Puteri dari Negeri Tak Dikenal

1792 Words
Hanya berselang tiga hari setelah mereka kembali dari Pulau Macan, Renas yang memiliki agenda untuk menghadiri fine dining di Fairmont, telah bersiap untuk meninggalkan apartemen sore itu dengan Sara. Sara terlihat anggun dan sopan dengan gaun panjang dan tertutup yang ia kenakan; berwarna keemasan dan berbahan sequin. Rambutnya hitam panjangnya dibiarkan tergerai dan bergelombang; sesuai dengan keinginan Renas saat itu. Saat melihat istrinya tengah berdiri tepat di depan standing mirror di kamar mereka, jauh di dalam hatinya Renas yakin bahwa tidak akan ada yang mengalahkan kecantikan istrinya itu. Melihat Sara yang saat itu berdiri dengan gaun panjang nya sedang mengalami kesulitan untuk memasangkan sepatu hak tingginya, Renas segera berjalan menuju istrinya itu. Tiba-tiba saja Sara dikejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa: Renas berlutut tepat di hadapannya dengan wajah menengadah mengisyaratkan bahwa ia akan memasangkan sepatu hak tinggi itu untuk Sara. Renas tersenyum singkat tanpa satu patah kata, masih berlutut, dan memasangkan sepatu hak tinggi tersebut di kaki kanan istrinya terlebih dahulu. Kemudian Sara berpegangan pada pundak Renas untuk menyeimbangkan tubuhnya saat Renas memasangkan sepatu hak tinggi di kaki kirinya. “Dining in the dark?” Sara tersenyum saat pertanyaan itu ia lontarkan. “Sebelum dan sesudah makan pasti nanti kita berbeda sekali.” “Makan sedikit saja, setelah dari sana nanti kita makan lagi.” Renas menjawab pertanyaan Sara sekaligus membalas senyumannya. “My skin is so dark now…” Sara berjalan tepat di belakang Renas menuju keluar dari kamar mereka. Renas berhenti saat ia mencapai pintu; menatap Sara selama beberapa detik dan otomatis membuat Sara juga berhenti berjalan. “You look amazing,” ucap Renas pelan sembari mempersilakan istrinya untuk keluar lebih dahulu. Acara itu dihadiri setidaknya 120 orang-orang kelas atas; mayoritas adalah pebisnis seperti Renas dan tokoh-tokoh politik. Bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra, Fairmont Jakarta menggelar acara penggalangan dana yang memiliki konsep Dining in the Dark dimana para tamu akan diajak untuk merasakan pengalaman kuliner di dalam ruangan gelap gulita dan hanya mengandalkan empat indra mereka di Emerald Room. Renas yang sejak semasa sekolah tidak pernah terlalu akrab dengan orang lain pun, tidak beramah tamah dengan tamu-tamu lainnya walaupun mayoritas dari mereka mengenali dirinya. Malam itu juga ia bertemu dengan beberapa anak dari konglomerat di Indonesia, namun Renas tidak mencoba untuk berbincang dengan mereka, cukup berjabat tangan dan menyapa mereka saja. Sejak memasuki ruangan, Sara telah menjadi pusat perhatian para tamu. Renas yang berjalan tepat disampingnya menyadari hal itu dengan cepat dan berbangga di dalam hati. Sesekali ia menoleh dan memandangi istrinya itu sejenak; Sara terlihat sudah jauh leluasa dibandingkan saat-saat pertamanya menemani Renas ke acara mewah seperti itu. Pernah suatu malam saat menemani Renas menghadiri acara amal, Sara terjatuh ketika menuruni beberapa anak tangga terakhir. Wanita itu jatuh tersungkur dengan banyak pasang mata menyorotinya hingga kemudian Renas berlari menuruni tangga dengan cepat dan membantu istrinya itu untuk kembali berdiri. Sara tidak lagi gugup seperti saat itu. Ia sudah jauh lebih percaya diri dan tenang; Renas melihatnya. Saat tengah berjalan menuju meja yang telah ia reservasi, Renas mendengar suara yang memanggil-manggil namanya dari kejauhan. Tidak lama setelahnya, ia menoleh ke belakang dan mendapati teman satu kelas semasa SMA nya dulu juga menghadiri acara malam itu. Adrian Galea; putera tunggal dari pemilik hotel Galea yang merupakan teman satu kelas selama tiga tahun berturut-turut di SMA dari seorang Renas Aeldra Karim. Sejak di bangku Sekolah Menengah dulu, Adrian termasuk dari beberapa anak yang sering Renas ajak bicara dan sukai sebagai seorang teman. Kenyataannya, hanya terdapat tiga anak yang ia sering ajak bicara semasa SMA dulu: Adrian, Bryan dan Carin yang tidak lain