Seperti biasa, Barra baru pulang dari rumah temannya ketika mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Ayah membanting benda-benda ke lantai dan Ibu berteriak, memaki kelakuan sang ayah yang seenaknya menghancurkan barang-barang.
"Kamu pikir itu tidak beli? Hentikan memecahkan piring dan gelas, brengsek!"
"Kau pikir aku peduli? Heh, wanita sundal! Kau pikir aku tak tau kau membeli semua barang ini dari hasil jual diri? Pelacur kau!"
"Jangan seenaknya mengataiku! Kamu pecus nggak jadi suami?! Tiap hari kerjanya main judi sama mabok! Kalau aku tidak jual diri, kamu nggak akan hidup sampai sekarang, Bajingan!"
"Alahhh alasan!" Ayah menggebrak meja makan. Melempar kursi ke tembok dan tepat di depan Barra.
Tubuh barra membeku, melihat kaki kursi itu patah berserakan di lantai.
"Oh, anak haram kau sudah pulang!" maki si Ayah.
Ibu melirik Barra sekilas lalu membuang muka. Barra menunduk. Hatinya perih tiap kali ingat fakta bahwa dirinya tidak pernah diinginkan di rumah ini.
Kenapa ia harus dilahirkan? Kenapa dulu Ibu tidak menggugurkannya saja? pikir Barra berulang kali.
"Heh, anak goblok! Ngapain kau berdiri saja di sana? Masuk ke kamar kau!" sentak Ayah.
Namun kaki Barra seolah sedang menancap di lantai. Diam kaku tidak bisa digerakkan. Tubuhnya gemetar. ini selalu terjadi ketika melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat di depan mata.
"Sial! Yang satu pelacur, yang satu budek!"
"Dan satunya berengsek!" tambah Ibu melirik sinis pada Ayah.
"Masih berani kau ngatai aku? Masih untung aku nikahin kamu dulu! Cuih!"
"Aku nggak pernah minta kamu nikahi, sial! Kamu yang merayuku tiap hari! Aku menyesal dulu menerima lamaran kamu."
"Aku lebih menyesal lagi!"
Barra menutup kedua telinganya, tidak sanggup lagi mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Matanya basah karena air mata.
"Kalau begitu kita cerai saja!" final AYah sebelum meninggalkan Ibu.
Wajah Ibu mengeras, rahangnya mengetat dan melempar sebuah gelas ke kepala Ayah. Sayangnya lemparannya meleset.
Ayah nampak murka, berbali menatap Ibu. "Kalau kau berani melukai aku, aku akan bunuh kau!" Lalu melirik pada Barra yang masih gemetar ketakutan. "Dasar anak idiot!"