Chapter 2

2247 Words
    Tanganku terangkat menjulang ke atas, meregangkan otot-otot yang sudah kaku. Entah sudah berapa lama aku duduk dan menekuni naskah yang sedang kusunting. Bahkan rasanya sudah beberapa jam berlalu sejak Dea pulang dan meninggalkanku di lantai tiga ini.     Pandanganku lantas mengarah ke jam dinding dekat pintu kaca. Sudah jam tujuh lewat ternyata.     Menyadari hari sudah berganti malam, perutku mendadak keroncongan. Bunyinya bahkan memenuhi ruang kantor yang sunyi. Aku buru-buru mengambil ponsel, mengetikkan pesan ke seseorang yang bisa membawakanku makanan. Setelah menerima balasan, aku meletakkan ponselku di atas meja lalu berdiri.     Aku berjalan mendekati jendela kaca yang memperlihatkan jalan raya di bawah. Di luar sana kendaraan padat merayap. Pulang sekarang pastilah akan terkena macet. Masih mending kalau ada yang menyetirkan, kalau pulang sendiri bakal semakin pegal-pegal.     Seketika pikiranku mengarah ke naskah-naskah yang kukerjakan beberapa hari ini. Jika ini adalah novel, di saat-saat seperti ini bosku yang tampan akan datang. Bertanya kenapa aku belum pulang. Awalnya dia akan terlihat dingin dan tidak peduli, tapi tanpa sepengetahuanku, malah menungguiku meninggalkan kantor. Saat mau pulang, karena sudah terlalu larut, dia menawarkan diri untuk mengantarku. Aku menolak, tapi dia ngotot dan menarik paksa tanganku ke mobilnya.     "Kyaaaa!" Aku merasa malu sendiri. Sambil memekik heboh, aku memegang kedua pipiku yang memanas. Kakiku tentu saja mengentak berkali-kali. Kalau ada yang melihatku saat ini, pasti mereka berpikir aku sudah gila.     Lagipula ... "Bianca b**o, mana ada cowok kayak gitu di dunia nyata!" Aku mengingatkan diri sendiri. Kuketuk kepalaku pelan untuk mengurangi frekuensi mengkhayal. Aku harusnya bisa mencontoh Dea.     Tak lama, setelah merasa lebih realistis dan tenang, aku melihat kaca di hadapanku kembali. Seketika aku tersadar sesuatu. Pantulan diriku di kaca itu menampilkan sosok yang berantakan. Poni pendekku sudah tidak beraturan bentuknya. Yang mestinya lurus jatuh ke bawah malah kocar-kacir. Mungkin karena terlalu sering menyugar tadi saat membaca naskah. Rambut dicepol asal ke atas. Pipi tembem karena makan teratur tidak, ngemil melulu iya. Kemeja kotak-kotak yang kukenakan juga sudah lecek sana sini. Ditambah lagi noda bekas tumpahan kopi yg menghiasi bagian bawah kemeja serta celana katun putihku. Benar-benar tidak sedap dipandang. Bahkan aku sendiri mengakuinya.     Kalau pun ada CEO tampan ala novel di sekitarku, atau mungkin bosku adalah laki-laki penuh pesona, bisa kubayangkan dia tidak akan tertarik sama sekali padaku. Bahkan mungkin melirik pun tidak. Laki-laki seperti itu pastinya hanya akan melirik cewek cantik dan seksi. Yang terlihat menawan dengan gaun merah membungkus tubuh ala gitar Spanyol-nya. Yang rambutnya panjang terurai dan berwarna keemasan. Yang ...     "Makanan datang!"     Aku tersadar dari lamunan dan melompat senang. "Mas Setyo!" teriakku heboh.     Bukan, dia bukan 'Mas-Mas'-ku. Bukan pacar yang berbaik hati membawakan makanan untuk sang kekasih. Dia office boy kantor yang selalu menjadi penyelamat hidup orang-orang yang lembur. Selalu siap sedia membelikan makan saat dibutuhkan. Lebih praktis dibandingkan menggunakan jasa antar makanan online.     Mas Setyo menghampiri kubikel milikku untuk meletakkan makanan yang kupesan. "Mbak Bianca lembur lagi?"     "Iya, Mas. Masih banyak kerjaan ini," balasku ketika sudah berdiri di sampingnya. Kemudian aku mengeluarkan makanan tersebut dari kantong plastik sembari bersenandung kecil.     "Kenapa enggak kerja di rumah aja, Mbak? Pekerjaannya kan enggak harus dikerjakan di kantor."     Aku tersenyum. Mengambil dompet di dalam tas lalu menyerahkan selembar uang berwarna hijau pada Mas Setyo. "Bisa sih, Mas. Cuma aku malas kalau di rumah. Bawaannya pengen rebahan terus. Kerjaan enggak bakal selesai," jelasku dengan senyum kecut.     Mas Setyo tertawa kecil. "Sabar ya, Mbak, bentar lagi dapat atasan baru, kok."     Sontak aku melongo. Radarnya Mas Setyo memang kencang. Bahkan gossip di lingkungan editor pun dia tahu. "Mas udah tahu juga siapa yang bakal gantiin si Medusa?" tanyaku semangat. Barangkali saja Mas Setyo tahu. Sepertinya info dia lebih update daripada aku atau pun Dea.     "Dengar-dengar keponakan Pak Weri, Mbak."     Pak Weri yang dimaksud adalah bos besar. Pemilik dari perusahaan penerbitan ini, WeriWara Publisher.     "Pak Weri ini kan enggak punya anak, Mbak," lanjut Mas Setyo lagi. Aku mengernyit heran. Apa hubungannya Chief Editor baru dengan Pak Weri yang tidak punya anak? "Katanya atasan baru Mbak ini ditunjuk buat latihan. Rencananya perusahaan penerbit ini mau diwariskan ke dia."     Mulutku menganga mendengar hal tersebut. Sudah kuduga Mas Setyo sehebat ini mengenai gossip. Aku saja yang bawahan langsung tidak tahu sampai sejauh itu. "Terus Mas Setyo tahu orangnya siapa? Cowok? Punya fotonya enggak? Masih muda? Ganteng?" tanyaku menggebu-gebu.     Mas Setyo tertawa melihat tingkahku. "Satu-satu, Mbak. Ngarep banget ya atasannya cowok? Pengen digoda?"     Aku memberengut. "Tahu sendiri kan, Mas, di sini itu gersang banget. Rata-rata pegawainya cewek. Kalau pun ada cowok, malah sudah menikah atau lebih muda. Aku kan maunya yang seumuran atau lebih tua. Kalau bisa lebih mapan dan tampan."     Lagi-lagi Mas Setyo tertawa. "Tenang aja, Mbak, penggantinya Mbak Ratna ini cowok kok. Tapi saya enggak tahu siapa namanya. Enggak punya fotonya juga, Mbak. Masih muda sih mungkin, karena kan keponakannya Pak Weri. Cuma enggak tahu juga udah menikah apa belum," jelas Mas Setyo panjang lebar.     Masih muda dan penampilan menarik tapi kalau sudah menikah sih percuma. Aku juga enggak bakal mau jadi pelakor.     Ah, pikiranku sepertinya terlalu jauh. Belum tentu juga calon bosku ini tertarik padaku. Bisa saja juga dia tidak suka perempuan, kan? Banyak sekali kemungkinan untuk bos baru yang misterius ini.     "Udah, Mbak, enggak usah terlalu dipikirin."     Aku mengigit bibir mendengar teguran Mas Setyo. Apa terlihat jelas, ya, di wajahku rasa penasaran itu?     "Enggak lama lagi kok ketemunya. Minggu depan orangnya sudah masuk."     Senyumku terkulum. Meskipun bos baru ini masih misteri, setidaknya minggu depan artinya kami para editor akan terbebas dari Medusa. Selamat tinggal kerja bagai kuda!     "Mbak, ada yang nelpon, tuh."     Aku menoleh mengikuti arah pandang Mas Setyo. Ponsel yang kutaruh di atas meja bergetar. Tadi aku memang mengaturnya menjadi mode getar agar tidak mengganggu pekerjaan. Tanganku meraih ponsel tersebut dan melihat nama Medusa di layar. Keningku berkerut. "Medusa nelpon, Mas. Apa dia merasa digossipin, ya?" tanyaku takut-takut. Kepalaku lantas bergerak ke segala arah, melihati CCTV di sudut-sudut ruangan. "Ini CCTV tersambungnya ke ruangan CCTV kan, ya, Mas? Bukan ke ponselnya si Medusa atau pun komputer di rumahnya?"      Mas Setyo mengangkat bahu sembari tersenyum jahil. "Enggak tahu, Mbak. Tapi saya permisi aja kalau begitu. Kalau Mbak Bianca kena damprat, saya enggak mau ikutan," ucapnya lalu dengan cepat berlari pergi.   Kaburnya Mas Setyo membuatku mendengkus sebal. Namun, aku langsung tersadar sudah membiarkan panggilan Medusa terlalu lama. Buru-buru aku menggesel gambar telepon berwarna hijau di layar ponsel. "Ha—"     "Bianca!" Sapaanku dipotong begitu saja oleh teriakan Medusa. Aku menjauhkan ponsel dari telinga karena kaget mendengarnya.     Setelah sedikit tenang dan mendekatkannya lagi ke telinga, Medusa mulai mengomel. "Kamu sudah liat email dari bagian design? Itu kenapa judul dan blurbnya tidak sesuai? Itu bukan blurb CEO Tampan Itu Suamiku! Kamu enggak periksa bener-bener, ya?"     Kepalaku langsung cenat-cenut mendengarnya. Bukan karena suara kencang nan cempreng Medusa, tapi karena ternyata aku membuat kesalahan. Lagi. Aku lekas menarik kursi untuk duduk. Meraih mouse dan mencari email yang dimaksud Medusa. "E-eh ... Tunggu bentar, Mbak. Saya cek emailnya," izinku untuk menenangkan singa betina di seberang panggilan sana.     Untung saja Medusa menurut. Yang aku dengarkan selanjutnya hanyala helaan napas panjang sembari menunggu emailku terbuka. Email paling atas dari Nadia, bagian desain. Aku membukanya. Email itu berisikan desain cover dari CEO Tampan Itu Suamiku yang kuminta untuk dibuatkan beberapa hari lalu. Gambar yang kuterima tersebut kuperbesar untuk melihat kesalahan yang dimaksud Medusa. "s**t!" umpatku tanpa sadar. Blurb yang ada di sana benar-benar salah. Blurb yang masuk di desain cover itu malah punya Menikahi CEO Posesif, naskah yang juga sedang kukerjakan. Sialnya, di kantorku ini, email dari desain seperti itu selalu di forward juga ke editor senior dan Chief Editor. Alhasil kami para bawahan enggak bisa luput dari kesalahan.     "Kamu mengumpat ke saya?"     Suara Medusa menyadarkanku. "Eh, bukan, Mbak, bukan. Saya ngumpat ke diri sendiri, kok," sergahku cepat agar dia tidak salah paham.     "Kamu ini tahu eng—"     "Mbak, saya cek email yang saya kirim ke Nadia dulu ya," kilahku sebelum dia sempat menceramahiku panjang-panjang. Dari hati kecilku yang terdalam, aku masih berharap Nadia yang salah mengambil blurb, bukan aku yang salah mengirim. Karena saat itu, aku memang langsung membuat dua permintaan naskah untuk dibuatkan cover. Bisa saja kan, Nadia yang keliru menyusunnya.     Medusa yang menggumam tanda mengiyakan membuatku merinding. Menggumam saja mengerikan, apalagi mengomel.     Beberapa detik kemudian, aku sudah menemukan email yang kukirim ke Nadia. Napasku langsung saja tercekat. Isi email itu menunjukkan kesalahanku. Aku memberikannya format cover untuk CEO Tampan Itu Suamiku, tapi blurbnya punya Menikahi CEO Posesif. Mati aku!     "Jadi gimana? Sudah cek email kamu? Siapa yang salah?" tuntut Medusa karena belum juga mendengarku bicara lagi.     Aku menelan ludah, teringat perkataan ibuku sejak kecil. Lebih baik terluka daripada tidak jujur.     "Eh ... Saya yang salah, Mbak."     "SUDAH BERAPA KALI KESALAHAN KAYAK BEGINI?" Aku kembali menjauhkan ponsel mendengar bentakan itu. Untung saja jantungku kuat. Mentalku pun tidak begitu lemah.     Kukeluarkan kekehan sumbang untuk menetralkan suasana. "Ehehe ... hehe ... Maaf, Mbak, saya kurang fokus pas ngirimnya."     "KURANG FOKUS GIMANA? Kamu ini terlalu sering kurang fokus! Kamu ini kalau lagi kerja mikir apa sih?"     Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku mikir apa ya waktu itu?     "Kamu tahu, kan, kesalah kecil seperti ini tetap membuang-buang waktu! Pekerjaan yang mestinya bisa selesai hari ini malah tertunda lagi!"     "Iya, maaf, Mbak. Maaf." Tanpa sadar aku menunduk meskipun Medusa tidak ada di hadapanku.     "Maaf itu bukan sekadar maaf, tapi jangan diulangi. Kamu pernah begini sudah minta maaf. Sekarang diulang lagi!"     Sebisa mungkin aku menahan diri untuk tidak mendesah penuh derita. Tiba-tiba aku teringat, Mbak Ratna ini juga keluarga Pak Weri. Artinya, calon bos baruku juga masih keluarga dengan Mbak Ratna. Jangan-jangan perangai mereka bakal sama. Menyebalkan, pemarah, dan cerewet seperti ini. Huaaaa, tidaaaaak!     "Kamu dengerin saya tidak?"     Pertanyaan itu mengembalikan kesadaranku. "Eh, iya Mbak, iya. Saya dengar kok."     "Kirim email perbaikannya ke Nadia. Selesaikan malam ini juga!"     "Iya, baik, Mbak." Aku mengangguk-angguk bak ayam lagi memetok makanan.     "Yang naskah tadi saya kasih juga jangan lupa! Jangan kelamaan dikerjakan! Hubungi juga penulisnya, jangan lupa!" perintah Medusa lagi.     Helaan napasku sudah tidak tertahan dan akhirnya keluar dengan sendirinya.     "Kamu kenapa menghela napas? Kesal dengan tugas yang saya kasih?"     "Enggak kok, Mbak. Enggak," bohongku penuh penekanan. Padahal aku sudah sangat ingin berteriak kencang meluapkan emosi. Kerja dengan Medusa harus serba cepat dan serba perfect. Betul-betul membuat sakit kepala kalau ada kesalahan sekecil apa pun itu.     Aku mendengar Medusa mendengkus jengkel. Kemudian dia bertanya, "Naskah Cinta Seorang CEO bagaimana? Sudah selesai kamu sunting?"     Ditanya seperti itu aku kelabakan membongkar naskah di atas meja. "Eh, belum, Mbak. On Process."     "Terakhir kali saya tanya juga masih on process!"     Makanya jangan ditanyain terus dong, batinku. Stress aku ini naskah yang mau dikerjakan banyak tapi maunya cepat selesai semua. "Akan saya selesaikan segera, Mbak."     "Itu naskah anak kenalan saya. Tapi kamu jangan anggap nepotisme, naskahnya memang bagus, kok. Saya pilih karena kualitasnya," jelas Medusa tanpa diminta. Aku hanya mengiyakan.     "Novelnya itu terinspirasi dari keponakan saya. Tokoh cowoknya saja, sih. Katanya dia dapat ide penggambaran tokoh cowok itu setelah ketemu keponakan saya."     Siapa pula keponakan Medusa itu? Aku sama sekali tidak tertarik.     Atasanku yang galak itu lalu menceritakan beberapa hal lagi tentang keponakannya. Namun, aku sudah tidak mendengar karena teringat tadi sangat kelaparan setelah melihat kotak makananku.     Saat tersadar, Medusa ternyata sudah akan mengakhiri ocehannya. "Baiklah, sudah dulu. Ingat kirimi Nadia blurb yang betul. Jangan sampai salah kasih lagi."     Aku menyanggupi dan Medusa pun akhirnya benar-benar menutup panggilan.     Segera kutarik makananku mendekat. Perutku semakin teriak minta diisi. Mi goreng yang sudah menjadi dingin tidak mengurangi nafsuku. Aku menghabiskan sekotak hanya dalam beberapa menit. Sudah seperti orang yang tidak makan berhari-hari.     Setelah selesai, aku menggeser kotak kosongnya ke samping. Kemudian mengelus perut yang jadi membuncit karena baru saja diisi. Di tengah-tengah itu, mataku menangkap naskah yang tadi dibahas Medusa. Cinta Seorang CEO. Aku sebenarnya sedang mengerjakan ini tadi siang. Namun, karena dipanggil oleh Bianca, aku jadi mengabaikannya walau baru kusunting setengah. Apalagi Medusa meminta naskah yang baru diberikannya diselesaikan lebih dulu.     Aku membuka halaman yang terakhir kali k****a. Baru menyusuri beberapa baris, entah kenapa kantuk datang menyergap. Aku menguap lebar. Sepertinya kekenyangan membuatku ingin tidur saja. Apa sebaiknya aku beristirahat beberapa menit?     Ingin mengikuti kata hati, aku mulai melipat tangan di atas naskah itu dan menidurkan kepalaku. Rasanya nyaman sekali. Setelah seharian pusing berkutat dengan naskah, posisi seperti ini adalah surga. Lelahku seakan melebur. Kelopak mataku tidak bisa dicegah, mulai bergerak-gerak jatuh. Biarlah aku menikmati alam mimpi sekejap. Aku muak dengan Medusa. Aku muak dengan novel tentang CEO. Biarkanlah aku bertemu karakter novel romansa lain, selain seorang CEO, dalam mimpi.      Dan akhirnya ... Beberapa detik berikutnya, semua menjadi gelap.                                                                                                                                                                  x-x-x     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD