melainkan menuju kelasnya sendiri.
Setelahnya, Torro terus menerus membuntuti Donovan ke mana pun anak itu pergi. Ke dalam kelas, kantin sekolah mau pun perpustakaan. Termasuk toilet, walau Torro tak ikut-ikutan masuk. Torro berupaya meyakinkan anak itu agar membantunya, bukan malah berusaha membantu Rendy menutup mata batinnya lagi.
Sial bagi Torro, kali ini Donovan malah bersikap seolah tak bisa melihat dan mendengarnya. Bahkan melirik padanya pun tidak, tampaknya sudah bertekad bulat untuk tak menggubris lagi keberadaan Torro.
Selama berjam-jam Torro mencoba, tapi tak membuahkan hasil sama sekali. Menjelang jam pulangnya sekolah Anggi, ia putuskan untuk menyerah. Meski muncul godaan untuk meneror Donovan lebih lanjut, Torro tahu aksi itu tak dapat dibenarkan. Layaknya Rendy, Donovan juga punya hak menolak bantuannya.
Torro teringat kisah-kisah seram yang pernah didengarnya semasa hidup. Tentang arwah orang baru meninggal yang menangis tersedu-sedu mendambakan kehidupannya kembali. Bisa saja sebentar lagi dirinya akan bertindak serupa. Peluangnya sangat besar untuk hal itu terjadi.
Dengan penuh kekalahan---di saat Donovan tengah mendengarkan penjelasan guru dalam sebuah mata pelajaran di kelas---Torro berkata, “Oke, gue nyerah. Gue gak akan gangguin lo lagi, tapi gue cuman minta satu hal terakhir:tolong jangan samperin Rendy dan ngasih tahu resikonya. Biarin mata batin dia tetep terbuka untuk sementara ini. Gue yang bakal ngasih tahu dia … pas sisa waktu gue bergentayangan di dunia ini hampir habis. Dia sendiri yang bakal datengin lo nanti.”
Mata berbingkai kacamata Donovan tetap lurus menatap ke papan tulis depan kelas, mulutnya tertutup rapat, tapi dagunya bergerak naik turun---memberi anggukan samar.
Bagus. Hanya itu kesepakatan terbaik yang bisa Torro dapatkan hari ini. Tak ada lagi peluang untuk membantu Ruslan, tapi setidaknya ia masih bisa berkomunikasi dengan Rendy lebih lama lagi.
Sewaktu berusaha menemui adiknya, Torro baru tersadar bahwa ia tak mengetahui lokasi persisnya kelas Anggi. Jadi ia hanya menunggu di depan gedung SD sampai sang adik sendiri yang menghampirinya.
“Mas Torro udah ketemu sama Kak Devan?” tanyanya dengan mata yang memerah kelelahan. Barangkali gurunya telah mengadakan ujian mendadak lagi.
“Udah,” Torro menyahut, jelas-jelas tak terdengar antusias bahkan di telinganya sendiri. “Urusan Mas sama dia udah selesai.”
Anggi tampaknya menyadari ada yang tak beres. “Beneran, Mas? Apa Kak Devan bersedia bantu Mas Torro lagi?”
Dengan merana Torro menggeleng. “Dia gak mau.”
“Mau Anggi bantu? Mungkin kalau Anggi langsung yang ngomong sama Kak Devan ….” Ia menggigit bibir bawahnya.
“Gak usah, Dek.” Torro tak ingin membebani pundak adik perempuannya dengan sekelumit masalah yang ia punya, lagi pula sepertinya Donovan tak akan berubah pikiran oleh apa pun. Bakal sia-saia saja kalau mencoba. “Donovan emang punya hak buat menolak permintaan tolong Mas. Ayo, kita pulang aja sekarang. Mungkin Mamah udah nunggu di depan.”
Keduanya pun bergerak menuju halaman parkir di depan sekolah. Hati Torro tetap terasa sesak seakan tengah ditindih sebongkah batu besar seberat satu ton.
***