adalah saudari kandung Sara. Saat keduanya berdiri berhadapan, Adrian terdiam sejenak terpukau. Baginya, Renas yang sejak di bangku Sekolah Menengah dulu merupakan seseorang yang ia idolakan oleh karena ketampanannya, kecerdasannya, serta keluarganya yang baginya jauh lebih terpandang daripada keluarganya; malam hari itu terlihat sangat luar biasa. Pria yang sangat berkelas, sangat memesona, begitu memikat. Malam hari itu Adrian ditemani seorang wanita yang berdiri di sisi kanan nya. “My God, look at you now!” sapa Adrian dengan sangat antusias sembari menjabat tangan Renas dan memeluknya. Renas tesenyum singkat, menjabat tangan temannya itu dan memeluknya. “Aku dengar kamu menetap di Sydney,” ujar Renas ingin memastikan. “Tidak, tidak. Aku kembali dua bulan lalu dan menetap di sini. Ayahku mulai sakit, as the only child, you know…” “I know, I heard of it. How’s he doing now?” Renas kembali bertanya. Matanya memancarkan simpati atas apa yang baru saja Adrian sampaikan mengenai kondisi ayahnya. “Not so good. They call it LQTS; Sindrom Long QT…” Adrian terdiam sejenak, menatap arloji yang Renas kenakan malam itu hanya untuk menghindari kontak mata karena ia tidak ingin terlihat bersedih. “Let’s talk about it another time,” Adrian tertawa dan mengakhiri pembicaraan mengenai ayahnya. “Perkenalkan ini tunanganku, Luna.” Pria itu menoleh menatap wanita yang berdiri di sisi kananannya dengan senyum, mengisyaratkannya untuk segera menjabat tangan Renas dan wanita yang berdiri di sisinya. “This is my wife, Sara.” Renas menoleh melalui bahu kanan nya, memandangi Sara dengan penuh kekaguman dan menyentuh pinggang wanita itu untuk membuatnya semakin percaya diri. Sara menatap Renas dalam, tersenyum singkat kemudian menjabat tangan Adrian dan Luna dengan begitu hangat. Sesungguhnya, Adrian sangat terkejut ketika Renas memperkenalkan Sara sebagai istrinya. Ia tidak mendengar berita apapun mengenai pernikahan Renas; pernikahan anak sulung dari seorang Eskandar Karim. ‘Mungkinkah pernikahannya diselenggarakan secara tertutup? Pernikahan seorang Renas Aeldra Karim?’ Jauh di dalam hatinya, Adrian tidak dapat berhenti mempertanyakan. “Kapan menikah?” Adrian bertanya dengan sangat kegirangan tepat setelah Sara menjabat tangannya. “Desember lalu.” Renas menjawab, menoleh dan menatap Sara selama beberapa detik kemudian kembali menatap Adrian. Pernikahan Adrian dan Luna akan diselenggarakan Desember mendatang. Segera setelahnya, Adrian meminta nomor ponsel Renas. Keduanya pun kemudian saling bertukar nomor ponsel. Adrian mengatakan bahwa pernikahannya dengan Luna akan diselenggarakan di Bali. Mendengarnya; Renas pun tidak sabar menunggu kedatangan hari itu karena tentunya, ia juga akan mengajak Sara berlibur dan memiliki malam-malam intim berdua. Saat acara makan malam hampir dimulai, setiap lampu yang menyinari satu per satu mulai dipadamkan hingga tidak ada satu cahaya pun di dalam ruangan sebesar Emerald Room Fairmont. Sara dan Renas duduk berhadapan tanpa satu pun cahaya yang menyinari; tidak bahkan nyala lilin. Para tamu pun tidak diperbolehkan menggunakan flashlight ponsel untuk menerangi mereka saat makan malam. Mereka benar-benar harus makan malam tanpa satu cahaya pun sebagai bentuk apresiasi atas karunia Tuhan karena diberikan indra yang sempurna dan juga sebagai bentuk empati terhadap kaum tuna netra. Sara tidak dapat berhenti tertawa saat lampu telah dipadamkan dan para tamu dipersilakan untuk menyantap hidangan pembuka yang telah disediakan di meja masing-masing. Keduanya sama sekali tidak menyentuh hidangan pembuka. Lampu kembali dinyalakan ketika para pelayan sedang mengambil hidangan pembuka untuk digantikan dengan hidangan utama. Saat itulah Sara dan Renas saling menertawakan satu sama lain karena sama sekali tidak menyentuh hidangan pembuka. “Aku takut mengotori kemeja ku,” Renas memberikan alasan. “Aku tidak mau mengotori bibirku,” Sara tertawa lepas sembari melihat kanan dan kirinya; pasangan-pasangan lainnya. “Kita makan setelah dari sini.” Sara membalas senyuman singkat yang diberikan suaminya itu untuknya dan mengangguk. Mereka meninggalkan Fairmont pukul 10 malam. Renas duduk tepat sisi istrinya, membiarkan Sara membenamkan kepalanya di dadanya, memeluknya; saat sopir pribadi mereka mengantar mereka kembali ke apartemen. Sesekali Burhan; sopir pribadi Renas yang berusia 50 tahun yang sangat ia hormati layaknya ayah sendiri, melihat kemesraan pasangan suami istri itu melalui cermin. Keduanya tampak benar-benar bahagia: Renas yang tidak pernah banyak bicara, seorang penyendiri, Sara yang smemiliki sifat ramah dan membumi – keduanya merupakan pasangan yang sempurna. “Kita ke Mandarin Oriental ya pak.” Renas memutuskan. Sara merasa benar-benar bahagia malam itu karena dua hal. Pertama, karena malam itu merupakan kali pertama Renas bersikap sangat leluasa; tidak lagi kaku. Kedua, karena besok adalah hari Sabtu dimana keduanya bisa menghabiskan waktu bersama sepanjang hari. “Kamu sudah merencanakan ini?” Sara bertanya saat Renas meletakkan ransel nya di sofá yang berada di sudut kanan dari pintu masuk kamar. Pria itu hanya tersenyum sembari membongkar isi ransel, kemudian menggantung pakaian mereka satu per satu ke dalam almari. Selagi Renas menggantung pakaian mereka berdua, Sara sesegera mungkin menghapus riasan wajahnya. Wanita itu mengajak Renas untuk bergabung dengannya di bawah shower; tidak lagi sungkan ataupun malu. Setelah selesai dengan semua pakaian, Renas segera mengisi bathtub dengan air hangat, karena ia ingin berendam sejenak dengan Sara, tentunya ditemani dengan sebotol Ragtime Rye. Tidak lama kemudian, Renas berjalan keluar dari kamar mandi hanya terbalut dengan handuk kimono putih nya. Pemandangan yang selalu menggetarkan hati Sara karena baginya tidak ada pria lain setampan pria yang ia nikahi itu. Renas benar-benar sangat memikat. Sara masih duduk tepat di depan kaca rias, menghapus riasan wajahnya saat Renas berjalan keluar kamar mandi menuju bar untuk mengambil dua gelas dan sebotol Whiskey, kemudian kembali lagi ke dalam kamar mandi. “Can you unzip me, please?” Renas terkejut saat itu ketika mendapati Sara telah berdiri tepat di belakangnya di saat ia sedang menuangkan Whiskey ke dalam kedua gelas yang telah ia persiapkan. Ia mengira bahwa Sara masih akan menghapus riasan wajahnya selama beberapa menit kedepan. “Of course,” pria itu tersenyum singkat. Sara berbalik badan dan membiarkan Renas membukakan risleting gaun nya. Tepat setelahnya, wanita itu hanya tersenyum singkat sebagai ucapan terima kasih kemudian berjalan keluar kamar mandi sembari mencoba menanggalkan gaunnya. Renas masih berdiri di tempat yang sama, bertanya-tanya, setengahnya tergelitik karena Sara: ‘Mengapa tidak dilepas di sini saja? Di hadapanku?’ hingga akhirnya ia menyadari bahwa mungkin Sara masih merasa sedikit canggung. Renas memahaminya. Pria itu pun kemudian tidak yakin akan langkah selanjutnya: haruskah ia keluar menghampiri Sara atau tetap tinggal hingga Sara mendatanginya? Renas tidak ingin terlihat canggung dan bodoh di hadapan Sara.‘ 'Persetan.' Tepat di saat Renas hendak melangkah, Sara telah berdiri di ambang pintu kamar mandi terbalut dengan kimono putih satin nya. Keduanya sama-sama terpaku memandangi satu sama lain. Beberapa detik setelahnya, Sara menanggalkan kimono nya, membiarkannya terjatuh tepat di depan pintu dan berjalan menuju bathtub tanpa sehelai kain pun menutupi indah lekuk tubuhnya. Jantung Renas berdebar begitu kencang, tidak lagi dapat dikendalikan, tetapi ia tetap mencoba untuk terlihat tenang. Sebelum bergabung dengan istrinya di dalam bathtub, Renas memberikan gelas berisi Whiskey yang sebelumnya telah ia isi kepada Sara, membiarkan wanita itu meneguk sedikit, kemudian mengambil gelas itu kembali dan diletakkan di sisi kanan wastafel. Ia kemudian bergabung dengan Sara tepat beberapa detik berselang, di dalam Ergonomics bathub yang berukuran 180x120 cm. Keduanya pun berendam di dalam air hangat saling bertatapan sebelum malam dimulai. “Come towards me,” Renas berbisik. Masih menatap Sara dengan tajam, penuh gairah, bersiap untuk memulai malam mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD