“Kanjeng, den Danuri ada di luar.” 'Deg. Hust. Hust.' Kanjeng Kaseni menarik napasnya panjang dan dalam, tangannya yang tadinya sibuk memakan apa yang ada di piring di depannya, kini langsung dicucinya di kobokan miliknya, merapikan kebaya yang dikenakannya karena takut akan kusut nanti, “Nduk, kamu habiskan dulu makannya, aku tak lihat Danuri.” ucap kanjeng Kaseni yang melihat nasi di piring putrinya tinggal sedikit. Segera ke luar untuk menemui pemuda yang datang ke rumah besarnya itu tanpa menunggu jawaban dari putrinya yang entah menjawab iya atau tidak. Kanjeng Kaseni tidak sabar untuk bertemu dengan pemuda berparas tampan itu. Jantungnya semakin berdegup tak karuan mana kala langkahnya semakin dekat dengan teras rumahnya, sangat yakin Danuri memang duduk di sana karena tidak menemu

