18. Rencana Anggia

1416 Words
Selagi Anggi mandi dan berganti pakaian, Torro menikmati kesendiriannya menekuri apa yang tengah berlangsung. Ia seharusnya beruntung, dirinya tak lagi merasa kesepian karena ada seseorang yang bisa diajaknya bicara dan berbagi pikiran. Tak perlu melamun di garasi hanya ditemani motornya yang rusak. Namun, Torro merasa Anggi bukanlah rekan diskusi yang tepat. Topik obrolan yang bisa mereka bahas sangatlah terbatas. Apalagi---Torro harus terus menerus mengingatkan diri sendiri tentang hal ini---Anggi tidak tahu menahu soal proses perceraian orang tuanya. Yang Anggi tahu ayah dan ibunya hanya sering bertengkar, tapi tak sampai memutuskan berpisah. Torro mengetahui ini dari percakapan Rendy dan ibunya yang ia curi-dengar kemarin sore. Di mata Torro sendiri Anggi bukanlah anak kecil biasa, mentalnya sudah ditempa sejak kecil menanggung beban berat yang harusnya dipikul orang dewasa---bahkan mungkin orang dewasa sekali pun tak sanggup melaluinya. Terbukti adiknya itu mampu menghadapi kondisi istimewanya secara mandiri, lalu menyembunyikan rahasia soal kemampuannya selama bertahun-tahun dari keluarganya sendiri. Sejujurnya? Torro menganggap Anggi juga berhak mengetahuinya sejak sekarang, tapi ia tak ingin jadi orang yang memberitahu adiknya hal itu. Bisa-bisa Anggi menangis penuh emosi, dan Torro tak tahu harus bagaimana menghadapinya atau melakukan apa untuk menghibur Anggi jika itu sampai terjadi. Adik kecilnya pasti tabah menerima kabar perceraian ini, Torro yakin itu. Hanya akan bersedih sesaat, setelah itu Anggi pasti mau bekerja sama membuat ayah dan ibunya kembali bersama. Hanya saja, kadang Anggi masih memancarkan keluguan khas anak-anak, hal ini membuat Torro tak tega memberitahunya langsung. Biar bagaimana pun adik lo ini masih kecil, nuraninya seolah mengingatkan. Belum waktunya buat dia tahu. Tanpa tahu harus berencana apa, Torro mengikuti Anggia turun ke lantai bawah untuk makan. Ia menempati kursi yang bersampingan dengan adiknya. p****t hantunya tak bisa merasakan tekstur permukaan kursi tentu saja, dan Torro tak punya jawaban: kenapa ia tak bisa menyentuh benda padat tapi kaki dan pantatnya bisa berpijak di permukaan? Hukum alam dunia gaib yang jelas Torro takkan mengerti. Tanpa bicara Torro amati adiknya yang sedang menuangkan seporsi kecil nasi ke piring. Anggi sepertinya memang sudah sering bertemu dengan hantu untuk tahu bahwa roh orang mati biasanya tak lagi memiliki selera makan, soalnya gadis kecil itu tak menawari Torro hidangan apa pun yang ada di atas meja. “Mamah sama Papah kok masih belum pulang, sih?” keluh Anggi sesaat kemudian sembari mengunyah---mulutnya penuh, kadang-kadang ia melirik ke luar jendela di mana hujan tampaknya masih turun dengan lebat, dan terkadang terdengar suara gemuruh yang teredam di kejauhan. “Mas Rendy bilang ada urusan, tapi ke mana?” Torro menjawab pertanyaan Anggi di dalam benaknya: masih ngurus perceraian. Tapi Torro pun agak ragu dengan tebakannya sendiri. Ia memang tak tahu apa-apa soal tingkatan proses perceraian, tapi di sidang pertama tak mungkin makan waktu selama ini, kan? Mungkin sidang perdana perceraian itu sudah selesai sejak tadi, dan sekarang kedua orang tuanya sedang entah di mana. Di tempat berbeda, menenangkan hati dan perasaannya. Sekaligus mengabaikan kedua anak mereka yang masih hidup di dalam rumah yang sebenarnya membutuhkan perhatian. Rasa kesal pada orang tuanya kembali Torro rasakan. “Mas juga gak tahu,” kata Torro tak sepenuhnya berbohong, menjawab sekenanya. “Mungkin Papah masih kerja, sementara Mamah … hmm, pergi ke acara arisan temen mungkin?” Anggi terkikik geli. “Enggak mungkin, Mamah gak suka main arisan.” Torro mengedikkan bahu tak acuh. “Mas gak tahu kalau begitu.” Suasana sesaat hening. Torro biarkan adiknya makan tanpa diinterupsi apa pun. Ia fokuskan matanya ke jendela, air hujan membuat aliran-aliran air kecil di permukaan luar kaca. Sekali-kali dipikirkannya hal apa saja yang bisa dibahas dengan Anggi untuk mengusir sunyi. Otaknya terasa macet---itu pun kalau sesosok hantu masih punya otak, dan ia tak bisa memikirkan apa pun. Saat masih hidup Torro jarang sekali menyempatkan waktu untuk bergaul dengan adik-adiknya, sehingga saat ini ia kesulitan menemukan cara mengakrabkan diri dengan Anggi. Seandainya ia bisa melemparkan topik perceraian pada adik bungsunya ini …. “Mas Torro enggak apa-apa?” tanya Anggi kemudian, tahu bahwa pikiran mendiang kakak lelakinya sedang tak berada di sini. Torro menoleh, memaksakan senyum. “Gak apa-apa. Cuma lagi bosen.” “Bohong,” tuduh Anggi, meletakan sendok di piring makanan yang baru setengah disantapnya. “Pasti banyak hal yang lagi dipikirin. Mas Torro boleh kok ngomongin apa pun sama Anggi. Kan sekarang yang bisa lihat Mas Torro cuma Anggi.” Alis Torro kembali bertaut. Anggi masih memancarkan aura kepolosan khas anak-anak. Itu benar. Tapi ada sesuatu dari tatapan gadis kecil itu yang tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Tak bisa disangkal dengan kemampuan istimewanya Anggi telah melihat banyak hal. Mungkin kondisi itu telah membuat Anggi lebih peka dengan apa saja yang ada di sekelilingnya. Torro teringat lagi perkataan Rendy kemarin mengenai adik perempuannya. “Dia emang masih kecil, tapi dia bukan anak bodoh! Dia udah sadar kalau kalian sering berantem, pasti bakalan tahu sendiri kalau kalian bakal pisah. Pikirin perasaan dia gimana kalau nanti kalian mulai rebutan hak asuh anak!” “Mas cuman berpikir,” Torro memulai, berasumsi adiknya memang cepat tanggap. “Mungkin bakalan lebih baik kalau Rendy juga sadar Mas ada di sini. Soalnya ada sesuatu yang mau Mas omongin sama Rendy.” “Oh,” Anggi merengut, lalu menggembungkan kedua pipinya. “Tapi Mas Rendy gak bisa lihat hantu kayak Anggi.” “Tapi kamu masih bisa ngasih tahu dia,” lanjut Torro yakin. “Atau … mungkin kamu bisa bikin Rendy juga bisa lihat Mas.” “Anggi gak ngerti,” akunya jujur. Tatapan matanya agak kosong. Torro mencondongkan tubuhnya lebih dekat, mencoba menjelaskan, “Gini, Mas pernah lihat di acara TV horor, orang yang awalnya gak bisa lihat hantu, terus dijampi-jampi biar bisa lihat hantu … kayak gitu.” Pemahaman pun terbentuk di kepala Anggia. “Oh maksudnya buka mata batin?” “Ya!” seru Torro bersemangat. “Itu sebutannya? Kamu bisa kan ngelakuin itu, Dek?” Kepala Anggi perlahan menggeleng, raut wajahnya sendu. “Anggi gak bisa, belum tahu caranya.” Kekecewaan pun melanda hati Torro, menghempaskan harapannya yang sempat melambung. Torro berusaha menutupi rasa kecewa ini, tapi rupanya Anggi memang peka karena segera menyadarinya. “Tapi mungkin Anggi kenal orang yang bisa,” lanjutnya, seperti sedang berusaha mengangkat semangat Torro kembali. “Mungkin kita bisa minta bantuannya.” Tanpa berharap banyak, Torro menyahut, “Bisa? Siapa emangnya? Bukan dukun, kan?” Bayangan Anggi bergaul dengan pria tua, berjanggut lebat, pakaian serba hitam dan berbau kemenyan menghinggapi benak Torro, dan ia tak menyukainya. Torro sekali pun takkan mengizinkan adiknya nongkrong dengan orang semacam itu. Anggi kontan terkekeh singkat. “Ya bukanlah, Mas. Maksud Anggi itu temen sekolah Anggi. Anggi punya teman sekolah yang sama-sama bisa lihat hantu dan lainnya.” Torro merasa skeptis. “Teman kamu di sekolah? Anak SD?” “Bukan. Anak SMA.” “Emangnya kamu udah SMA?” Anggi memutar bola matanya. “Masih SD, Mas Torro. Tapi kan sekolahan Anggi itu gabungan SD, SMP sama SMA juga!” “Oh,” kata Torro paham. Sesaat ia merasa diyakinkan, walaupun bayangan adiknya bergaul dengan anak SMA masih tak ia sukai. “Jadi teman kamu yang anak SMA ini bisa buka mata batin seseorang?” Anggi mengangguk. “Dia udah banyak latihan, jadi bisa. Mungkin kalau Mas Torro langsung yang ngomong, dia mau ngasih bantuan mata batin Mas Rendy.” “Caranya? Gimana Mas bisa ngomong sama temenmu ini?” “Mas besok ikut Anggi ke sekolah,” jawab Anggi cepat, seolah itu sudah pasti. “Nanti Anggi kenalin.” Kini Torro terdiam menimbang-nimbang. Rencana yang ditawarkan adiknya tak begitu menjanjikan, tapi ia tak bisa mengharapkan lebih dari ini. Tak ada salahnya mencoba, bertemu dengan satu orang lagi yang bisa melihat dan mendengarnya cukup menarik bagi Torro. Kesempatan sekecil apa pun demi bisa berkomunikasi dengan Rendy akan ia ambil, tak peduli dengan resikonya. “Oke kita coba,” Torro memutuskan. “Besok kita datangin teman sekolah SMA kamu ini … siapa namanya?” “Alfaden Donovan,” Anggi menjawab. “Anggi manggilnya Kak Devan.” Torro menganguk-angguk. Meyakinkan diri sendiri bahwa ini satu-satunya jalan. Diliriknya lagi Anggi dengan hati-hati, sejenak memikirkan permintaan selanjutnya. “Untuk sekarang, kamu mau kan coba jelasin Rendy kalau Mas ada di sini?” Anggi merapatkan bibirnya. “Kan udah Anggi bilang, Mas Rendy gak akan percaya. Kalau Mas Rendy sampai marah---” “Kita coba aja dulu,” Torro mendesak dengan cara selembut mungkin. “Kalau Rendy marah, besok bakal Mas marahin balik setelah Devan ini mau bantu buka mata batin Rendy. Oke?” Tak ada jawaban langsung dari Anggi, gadis kecil itu terdiam cukup lama sampai membuat Torro khawatir. Dirinya tahu telah meminta terlalu banyak dari adiknya, dan Anggi sangat berhak menolak apa pun yang coba Torro paksakan. “Dek?” pancing Torro dengan nada lembut. Adiknya pun menghela napas panjang. “Iya oke … tapi gantinya Mas Torro nanti harus mau bantuin Anggi ngerjain PR.” Mulut Torro terkembang senyum lebar. Jika bisa, ia ingin sekali memeluk adiknya sebagai bentuk kasih sayang, atau sekedar mengacak-acak rambutnya gemas. “Gampang,” timpal Torro entang, lalu melirik makanan di piring yang belum habis. “Sekarang kamu habisin dulu makanannya. Keburu basi.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD