Prolog

211 Words
Jakarta, lima tahun lalu. Acara amal yang megah dipenuhi para dermawan, selebritas, dan pejabat kota. Lampu kristal berkilauan, musik lembut mengalun di latar belakang, dan gelak tawa menggema di seluruh ruangan. Di tengah keramaian itu, Vania Larasati seorang dokter muda berdiri sendiri dengan pakaian biasanya dan tersenyum ramah pada tamu yang melewatinya. Meski hatinya baru saja patah, senyumnya tetap cerah—seperti sinar mentari yang enggan padam. Ia tahu, menjadi dokter bukan hanya soal profesi, tapi panggilan hati. Dari kejauhan, Dimas Adijaya mengamati dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Pria muda, pengusaha sukses, dan kapten tim relawan itu tertarik pada sosok ceria yang berdiri anggun di sudut ruangan. Ketika akhirnya mereka berdua bertemu, percakapan ringan yn membuat Dimas semakin tertarik akam pesona sang Dokter dan berujung pada sebuah tantangan kecil: “Kalau kita bertemu lagi secara tak sengaja, hari itu adalah hari pertama kita berpacaran.” Vania tertawa kecil dan setuju, yakin pertemuan itu tak akan terulang. Sebuah tantangan konyol yang dianggap tidak masuk akal. Namun, apa yang terjadi ketika takdir rupanya punya rencana lain. Seperti apa kisah mereka? Akankah takdir mempertemukan mereka kembali atau hanya sebagai kenangan manis yang menghiasi hari? Saksikan kelanjutan ceritanya>>>> #Note Kisah ini hanya cerita fiktif, apabila ada kesamaan nama, tempat, dan lain sebagainya mohon dimaafkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD