33. Diskusi Tengah Malam

1537 Words
“Gue pengen tidur.” Rendy coba-coba meloloskan diri, menghindari keharusan menghabiskan waktu semalaman demi meladeni omongan mendiang kakaknya. “Besok aja ngobrolnya.” Jelas saja Torro tak menanggapi serius pengakuan itu. Sang hantu menaikkan sebelah alisnya. “Sesorean tadi kan lo udah tidur, Ren. Masa udah ngantuk lagi? Jangan coba-coba menghindar, lo udah gak takut sama gue, kan?” “Gue gak takut,” jelas Rendy menekan, meski dirinya memilih tetap menjaga jarak aman. Rendy menduduki belahan tempat tidur yang sejauh mungkin dari arwah gentayangan itu. Kaki-kakinya yang melekat pada lantai mengarah ke pintu, untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu dirinya harus berlari terbirit-b***t dan kabur. “Gue cuman ngeri, gak seharusnya ini terjadi. Lo udah meninggal.” Raut wajah Torro menjadi sendu, rupanya tak suka diingatkan akan fakta itu, dia menunduk menatap jemarinya, seakan tengah mencoba merasakan aliran darah atau denyutan nadi di dalam sana. Jelas tak ada. Jasad kakaknya masih berselimut kafan, tertimbun tanah di luar sana. Seminggu lebih telah berlalu sejak hari pemakaman, proses pembusukan pasti sedang mencapai puncak. Belatung, cacing dan mahluk mikro organisme pemakan bangkai lainnya tengah berpesta besar-besaran saat ini. Bulu di sekitar bahu Rendy berdiri. Mengapa oh mengapa otaknya memikirkan ini? Tepat di hadapan sang pemilik jasad itu sendiri? Karena---sisi logis di dalam kepala Rendy mencoba memberi jawaban---semua ini benar-benar tak lazim. Tak semua orang dapat memiliki kesempatan bertegur sapa kembali dengan sanak saudaranya yang baru saja mengembuskan napas terakhir---dalam wujud roh. Otak kusutnya berusaha sebaik mungkin mencerna kenyataan ini, tapi kewalahan pada prosesnya karena ada begitu banyak hak tak terjelaskan, rahasia tersembunyi, dan kebenaran yang terkubur---dan Rendy ragu ia ingin mengetahui kesemuanya. Kalau dipikir-pikir lebih dalam lagi, orang-orang sejenis Donovan dan Anggi bukan main seramnya. Mereka dapat menjelajah ke alam lain, alam yang banyak orang anggap enteng sebagai bahan hiburan manusia pecinta horor. Nyatanya? Alam kematian itu sungguh luas dan besar, seperti yang kini Rendy hadapi. Dirinya dan Torro berada di ruangan yang sama, pada waktu yang sama, tapi keadaan mengungkapkan bahwa keduanya berada di alam berbeda---realitas berbeda. Berkat bakat ajaib Donovan-lah kabut pemisah antara dua alam itu tersingkap bagi keduanya. Rendy tak tahu apa ia harus berterima kasih atau menonjok muka siswa itu jika nanti ada kesempatan bertemu dengannya lagi. “Gimana rasanya meninggal?” tanya Rendy tiba-tiba, pertanyaan itu melintas begitu saja dalam benaknya. Torro menyipitkan mata, pasti tak menduga munculnya pertanyaan ini. “Rasanya sakit, atau mungkin itu cuma efek dari kecelakaan yang gue alami. Mati, rasanya malah … kayak kebebasan. Semua kesakitan fisik gue lenyap, nyisain dingin dan kebas---juga ringan. Campur aduk. Prosesnya ….” Ia menghentikan ucapannya. “Prosesnya?” pancing Rendy, tanpa disadari tubuhnya condong mendekat, memandang sosok kakak lelakinya penuh ingin tahu. “Gue gak bisa jelasin secara pasti,” aku Torro jujur. “Waktu rasanya berjalan sangat lambat. Gue keinget rasa kesepian yang kayaknya bakal bertahan selamanya. Terus tiba-tiba aja gue kebangun di kamar gue sendiri, seminggu udah berlalu sejak gue mati.” “Gitu aja?” Rendy mengerutkan kening, agak kecewa. Padahal dirinya menyangka akan mendengar rentetan adegan dramatis pasca kematian. “Lo gak ngelihat kilasan masa lalu hidup lo sendiri terbang di depan mata? Atau lihat sosok tinggi bertudung hitam bawa tongkat sabit pencabut nyawa atau gimana?” Pertanyaan yang Rendy ajukan lumrah untuk disebutkan, tapi Torro malah menanggapinya dengan ekspresi menahan geli. “Gue gak lihat malaikan pencabut nyawa, kalau itu yang lo mau tahu. Tapi gue emang sempat ngelihat kilasan masa lalu, dan beberapa. Intinya, itu gak penting. Gue mau ngajak lo bicara buat ngobrolin hal ini.” “Tapi gue tetep mau tahu.” Rendy bertahan, rasanya melegakan mengetahui ia masih bisa bersikap keras kepala. “Apa yang terjadi malam itu? Pas lo kecelakaan, itu beneran lo lagi di perjalanan mau pulang? Bukan pergi ke trek balapan, kan? Terus selama jadi hantu lo udah lihat apa aja? Merhatiin kejadian apa?” Begitu banyak yang ingin ditanyakan sekaligus, tapi Rendy memutuskan melontarkannya sebagian demi sebagian agar Torro tak kewalahan dalam menjawab. “Oke, oke,” Torro mengalah dengan sikap lembut. Benar-benar bukan gaya Torro ketika masih hidup. “Kalau lo mau tahu detilnya, bakal gue jelasin panjang lebar.” Dan mulai bertuturlah sang hantu, mengenai segala hal yang terjadi sejak sambungan telepon dengan Rendy berakhir malam itu. Tanpa harus diakui, membicarakan petengkaran terakhir mereka memang memberatkan hati dan membuat jengah, Rendy harus buang muka ke arah lain karena tah mau terus-terusan menatap kakaknya. Namun selagi Torro bercerita, mau tak mau rasa penasaran dirinya tergugah oleh hal-hal lain. “Lo berkendara setengah mabuk,” Rendy berkomentar ketika Torro bercerita pengalamannya yang sakit kepala dan pandangan mata berkabut sesaat sebelum terjadinya kecelakaan. “Pihak polisi bilang di badan lo terkandung banyak minuman alkohol.” Alhasil Torro meringis. “Kebanyakan minum Vodka sialan.” “Jangan salahin minumannya,” Rendy memprotes, sedikit marah. “Lo tahu kebiasaan lo itu gak disetujui Mamah, apalagi Papah. Tapi tetep aja lo tenggak itu minuman, akhirnya begini kan.” “Gue tau, gue nyesel gak denger omongan bokap kita dulu.” “Terlalu terlambat buat menyesal.” Rendy menghela napas, lalu membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. “Ya udah, lanjut. Lo ngerasa sakit kepala, mata berkunang-kunang, terus apa?” “Gue gak sadar kalau di depan lampu lalu lintas udah merah,” lanjut Torro dengan tegang. “Motor gue tetep ngebut, gak mengurangi kecepatan. Yang gue tau, ada mobil truk gede yang ngehantam gue dan … yah, sakitnya luar biasa.” Torro pun melanjutkan kejadian berikutnya menurut sudut pandanganya. Nyeri menjadi-jadi, tulang yang patah dan bengkok, kepala yang membentur aspal jalan meski memakai helm, dan kegelapan yang menyerbu dari segala penjuru secara tiba-tiba. Saking realistisnya pemaparan yang Torro berikan, tangan rendy spontan mengelus-elus sekujur badan. Mensyukuri bahwa tak ada rasa sakit yang terasa di bagian mana pun. Rendy berusaha mendengarkan dalam diam, membayangkan apa saja yang sudah menimpa pria malang di hadapannya ini. Rendy jarang merasa kasihan pada sosok di hadapannya ini, tapi di sinilah ia sekarang, begitu penuh simpatik. Kemudian Torro lanjut bercerita peristiwa terbangunnya ia sebagai arwah di kamar tidurnya sendiri setelah satu minggu terlewati semenjak hari kematiannya. “Kok bisa?” Rendy menyuarakan kebingungannya. “Lo gak tahu di mana aja lo selama seminggu awal itu?” Torro menggeleng. “Gak. Sama sekali gak inget. Blank total. Si Donovan---anak yang buka mata batin lo itu---dia kayaknya tahu apa yang terjadi, tapi gue gak mau desak dia buat cerita. Gue gak yakin mau tahu. Udah berhari-hari gue berkeliaran dalam keadaan begini, gak bisa dilihat siapa-siapa sampai gue akhirnya menemukan kalau Anggi itu anak yang spesial.” Spesial. Pemilihan kata yang menarik. Rendy juga lebih menyukai penyebutan kata tersebut untuk mendeskripsikap bakat lebih adiknya ketimbang ‘aneh’ atau ‘abnormal’. Rasa penasaran rendy lagi-lagi tergelitik. “Gimana sensasinya jadi hantu?” Sekali ini Torro memutar bola matanya. “Lo bener-bener pengen tahu?” “Ya pasti. Apa lo bisa nembus dinding? Teleportasi ke tempat mana pun? Ngerasukin tubuh orang? Gerakin benda-benda pake pikiran doang?” Torro tertawa. “Lo kebanyakan nontol film fantasi, Ren. Tapi … yah, nembus dinding? Bisa. Teleportasi? Udah gue coba, gak bisa. Ngerasukin tubuh orang belum pernah kepikiran. Soal gerakin benda pake pikiran ….” Torro menelengkan kepala. “Ada saat-saat gue ngerasa bisa ngelakuin itu, tapi cuman pas gue lagi begitu marah dan emosi sama sesuatu.” “Gelas kemarin,” Rendy mengingat-ingat, “tiba-tiba aja jatuh dari meja setelah gue sama Anggi adu mulut … itu ulah lo?” Sang hantu tak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. “Ya, gak secara sengaja. Gue begitu marah sama lo waktu itu karena sama sekali gak percaya sama omongan Anggi. Dia bicara yang sejujurnya sejak awal, Ren.” Rendy lagi-lagi menundukkan kepala, sedikit malu. Tingkahnya kemarin memang agak berlebihan. Dan jika Torro memang memperhatikan segala yang terjadi di rumah ini beberapa hari belakangan …. “Apa lo nyaksiin Mamah sama Papah berantem beberapa malam kemarin?” tanya Rendy. Topik sensitif, keduanya menjadi lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata. “Gue lihat dan dengar secara langsung pertengkaran mereka,” Torro membenarkan. “Situasinya kacau banget. Ucapan lo bener selama ini, hubungan mereka emang makin buruk. Parahnya, gue-lah penyebab mereka adu mulut. Papah ngira Mamah gak becus ngurus gue sampai jadi anak berandalan begini. Padahal itu gak bener. Ren, semuanya salah gue. Mamah gak salah apa-apa.” Nada suara Torro begitu menggebu-gebu dan sarat penyesalan. Ia mengatakannya dengan begitu tulus sampai Rendy tak bisa marah. Juga, melihat Torro membela ibunya, yang adalah ibu tiri bagi kakaknya ini, membuat hati Rendy melunak. “Anggi bilang lo punya rencana,” kata Rendy sesaat kemudian. “Planning buat bikin orang tua kita akur lagi.” “Awalnya,” Torro mengakui. “Gue sempat kepikiran beberapa rencana, tapi setelah dengar pengakuan lo tadi di meja makan … ya ampun! Gue bener-bener belum percaya kalau Papah bisa ngelakuin tindakan sepengecut itu!” Dalam hati Rendy masih terasa sakit hanya dengan mengingatnya lagi. Lalu Rendy memperhatikan bahwa Torro menatapnya lembut, raut mukanya menjadi tak yakin dan ragu-ragu. Sudah diduganya, kenyataan adanya tindak KDRT ikut membuat Torro pesimis akan peluangnya menyatukan orang tua mereka kembali. “Jadi, lo gak punya rencana sama sekali?” Rendy bertanya lagi. Torro mengedikkan bahu. “Ada, gue gak yakin sama peluangnya---tapi, demi Anggi, harus kita coba.” Ia terdiam selama beberapa detik. “Lo mau bantu kan, Ren?” Rendy mengerang, sama-sama tak antusias untuk mencobanya. Masalahnya, ia dan Anggi juga telah membuat kesepakatan kecil tadi. Janji untuk berusaha membuat keadaan lebih baik. Gadis kecil itu takkan mau melihat kedua kakanya menyerah sebelum mencoba. Demi Anggi, batin Rendy bertekad. Ia pun mengangguk. “Bakal gue bantu.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD