*** "Gevania benar. Bisa jadi mimpi aku semalam adalah pertanda. Ck, apa aku minta Papa buat datangin sekali lagi rumah Kakaknya Tante Raihana ya? Siapa tahu jawaban dia waktu itu bohong." Bermonolog di tengah kegiatannya bersantai, itulah yang Sean lakukan siang ini. Tidak lagi di apartemen Gevania, dia sudah kembali ke unitnya setelah beberapa waktu lalu Gevania mengeluh ngantuk. Paham terhadap beberapa perubahan pada perempuan itu, dengan senang hati Sean mempersilakan Gevania tidur sementara dirinya pulang. "Coba telepon Papa deh." Tidak sekadar berucap, Sean merogoh ponselnya dari saku celana. Sambil menikmati semilir angin di balkon, dia menghubungi Renan. Tidak perlu menunggu lama, panggilannya dijawab, dan suara sang papa pun terdengar. "Halo, Sean. Kenapa?" "Papa udah tidur

