"Kamu enggak perlu ikut campur. Ini urusan saya sama Vey," ujar Rey yang tidak suka melihat kedatangan Kenan. Apalagi melihat Vey yang jelas-jelas menggenggam lengan Kenan, membuatnya diam-diam cemburu.
"Stop! Aku enggak mau Om Rey di sini. Pergi!" tegas Vey yang tidak tahan lagi karena menurutnya, Rey terlalu banyak bicara.
"Tapi, Vey, kamu belum jelasin apa-apa ke saya." Rey tetap kukuh tidak akan pergi sebelum Vey mengatakan apa permasalahan yang membuat perempuan itu tidak bersemangat.
"Nan, panggil satpam! Minta Om Rey pergi dari sini!" pekik Vey dengan sangat lantang sehingga membuat Nia datang untuk melihat apa yang terjadi.
"Kenapa Om enggak mau pergi juga? Apa enggak kasihan sama Vey yang kelihatan syok kayak gini? Apa Om mau tanggung jawab kalau ada apa-apa sama Vey, mengingat kondisinya yang lagi enggak baik? Atau ... apa aku perlu telepon Om Altezza buat minta pertolongan?" cecar Kenan dengan nada bicaranya yang santai.
Tentu saja Rey tidak ingin Altezza tahu tentang hubungannya dengan Vey yang sudah terlalu jauh. Bisa-bisa dirinya dipecat dan tidak punya pekerjaan lagi.
Dengan pasrah, Rey melangkah pergi menjauhi Vey yang masih terisak di samping Kenan. Sedang Kenan, sejak tadi tidak henti melempar tatap tidak suka pada Rey, karena dia sudah curiga bahwa laki-laki itu yang menyebabkan Vey hamil.
Kenan berencana mencari tahu hal itu, tetapi sayang, sepertinya kondisi Vey tidak memungkinkan untuk banyak ditanya. Dia pun hanya bisa diam dan mengurungkan niat awalnya untuk mengorek informasi dari Vey.
Dalam langkahnya menjauh dari Vey, Rey diliputi rasa cemas terhadap sikap tidak acuh perempuan itu yang sungguh di luar dugaan. Jika biasanya Vey akan bermanja-manja saat dirinya datang, tetapi berbeda dengan hari ini karena Vey seperti perempuan yang tidak pernah dia kenal.
"Kamu enggak apa-apa, Vey?" tanya Kenan begitu Rey tidak terlihat lagi.
Nia pun melangkah masuk untuk melihat kondisi anak majikannya yang terlihat sangat rapuh, lebih rapuh dari biasanya. "Maaf, permisi. Non Vey, kenapa tadi teriak-teriak histeris begitu? Sebenernya apa yang terjadi sama Non Vey? Den Kenan apa tahu?" tanya wanita paruh baya itu.
Kenan menoleh pada Vey yang perlahan melepaskan genggamannya dari lengan Kenan. Perempuan itu jatuh terduduk dan kembali menangis tersedu.
Vey merasa bodoh karena telah tertipu dengan sikap penuh perhatian yang dicurahkan Rey padanya. Tadinya perempuan itu mengira bahwa Rey bersungguh-sungguh menyayanginya seperti yang sering kali dikatakan lelaki itu kepadanya. Namun, melihat pemandangan panas Rey di klub dengan seorang perempuan kala itu membuat keyakinan Vey tentang segala kebaikan Rey terpatahkan begitu saja.
"Vey, bangun. Kamu boleh nangis, tapi jangan kayak gini." Kenan berusaha membujuk Vey supaya bangkit dari lantai.
Nia yang melihat pemandangan itu begitu miris dan ikut sedih. Tidak terasa, wanita paruh baya itu turut menumpahkan cairan hangat dari kedua sudut mata melihat Vey yang sangat kacau dan hancur, meski dia tidak tahu betul masalah apa yang sedang dialami Vey. Dirinya hanya merasa heran karena Rey yang biasanya paling bisa menenangkan anak majikannya itu, justru menjadi satu-satunya orang yang terlihat sangat dibenci Vey untuk saat ini. Diam-diam, Nia penasaran dengan apa yang dilakukan Rey, sampai-sampai lelaki itu begitu dibenci.
Kenan berhasil meminta Vey untuk bangkit dan berpindah ke atas tempat tidur. Tatapan sayu yang dilayangkan perempuan itu membuat Kenan tidak tega. Dia kembali menduga-duga, apakah Rey penyebabnya? Apakah Rey yang sudah membuat Vey seperti sekarang?
"Bi, bisa tolong keluar sebentar? Aku mau bicara empat mata sama Vey," pinta Kenan dengan sopan.
Nia yang masih terdiam dengan wajah basah hanya mengangguk menurut pada pemintaan Kenan. Wanita paruh baya itu mundur perlahan dan membiarkan Kenan berbicara berdua saja dengan anak majikannya. Tidak lupa, Nia menutup pintu kamar setelah keluar dari ruangan bernuansa modern milik Vey.
Perlahan Kenan menghampiri Vey dan duduk di tepi tempat tidur, menghadap ke arah perempuan pujaan yang kini tengah berbadan dua.
"Jujur sama aku, Vey. Apa tujuan kamu kemarin buat cari Om Rey itu ... buat kasih tahu dia kalau kamu hamil? Apa bener, itu anak Om Rey?" tanya Kenan dengan hati-hati karena tidak ingin Vey marah.
Bukan jawaban yang didengar Kenan melainkan isak tangis yang semakin jelas terdengar. Bahu Vey terlihat naik turun seiring dengan isak tangis yang masih saja terdengar.
"Kenapa kamu enggak jujur aja, Vey? Bilang sama orang tua kamu kalau Om Rey yang udah buat kamu ham—"
"Enggak!" potong Gladys Alveyra dengan cepat. "Aku enggak mau dinikahin sama dia. Aku enggak mau laki-laki jahat itu jadi suami aku, Nan." Napas Vey mulai tidak beraturan akibat isak tangisnya yang tertahan.
Vey merasa hatinya sangat pedih. Dia tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa. Selain Kenan, tidak ada lagi teman yang dia punya, karena Vey terlalu menutup diri.
Kenan tidak mengerti kenapa Vey menolak sarannya mentah-mentah. Bahkan dia juga heran kenapa Vey bersikap ketus pada Rey yang biasa mengantar ke mana pun Vey pergi.
"Tapi ... bukannya dia yang udah ...." Kenan tidak mampu berkata-kata lagi. Dia tidak ingin membuat Vey semakin tertekan dengan mendengar ucapannya yang tidak diinginkan perempuan itu.
Vey menggeleng cepat. "Aku enggak mau, Nan. Aku jijik sama Om Rey," lirihnya di antara isak tangis yang belum juga reda.
Kenan diam sembari berpikir. Mungkinkah Vey melihat saat Rey tengah bersama seorang perempuan yang biasa dia kencani? Tanpa sadar laki-laki itu menggeleng samar.
"Harusnya aku percaya sama kamu dari dulu. Harusnya aku enggak terlalu deket sama Om Rey. Harusnya aku ...." Vey tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Perempuan itu berpikir bahwa semua yang terjadi padanya adalah kesalahan kedua orang tua yang tidak begitu memperhatikannya.
"Jadi bener, kamu udah lihat sendiri tentang kebiasaan laki-laki yang sering kamu banggakan itu?"
"Nan, bantu aku. Aku harus gugurin anak ini sebelum perut aku semakin besar, Nan. Aku enggak mau nikah sama Om Rey. Aku juga enggak mau hamil di luar nikah. Aku enggak mau, Nan." Vey semakin tidak terkendali.
"Vey, kamu enggak boleh lakuin itu. Kamu bukan orang jahat, kamu bukan pembunuh, Vey." Kenan tidak ingin perempuan yang dicintai melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.
"Tapi aku enggak mau nikah sama Om Rey. Dia enggak sebaik yang aku pikir. Aku kecewa sama dia, Nan."
Meski rasa sesak itu masih menggelung hati, setidaknya Vey lega karena bisa berbicara dengan Kenan tentang apa yang dia rasakan. Vey juga tidak menyangka bahwa Kenan yang selama ini dia jauhi, justru mau mendengar keluh kesahnya tentang Rey.
"Kalau gitu cuma ada satu cara, Vey."
Vey menatap Kenan dengan sungguh-sungguh. "Apa?"
"Biarin Papa kamu tetap ngira kalau aku yang udah menghamili kamu. Kita bisa nikah dan Om Rey enggak akan pernah tahu kalau bayi yang kamu kandung adalah anaknya," ujar Kenan dengan ide gilanya.
Vey tidak percaya dengan kata-kata yang dilontarkan Kenan barusan. "Nan, apa kamu enggak waras?"