Sagara menaruh jaketnya di kursi. Dia lantas menuju dapur, membuat kopi dan meminumnya di sana. Dia berpikir bagaimana caranya mengatakan hal ini pada Ratu. Sebenarnya jika dia meminta bantuan mertuanya, pasti akan lebih mudah. Namun di samping sisi pasti nanti Ratu akan menganggap Sagara tukang adu. Hari sudah sore, tapi rumah masih belum ramai. Para pembantu dan juga satpam sedang beristirahat. Pak Danaswara dan istrinya sedang jalan-jalan sore. Sagara sangat iri mendengar hal itu. Usia pernikahan mertuanya sudah memasuki kepala tiga, tapi mereka masih tetap mesra seperti anak muda. Apalagi ketika mereka makan, di saat Sagara serta Ratu makan sendiri-sendiri, Pak Danaswara malah suap-suapan. Sagara jadi bingung. Sebenarnya yang jadi pengantin baru itu dirinya atau Pak Danaswara? Perkat

