Suatu ketika---saat Torro masih hidup---ia pernah terlibat perkelahian serius sampai harus melibatkan pihak kepolisian.
Hal itu terjadi pada masa-masa awal perkuliahannya. Perkaranya bermula dari seorang teman semasa SMA yang meminta pinjam memori PS 2---Torro meminjamkannya, namun berbulan-bulan setelahnya barang itu tak kunjung dikembalikan.
Memori PS 2 sebenarnya terbilang barang berharga murah, dan Torro mampu membeli yang baru kapan saja. Masalahnya saat itu Torro masih memiliki pengendalian emosi yang parah. Orang-orang menganggapnya tempramental karena sering murka oleh perkara sepele.
Torro suka kelewat protektif dengan barang-barang pribadinya---termasuk benda yang ia pinjamkan, jadi setelah cukup lama memberi pinjam memori playstation dua itu, ia mulai gerah karena temannya---yang bernama Marvel---terkesan enggan mengembalikan dan sengaja menghindar.
Kegeraman itu ditunjukkan saat Torro mendatangi rumah temannya langsung untuk menagih. Di bawah desakan Torro, Marvel pun mengaku bahwa memori PS itu hilang entah ke mana. Marvel sempat menawari untuk menggantikan dengan yang baru, tapi kekesalan Torro sudah kian tinggi: akal sehatnya kacau, ia kalap dan langsung menyerang.
Pertengkaran itu tak berlangsung lama. Marvel hanya sempat membalasnya sekali, memukul pelipis kiri Torro sampai tergores dan berdarah. Sementara Torro yang sudah dikenal senang berkelahi memberinya beberapa pukulan di bagian vital sampai Marvel babak belur dan pingsan.
Panik karena telah menghajar seseorang sampai tak sadarkan diri, Torro pun kabur---pulang ke rumah. Namun tak butuh waktu lama sampai keluarganya tahu. Orang tua Marvel melaporkan perkara pengeroyokan anaknya ke pihak berwenang, dan dengan cepat Torro pun terancam kukuman pidana. Ia pasti akan mendekam di penjara jika kedua orang tuanya tak memberi penawaran berdamai.
Ayahnya yang sedang berada di luar kota karena urusan pekerjaan terpaksa pulang. Rendy yang kala itu masih duduk di bangku SD harus dititipkan di rumah kerabat terdekat agar menghindari suasana tak mengenakan di rumah.
Usaha damai itu menemui titik tengah dengan cara membuat perjanjian, bahwa Torro harus menjaga jarak sejauh mungkin dengan Marvel dan takkan melakukan tindak k*******n lagi pada siapa pun. Usaha damai memang terlaksana, dan Torro tak lagi berada dalam ancaman pidana, tapi masalah itu tak benar-benar berlalu begitu saja.
Dari sisi keluarga, Torro harus menghadapi ayahnya yang murka luar biasa, dirinya sampai sempat menyangka apa ayahnya---Roy Rahmadi---akan membunuhnya karena begitu kesal. Tentu saja Roy tak sampai bertindak sejauh itu. Torro hanya diberi hukuman larangan meninggalkan rumah beberapa minggu, uang jajannya dipotong, serta dipaksa masuk ke kursus pelatihan tinju guna menyalurkan amarah Torro yang menggebu-gebu.
Hukuman lain datang dari Puspa dalam bentuk yang berbeda. Hampir setiap hari Torro harus diceramahi tentang menjaga sikap, berperilaku terpuji dan betapa k*******n bukan jalan keluar dari masalah. Torro membenci setiap detiknya, ia masih dalam fase menerima Puspa sebagai ibu tiri. Tapi saat itu pun dirinya tahu Puspa memang peduli. Meski ibu tirinya sudah lelah mengurusi kelakuan nakal Torro, perempuan itu tetap memberinya perhatian yang cukup.
Kini ketika Torro bergentayangan sebagai hantu, menemani Rendy makan malam tanpa disadari pemuda itu, ceramah-ceramah yang diterima dari Puspa bertahun-tahun lalu kembali terngiang di telinga.
Hari sudah sangat gelap. Jam yang berdetak di dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Anggi telah tidur terlelap sejak tadi, kelelahan karena mengerjakan setumpuk PR sejak sore---serta segudang aktivitas lainnya seharian ini. Gadis kecil itu pantas mendapatkan jam tidur lebih awal malam ini.
Meski Rendy belum bisa melihat dirinya, Torro tetap memilih berada cukup dekat. Sekali-kali mencoba menggerakan benda baik dengan sentuhan tangan atau pikirannya. Ia menyadari hal ini belum lama, tiap kali dirinya dipenuhi amarah benda-benda di sekelilingnya terjatuh dan pecah---seperti figura berfoto di tembok kemarin atau gelas kaca di kamar Rendy tadi. Sepertinya hal itu berkaitan, tapi Torro belum tahu cara mengontrolnya.
Suara bel terdengar memenuhi ruangan memecah lamunan Torro dan mungkin juga Rendy. Dengan cepat Torro menyusul adik lelakinya ke pintu depan, ia dapati Puspa yang datang. Raut wajah ibunya yang sangat kelelahan memancing rasa bersalah Torro kembali---raut wajah yang sama sering kali Torro lihat di masa lalu.
“Mah?” sapa Rendy sembari membiarkan wanita itu masuk. “Mamah kok baru pulang jam segini? Rendy kira sidang itu gak akan makan waktu lama.”
Rupanya hujan masih turun gerimis di luar karena Puspa membawa-bawa payung yang baru dipakai ke dalam rumah. “Iya, Nak. Maaf, Mamah habis sidang tadi mampir dulu ke rumah Kania.”
Rendy mengerucutkan bibir---tak bertanya lebih lanjut, tampak maklum mendapat jawaban itu, padahal Torro juga ingin tahu siapa Kania ini.
“Anggi di mana?” tanya Puspa kemudian, melepas jaket dan mengaitkannya di gantungan baju dekat pintu. “Kamu udah jemput dia tadi siang, kan?”
Rendy berjalan kembali menuju meja makan untuk melanjutkan makan malamnya yang belum selesai. “Udah, Anggi ada di kamarnya---udah tidur dari tadi.”
Puspa pun tak lama kemudian menyusul ke tempat Rendy berada. “Oh … astaga kamu baru makan sekarang?”
“Dari tadi sibuk nyelesein tugas kuliah, Mah. Baru kelar barusan.” Rendy nyengir, memaksakan senyum. Torro tahu remaja itu masih memikirkan ketegangan tadi sore dengan Anggi. Mungkin merasa menyesal karena belum meminta maaf sampai kini.
“Adik kamu udah ditawarin makan belum?” Puspa bergabung menduduki sebuah kursi. Tidak ikut makan, hanya bersantai sambil mengamati Rendy. “Jangan cuman urus diri sendiri loh, Ren. Anggi juga perlu diperhatiin.”
Mulut Rendy pun meringis ditanyai begitu. “Rendy udah suruh kok … tadi siang. Gak tahu kalau makan malam. Dianya udah keburu tidur pas Rendy cek.”
Puspa hanya menggeleng tak percaya, tak mengatakan apa-apa lagi. Rendy sibuk dengan makanannya dan puspa dengan pikirannya. Keheningan yang menyusul selanjutnya membuat Torro geregetan.
“Apa yang lo tunggu?” tanya Torro kepada Rendy. Ia berdiri tepat di sisi adiknya. “Cepet tanyain ke Mamah gimana proses sidang cerai tadi?”
“Gimana sidang tadi, Mah?” tanya Rendy seketika, Torro pun menyeringai senang. “Lancar gak? Papah belum pulang juga sejak tadi pagi.”
Perempuan yang ditanya menghela napas, bahunya melemas. Sudah punya dugaan akan ditanyai seperti ini. “Ya … sidangnya lumayan. Proses selanjutnya mediasi, tapi Mamah ragu bakalan berhasil. Papahmu juga kayaknya gak akan pulang malam ini.”
Torro beruntung karena Rendy selanjutnya menanyakan hal yang sedang ia pikirkan. “Kenapa?”
“Papahmu ….” Puspa terdiam sejenang, memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan. “Kami berdua sepakat mungkin sebaiknya tidak tinggal serumah dulu untuk sementara.”
“Papah gak akan tinggal di sini lagi?”
“Untuk sementara,” ulang Puspa sabar. “Seenggaknya sampai kondisi lebih dingin. Dengan begini kamu juga gak perlu dengar keributan apa pun lagi, kan?”
Kening Rendy berkerut, mulutnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu tapi urung dilakukan.
“Omongin aja, Ren!” Torro menyemangati. “Keluarin semua unek-unek lo kayak kemarin, jangan ragu.”
Namun Rendy hanya mengangguk, mengalah. “Mungkin itu emang yang terbaik. Tapi Mamah harus punya alasan bagus kalau Anggi besok tanya di mana Papah, gak mungkin pakai alasan ‘Papah ada kerjaan di luar kota’ terus-terusan, kan?”
Puspa menunduk, menyadari nada menyindir yang dipakai Rendy. “Mamah udah pikirin itu. Mungkin emang ada baiknya Anggi juga tahu soal perceraian ini. Papahmu gak akan setuju … tapi mau gimana lagi? Lebih baik Anggi tahu langsung dari Mamah sejak sekarang juga.”
“Itu bagus.” Rendy memberi persetujuan. “Banyak yang harus Mamah omongin sama Anggi. Rendy cemas sama dia, sikapnya agak aneh hari ini.”
“Aneh gimana?” Puspa menanyakan hal yang Torro juga pikirkan.
“Ya … gak biasa.” Rendy mendorong piring makanannya yang telah habis. Jari-jemarinya bertaut di atas meja. Ia tampak gelisah, seakan telah lama menunggu-nunggu pembicaraan ini terjadi. “Sejak Anggi sampai di rumah, Rendy sering dengar dia ngomong sendirian. Tadi aja pas dia makan siang---Rendy ngintip, dia kayak lagi ngomong sama kursi kosong.”
Sebelah alis Torro terangkat. Jadi Rendy menguping pembicaraannya dengan Anggi tadi?
Puspa sejenak terdiam, berpikir keras. “Anggi ngomongin soal apa emangnya?”
Kini kedua kaki Rendy di bawah meja pun tak bisa diam. “Rendy kurang denger dengan jelas, tapi yang paling aneh tadi sore, dia datang ke kamar Rendy, bilang yang enggak-enggak. Katanya … arwah Mas Torro masih ada di sini, mau ngobrol sama Rendy.”
Mulut Puspa pun menganga sedikit. Rendy mengamatinya dengan perasaan tertarik, penasaran dengan pendapat ibu tirinya tentang cerita itu.
“Serius dia bilang begitu?” tanya Puspa memastikan. Bola matanya hanya memancarkan keraguan. Skeptis. Tak percaya.
Rendy mengangguk. “Perasaan Rendy jadi gak enak. Mungkin … mungkin situasi di rumah akhir-akhir ini bikin mental Anggi jadi terganggu. Mamah harus bawa dia ke psikolog.”
”Adik lo gak gila, Ren!” bentak Torro berang. Bisa-bisanya Rendy menyimpulkan hal demikian. “Lo kenapa sih kagak percaya banget sama Anggi? Dia ngomong yang sebenarnya!
“Yang Anggi bilang itu enggak mungkin kan, Mah?” lanjut Rendy bertanya, kini nada suaranya malah ragu. Lebih lemah. “Gak mungkin Mas Torro ….” Rendy tak menyelesaikan ucapannya, tercekat.
“Sebenarnya bisa aja, Ren,” ucap Puspa pelan, mengejutkan Rendy juga Torro. “Mamah juga kurang paham soal begituan, tapi katanya roh orang yang baru meninggal gak langsung menyeberang ke alam lain. Arwahnya bakalan berkeliaran di dunia, di dekat keluarganya selama empat puluh hari awal kematiannya.”
Torro menganga, terpesona dengan ucapan itu. Empat puluh hari? Itukah yang terjadi padanya? Siklus normal ketika seseorang meninggal dunia?
“Mamah jangan bikin Rendy tambah parno, dong!” keluh Rendy kesal, sambil mengusap-ngusap kedua lengannya bergantian. Ia bahkan mulai melirik ke segala arah, padahal orang yang dicarinya sedang berdiri sangat dekat dengannya.
Serta merta Puspa tertawa. Satu hiburan singkat di tengah-tengah kondisi yang tak menentu. “Itu kan kata orang. Mamah juga gak tahu benarnya gimana. Tapi kamu benar, mungkin mamah harus cari psikiater anak yang bagus buat Anggi.”
Sesaat semua orang terdiam, termasuk Torro yang tenggelam dalam lamunannya.
Mendadak Puspa berdiri, sambil memijat-mijat bahunya sendiri. “Kalau engak ada lagi yang kamu mau obrolin, Mamah duluan ke kamar ya, Ren. Uda malam banget juga ini. Kamu kalau udah selesai makan buruan beresin. Jangan tidur terlalu malam.”
“Iya, Mah.” Rendy berucap singkat, lalu mulai membereskan piring setelah ibunya berlalu pergi.
Sementara Torro masih diam di tempat. Pikirannya disibukkan dengan hal menarik. Empat puluh hari, benarkah itu?
***