17. Tidak Lagi

1174 Words
Collins hanya memberi senyuman. "Adek makan siang dulu ya. Lihat, guru-guru pada lihat ke sini." Benar saja. Ketika ketiga pelajar itu memutar kepalanya ke belakang. Mereka melihat para guru melihat ke arah mereka. Buru-buru mereka pergi. "Nanti kita ngobrol lagi ya Mas ya." Di tempat guru-guru, Collins juga jadi bahan pembicaraan. "Lihat, saudaramu itu langsung ada yang suka. Murid-murid perempuan langsung ada yang mendekati dia ketika sendirian. Sayang, kamu gak bisa lihat, Aida. Saudaramu itu memang ganteng banget!" sahut salah seorang guru wanita yang duduk dekat Aida. "Iya. Jadi model juga bisa, la wong postur badannya juga bagus," sahut guru wanita yang lain. "Aduh, ibu-ibu ... kalau ngomongin cowok ganteng aja ... lupa sama suami di rumah," celetuk seorang guru pria senior. Namun komentarnya membuat semua guru tertawa. Tentu saja guru pria paling malas mendengar obrolan seperti ini, apalagi menggosip, tapi mau bagaimana? Kadang guru wanita paling sering mendominasi percakapan. 'Apa benar dia ganteng? Seperti orang Jepang? Tapi kenapa orang seganteng itu jadi tukang ojek?' Aida mulai gelisah. 'Ah, bukan itu intinya ....' Ia terlihat bimbang. **** Collins baru saja duduk di motornya ketika kembali tiga orang murid perempuan itu mendatanginya. Gadis yang mengajaknya bicara waktu itu menyodorkan bungkusan plastik padanya. "Mas, ini ada oleh-oleh buat Mas." Padahal saat itu ada Aida di sampingnya. Aida mendengar kata-kata muridnya dengan jelas. "Oh, kenapa Saya?" tanya Collins heran. Ia hanya melihat saja gadis itu mengulurkan tangan. "Oh, ngak papa, Mas. Saya belinya banyak, kok. Ini, ambil saja." Sambil melirik ke arah Aida, Collins mengambil bungkusan itu. "Terima kasih ya." "Iya. Permisi, Mas. Permisi, Bu." Ketiga gadis itu menganggukkan kepala pada Collins dan Aida, kemudian pergi. Collins berdehem pelan. "Apa Mbak mau?" Karena sungkan, ia menawarkan oleh-oleh itu pada Aida. "Eh, tidak. Itu 'kan buatmu. Ayo, pulang." Tidak ada senyuman di wajah wanita cantik itu. Collins sudah menyadari itu sejak menyetir mobil kembali pulang. Ada apa gerangan? Namun Collins berusaha optimis, ini hanya sebuah perubahan kecil menuju penyesuaian. Sepanjang perjalan, keduanya terdiam. Padahal mereka memang sering begitu tapi entah kenapa kali ini Collins berpikir kesunyian ini seperti neraka. Ia bahkan tak bisa membuat satu kalimat pun untuk memecah kesunyian ini, hingga motor itu akhirnya sampai di depan pagar rumah Aida. Wanita itu turun. "Bang ...." "Ya?" "Maaf, tapi untuk sementara aku gak pakai jasa Abang dulu ya?" Collins tentu saja terkejut. "Ke-kenapa?" Tenggorokan rasanya tercekat mendengar permintaan yang tak terduga itu. Aida terlihat bingung. Collins pun tak tahu harus berbuat apa. Ia syok. Apa Aida membencinya? Kenapa ia ingin memutuskan pertemuan ini, apa ... ia sudah punya calon? Astaga, kenapa tidak terpikirkan olehnya .... "Apa kamu ...." "Sudah ya, Bang." Aida berbalik dan membuka pagar. Segera setelah masuk, ia menutupnya. Wanita itu bergegas melangkah ke dalam rumah. Selama ini Collins tak pernah tahu, apa Aida punya tunangan atau tidak, karena ia tidak pernah bertanya, tapi ... Collins masih saja syok! 'Jadi, aku harus bagaimana ....' Pria itu hanya bisa memandangi Aida yang membuka pintu depan dan kemudian masuk menghilang di baliknya. Apakah ini pertemuan terakhir mereka? **** Waktu berlalu. Jika tak menemani babe di toko, Collins banyak mengurung diri di kamar. Perubahan ini bisa dirasakan seluruh penghuni keluarga Sabeni. Bahkan bila tak dipanggil, ia takkan keluar untuk makan. Malam itu ketika makan malam dan Collins enggan keluar, ia menjadi bahan pembicaraan ketiga keluarga angkatnya itu. "Eh, Ipah. Lu tau kenape Bara jadi begitu?" tanya enyak pada Ipah. Ipah yang hendak menggigit kerupuk terpaksa berhenti sejenak. "Yee ... Enyak, kayak kagak tau aje. itu mah orang patah hati, nyak. patah hati! Masa Enyak kagak ngerti juga, sih, Nyak?" Kini mata enyak berpindah ke arah babe. "Beneran die ditolak ame ustadzah entuh?" "Ss ... kalo itu babe gak tau." Babe menyentuh kepalanya. "Tapi enyak tau pan, kalo Bara udah gak ngojek lagi?" "Emang, apa hubungannye ame ustadzah?" Enyak mengerut dahi. "Lho, emang Enyak gak tau kalau Bara selama enih ngojekin ustadzah Aida doang?" Enyak melongok. "Oh, gitu." "Wah ... Enyak. Ketinggalan berita, Nyak," ledek Ipah. "Padahal Bara ganteng, anak enyak. Tapi kenapa ditolak ye?" sesal Enyak. "Lah, pan ustadzah Aida kagak bisa liat, Nyak," sahut Ipah lagi. Ia kemudian menyuap nasi ke mulutnya. "Yang pasti, bukan karena entuh. Ade banyak hal kenape orang bisa ditolak," ucap babe serius. "Mmh, gak gitu juga kali, Be! Paling, gak cinta," imbuh Ipah lagi sambil semangat mengunyah. "Sayang ustadzah gak bisa liat. Kalo bisa, mungkin die mikir, kalo nolak Bara," lanjut Enyak. "Mmh, bisa jadi!" Ipah mengangkat telunjuknya, membenarkan. "He!" Enyak menepuk bahu Ipah menyadari sesuatu. "Apa, Nyak?" Ipah bicara sambil masih mengunyah. Bahkan tersembur beberapa butir nasi dan air dari mulutnya. Ia segera membersihkan meja dengan lap tangan. "Elu, perawan. Mashaallah ...." Enyak menggeleng-gelengkan kepala melihat anak perempuan satu-satunya bicara dengan mulut penuh. Meja di dekatnya menjadi kotor. Ipah tersenyum lebar dengan wajah malu-malu. "Maaf, Nyak." "Heran aje, ade laki yang mau ame anak perempuan modelan kayak begini." Enyak melipat tangan di dadda sambil mengerucutkan mulutnya, sebal. Ipah melirik babe sambil menahan tawa. **** "Bara, temenin makan bakso, yuk!" Ipah yang keluar dari tempat kursus langsung mengajak adik angkatnya itu makan. "Males ah!" Collins terlihat acuh. Ya, belakangan ia tak begitu peduli dengan yang terjadi di sekelilingnya. Bahkan tubuhnya makin kurus karena sering lupa makan. "Ya ampun, temenin doang ...!" Ipah meraih lengan Collins dengan paksa. "Ayok, ah! Kudu temenin aje, kagak mau. Tuh, lihat! Badan lu makin kurus aje!" "Aku masih kenyang, Mpok." Pria itu menghindar sambil mengusap perutnya. "Kalo gitu, es teler aje ye?" "Enggak ah, banyak banget!" "Entar Ipah bantuin." Collins menyorot ragu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa saat sang kakak angkat menyeretnya ke motor. Collins memakai helm dan memberikan helm yang satu lagi pada Ipah. **** Motor Collins melewati rumah Aida. Terpaksa. Ia kadang harus mengantarkan pesanan orang seperti hari ini. Collins harus mengantar tabung gas pesanan pelanggan toko babe. Pria itu memang sudah tak pernah bertemu dengan Aida lagi di mana pun, bahkan di depan rumahnya sekalipun, sudah dua minggu. Namun kali ini ia heran melihat pagar dan pintu rumah wanita itu terbuka. 'Ah, bukan urusanku', batinnya. Collins berhenti di depan sebuah rumah di dalam gang. Ia turun. "Gas, Bu!" teriaknya dari depan pintu rumah yang terbuka. Seorang wanita muda berlari-lari mendatanginya. "Eh, iya, Bang. Masuk." Collins mengikuti sang wanita sambil membawa tabung gas masuk ke dapur. Hanya saja pakaian wanita ini sedikit mengganggunya karena memakai baju daster pendek dengan model tali di bahu. Wanita itu memang cantik dan bertubuh sintal. Namun sepertinya ia sengaja berpakaian seperti itu karena wanita itu selalu begitu setiap Collins datang. Apalagi di rumah itu wanita itu selalu sendirian. "Pasangin ya, Bang?" "Iya." Collins melepas kepala gas pada tabung yang kosong, kemudian memindahkan ke yang baru. Setelah gasnya bisa dinyalakan, ia menukar tabung gas itu dan siap membawa yang kosong. "Bang, minum dulu." Wanita itu terlihat genit dengan menyodorkan segelas air putih. "Ah, maaf. Saya sudah banyak minum." Wanita itu cemberut. "Permisi." Collins mengangkat tabungnya. "Eh, Bang. Kapan-kapan jalan, yuk?" 'Hari ini dia mulai berani mengajakku ... kemajuan!' Collins menahan geram. "Eh, maaf. Saya sibuk." Ia memasang wajah datar. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD