MALAM PERTAMA

1677 Words
“Enak, ya, bisa tidur di kamar semegah ini,” ejek Ratu kala Sagara untuk pertama kalinya masuk ke kamarnya. Bukannya marah, Sagara justru tersenyum. Ujung bibirnya membentuk senyum simpul. Manis sekali. Ratu sebenarnya melihat itu. Tapi dirinya tak sudi untuk mengakui bentuk sempurna wajah Sagara. Ternyata foto yang diberikan oleh ayahnya jelek. Aslinya Sagara mempunyai sejuta pesona yang tak bisa digambarkan hanya lewat foto saja. Sorot matanya teduh, aura keberadaannya yang menenangkan, dan wajahnya yang ramah serta enak dipandang. Namun sekali lagi, Ratu benar-benar tak mau mengakui itu. Dia masih menganggap Sagara adalah parasit yang wajib dia singkirkan secepatnya dari rumah ini. Sagara hanya cowok miskin yang mungkin hanya numpang hidup di atas kekayaan keluarga Ratu. Bagi Ratu, semua itu harus masuk akal. Maka perkataan ayahnya tentang Sagara itu pasti bohong. Mana mungkin ada orang yang tidak peduli pada uang. Sungguh tidak masuk akal. “Aku tidak biasa tidur di kasur, kamu boleh tidur di sana, aku tidur di sofa sebelah sana, saja,” tutur Sagara masih penuh dengan senyuman. Harusnya Ratu senang dengan perkataan Sagara. Itu artinya dia tidak harus berbagi kasur dengan orang yang dia benci. Tapi sebaliknya, Ratu justru merasa tersinggung. Amarahnya pun membara bahkan matanya kembali menyalak. “Aku tidak sudi ya dikasihani oleh seorang cowok,” cetus Ratu. Sagara justru tertawa mendengarnya. Dia tak menyangka apa yang dikatakan oleh mertuanya tentang Ratu itu benar. Ratu terlalu mengagungkan dirinya sebagai perempuan, bahkan dia ingin sekali membuktikan perempuan bisa melakukan apa pun yang dikerjakan oleh lelaki. “Jadi kamu mau gimana?” tanya Sagara Untuk pertama kalinya, Sagara melihat ekspresi lain dari Ratu. Sedari mereka bertemu sampai sekarang, dia hanya melihat ekspresi judes dan cuek dari Ratu, namun sekarang Ratu tersenyum. Yah … meski senyum itu bukan senyum manis, melainkan senyum jahat. “Kita bertarung malam ini! Siapa yang menang, berhak menyuruh apa pun kepada yang kalah selama seminggu!” tantang Ratu. Wanita itu pun mulai memasang kuda-kuda. Dilipatnya roknya ke atas dan dia pun menghadap ke Sagara. Ratu yakin kalau ilmu bela diri taekwondonya pasti bisa mengalahkan ilmu boxing yang dikuasai Sagara. “Yakin kamu mau melakukan ini?” tanya Sagara. Semenjak bertemu dengan Ratu, harinya terasa apa ya, lebih cerah mungkin. Selalu ada keajaiban yang bisa dia lihat dari perilaku Ratu. Tak pernah sekali pun dalam hidupnya, dia bertemu dengan perempuan seperti Ratu. Bahkan perempuan yang dulu dia cintai pun sangat berbeda dari Ratu. “Jangan remehkan aku, Sagara Syailendra!” seru Ratu. Sagara menggeleng-geleng. Ia pun meletakkan jaket yang sedari tadi ada di tangannya. Dia kemudian melepas kemejanya, menyisakan kaos dalam yang menampilkan bentuk otot dan tubuhnya yang sempurna. Sejenak Ratu termangu melihat tubuh Sagara. Ratu bahkan sampai menelan ludah. Dia sering melihat lekuk otot seorang laki-laki, tapi belum pernah sekali pun, dia sampai terdiam sampai seperti ini. “Kenapa?” tanya Sagara. Ratu tak menjawab. Dia sendiri bingung mau berkata apa. Jika dia jujur mengakui kalau bentuk tubuh Sagara itu sempurna, pastilah pria di depannya ini akan jadi sombong. “Kalau kamu tidak nyaman, aku pakai hemnya lagi,” kata Sagara. “Cih, siapa juga yang tidak nyaman. Aku sudah banyak menghadapi pria berotot selain kamu! Jangan kira aku akan kalah!” sergah Ratu buru-buru. Sagara kembali menarik ujung bibirnya. Dia tertawa kecil. Benar apa kata mendiang ayahnya, Ratu bisa membawakan dunia baru untuknya. “Aku mulai!” teriak Ratu. Dia pun mulai melancarkan tendangannya. Sagara yang belum siap sepenuhnya, buru-buru menyilangkan tangannya, membuat perlindungan. Namun tendangan Ratu ternyata cukup kuat. Saking kuatnya, sampai Sagara mundur dan menghantam pintu. Bu Ira yang masih menikmati kopi bersama suaminya di ruang keluarga pun kaget mendengar suara dentuman dari kamar Ratu. Dia pun beranjak pergi, hendak mengecek apa yang terjadi. “Jangan!” cegah Pak Danaswara ketika istrinya hendak mengetuk kamar Ratu. “Kenapa?” tanya Bu Ira. “Ibu kayak ndak tahu aja mereka lagi apa di malam pertama pernikahan,” ujar Pak Danaswara sembari menaik turunkan alisnya. Bu Ira bingung. Namun itu hanya sebentar sebelum dia berkata, “Ooou.” Dan kemudian tertawa. “Kok ekstrem sekali suaranya?” tanyanya. Belum juga Pak Danaswara menyahut, dari dalam terdengar suara gemuruh dan disertai teriakan Ratu. “Maklum, pengantin baru. Sagara kayaknya kuat tuh.” “Ah iya, ya. Namanya juga anak muda. Sagara kan pekerja proyek, pasti tenaganya dahsyat!” kekeh Bu Ira. “Makanya jangan ganggu! Yuk ngopi lagi!” ajak Pak Danaswara lalu menggandeng tangan istrinya. Mereka pun dengan hati-hati meninggalkan kamar Ratu dan kembali ke ruang keluarga, meneruskan perbincangan mereka kembali. Namun sepertinya, kedua orang tua Ratu itu salah paham. Malam pertama pernikahan Ratu dan Sagara tidak seromantis pasangan yang lain. Justru malam pertama mereka diselilmuti berbagai jurus ilmu bela diri dan berbagai teknik melumpuhkan musuh. “Kurang ajar!” teriak Ratu. Dia tidak percaya setiap serangannya ditangkis oleh Sagara. “Serang aku! Jangan kau pikir aku akan suka dikasihani seperti ini. Aku bukan wanita lemah!” protes Ratu. Dia tidak terima karena Sagara terus-terusan bertahan tanpa menyerangnya sekali pun. Ratu kemudian melancarkan tendangan memutar ke belakang sembari melompat. Dia melancarkan salah satu tendangan yang terkenal mematikan dalam taekwondo. Sagara sekali lagi hanya bertahan. Tendangan penuh tenaga dari Ratu itu pun kembali membuatnya terdorong ke tembok. Ratu kembali marah. Dia merasa benar-benar diremehkan. Sayangnya yang tersisa dari dirinya hanyalah rasa jengkel yang tak berujung. Lalu ketika dia sedang menarik napas untuk melancarkan serangan kembali, tiba-tiba saja Sagara sudah di belakangnya dan menubruknya. Lelaki itu dengan cepat mengunci pergerakan Ratu. Ratu memberontak. Tapi apalah daya. Dia sudah tidak memiliki tenaga lagi. Semua energinya sudah terkuras untuk menyerang Sagara tadi. Dan Sagara yang dari tadi hanya bertahan, mempunyai energi yang cukup besar untuk menahan pergerakan Ratu. “Apa pelatihmu ndak pernah bilang kalau bertarung dengan marah hanya akan membuahkan kekalahan?” ujar Sagara. Ratu mendesis. Kepalanya yang sedari tadi mendongak, mencoba melawan, kini tergeletak di lantai. Tenaganya pun melemas. Dan dengan berat hati, dia pun mengaku kalah dari Sagara. Taktik laki-laki itu benar-benar membuat Ratu kewalahan. Sagara pun melepaskan Ratu. Mereka lalu berdiri bersama-sama. “Jadi apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Ratu kali ini dengan nada yang datar. “Kamu pasti tahu kalau aku itu tidak punya saudara maupun orang tua lagi. kamu dan orang tuamu adalah satu-satunya keluargaku sekarang, Rat. Jadi aku minta, seminggu saja kita bersikap mesra agar orang tuamu bahagia,” jelas Sagara. Ratu sempat termangu mendengar kalimat Sagara. Dia bahkan sama sekali tak bicara sampai Sagara kembali mengambil kemejanya kembali lalu beralih ke kamar mandi. Ratu pun duduk di ranjangnya. Dia terus kepikiran akan perkataan Sagara tadi. Tak hanya kalimatnya yang penuh makna, cara Sagara mengatakannya, tatapan matanya, dan mimik wajahnya, benar-benar tulus. Dari bahasa tubuh Sagara, Ratu tahu pria itu tidak berbohong. Jadi apakah benar yang dikatakan Ayah soal Sagara? batin Ratu. Tak lama Sagara berada di kamar mandi. Setelah lima belas menit, suara pintu kamar mandi terdengar. Sagara keluar dan melangkah ke kamar kembali. Ratu yang sedari tadi melamun pun segera memalingkan badan. Dia tidak mau lagi melihat lekuk otot Sagara yang membuatnya gagal fokus. Melihat lengannya yang kekar saja bisa membuatnya menelan ludah, apalagi sampai melihat tubuh bagian atas Sagara yang tak terbalut baju. Pasti hal itu membuat Ratu sama sekali tak bisa tidur. Namun Ratu tetaplah seorang wanita. Meskipun sikap dan perilakunya jauh dari wanita pada umumnya, Ratu ingin melihat Sagara. Berulang kali kepala Ratu memutar untuk melihat Sagara yang kini di belakangnya. Tapi egonya selalu menghalangi. Ratu pun bertarung dengan dirinya sendiri sampai akhirnya nafsu mendorongnya untuk sedikit menengok ke arah Sagara dan begitu dia melihatnya, ternyata Sagara sudah memakai kaos kembali. “Kenapa?” pergok Sagara. Wajah Ratu pun segera memerah. Hanya saja bukan Ratu namanya kalau dia mengakui apa yang tengah dirasakannya. “Lama banget sih pakai kamar mandinya! Aku juga mau mandi tahu!” bentaknya. Tanpa memandang Sagara lagi, Ratu pun melangkah ke kamar mandi. Dan demi melampiaskan perasaannya yang tak keruan, dia pun membanting pintu kamar mandi. Saking kerasnya suara bantingan pintu itu, membuat Pak Danaswara kaget. Namun dia kembali memandang istrinya dan tersenyum bersama. Mereka masih saja melanjutkan minum kopi bersama sambil membayangkan apa yang sebenarnya tak pernah terjadi antara Sagara dengan Ratu. “Nggak mungkin kan kalau aku mulai respect sama dia?” tanya Ratu pada dirinya sendiri. Hari ini kepalanya benar-benar terasa panas. Bahkan terasa ingin meledak. Padahal ketika dia pusing karena kehilangan tender sebesar dua miliar pun, rasanya tak seperti ini. Namun hari ini, dia justru seperti bingung dengan dirinya sendiri. Ada rasa hangat di antara kemarahannya. “Nggak mungkin!” teriak Ratu. Dia pun meremas-remas kepalanya dengan sampo. Ia harap semua ini hanyalah mimpi. Setelah satu jam lamanya berada di kamar mandi, Ratu pun keluar. Dia melongok, menyakinkan dirinya bahwa Sagara tak akan melihat dirinya yang memakai bathrobe. Ratu lupa tadi tidak membawa piyama sekalian ke kamar mandi. Untungnya lampu ternyata sudah agak gelap. Ratu juga sama sekali tak mendengar ada suara. Merasa yakin kalau Sagara tidak ada di kamar, Ratu pun buru-buru keluar. Ratu benar-benar merasa bersyukur kala melihat ranjangnya masih kosong. Ratu pun segera mengambil piyama di lemarinya lalu kembali ke kamar mandi. Setelah selesai memakainya, dia kembali ke kamar dan segera menutupi dirinya dengan selimut. Bukannya bisa tidur, Ratu malah bertanya-tanya di mana keberadaan Sagara. Wanita itu pun kembali duduk. Dia mengedarkan pandang dan baru menyadari telah tertidur di sofa. Di tangannya masih tersampir sebuah buku. Untuk beberapa saat, Ratu terpaku melihatnya. Ada rasa ingin menutupi tubuh Sagara dengan selimut dan menaruh buku lelaki itu ke meja. Tapi lagi-lagi ego Ratu menghalanginya. Ratu segera membuang jauh-jauh pikiran itu dan kembali merebahkan diri. Ketika Ratu hendak memejamkan matanya, dia justru melihat ada sebuah kertas yang ditaruh di bawah lampu tidur. Di sana tertulis ‘untuk Ratu’. Demi menjawab rasa penasarannya, Ratu kembali terbangun. Dia buka kertas itu. Tugas pertamamu besok, sematkan cincin pernikahan ke jari manisku. Sagara. Rasa simpati yang tadi mulai terbangun di hati Ratu pun seketika sirna. Perasaan jengkel yang tadi sudah hilang, kini muncul kembali. Dengan emosi yang menggebu-gebu, Ratu meremas-remas kertas itu dan melemparkannya ke Sagara. Bodo amat lelaki itu akan bangun atau tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD