Bab 7. Arman vs Bara

1396 Words
Keesokan harinya ketika akan berangkat kerja, Amanda dikejutkan dengan kedatangan Bara yang tiba - tiba. "Bara." Amanda menghampiri Bara yang bersandar di pintu mobilnya tersenyum ke arah Amanda. "Ayo kita berangkat." Bara membukakan pintu moblinya untuk Amanda. Bara melajukan mobilnya menuju ke tempat kerja mereka. "Bar, jangan terlalu merepotkan dirimu sendiri untuk menjemputku berangkat kerja." Amanda merasa tak enak hati jika harus dijemput Bara. Bara hanya tersenyum tanpa menoleh ke arah Amanda. "Tidak ada yang direpotkan, kamu sahabatku jadi memang seharusnya seperti ini kan? oh ya bagaimana perceraianmu?" "Oh ya, aku hampir lupa. Seharusnya aku segera menyuruh Mas Arman untuk mengurus perceraiannya." Amanda lupa jika perceraiannya belum diurus oleh Arman dan dirinya. Amanda bisa saja mengurusnya sendiri, namun dia ingin jika Arman yang mengurusnya sebagai penggugat perceraian. "Kenapa tidak kamu urus sendiri?" "Dia yang menceraikanku, maka dia pula yang harus mengurusnya. Aku ingin lihat, seberapa kuat hatinya ketika akan bercerai denganku." "Apa kamu masih suka dengannya?" Bara ingin tahu isi hati sebenarnya hati Amanda. "Aku tidak suka, Bara. Semenjak foto itu beredar, rasa cintaku sudah pupus." Amanda menatap nanar ke depan. "Apa ibunya Arman mendukung apa yang telah dilakukan anaknya?" "Pastinya, dia dari dulu memang tidak menyukaiku. Dia sekarang senang karena wanita itu mengandung anak Mas Arman. Namun Mas Arman dan ibunya belum tahu jika anak itu bukanlah anak kandung Mas Arman. Mas Arman itu ada gangguan di organ reproduksinya, dan tidak secepat itu untuk mempunyai anak. Harus ada bebrrapa tahapan untuk proses penyembuhan." Bara terkejut mendengar jawaban Amanda. Amanda ternyata lebih pintar dari dugaannya. Di mata Bara, Amanda bukanlah wanita yang mudah dibodohi. Wanita yang kritis dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. "Begitu ya. Baiklah, apapun keputusanmu setelah ini pasti aku dukung." ada rasa khawatir jika Amanda suatu saat akan kembali pada Arman. "Jangan selalu mendukungku, jika aku bertindak kurang tepat kamu boleh mengingatkanku." sahut Amanda. Tak lama mereka berdua sampai ke parkiran tempat kerja mereka berdua. Bara dan Amanda menangkap sosok lelaki yang dikenalnya tepat di pintu masuk perusahaan itu. "Mas Arman, kenapa dia di sini?" gumam Amanda yang terkejut dengan kedatangan Arman di kantornya. "Jadi benar dugaanku, kamu menjalin hubungan dengan Bara." Arman memandang sinis ke arah Amanda dan Bara dengan pandangan merendahkan. "Ada masalah, Mas? aku jalan dengan siapapun bukan urusanmu." sahut Amanda membuat hati Arman semakin panas. "Oh tentu tidak, Bara tidak cocok untukmu, dia itu gay." ingin rasanya Bara menampar mulut Arman tetapi Amanda menahannya. Amanda tahu jika Bara sudah mengepalkan tangannya dan bersiap meninju Arman. "Oh ya. Apa kamu punya bukti, Mas?" Amanda menatap sinis Arman dan membuat Arman semakin gugup. "Kamu sudah menunjukkan kegugupanmu dan itu tandanya kamu hanya mengarang indah. Wajarlah jika kamu dulu sering ikut drama saat sekolah, ternyata kamu pintar bersandiwara." gantian Arman semamin terpojok dengan ucapan Amanda. "Bar, yuk masuk!" Amanda berlalu namun kembali lagi ke hadapan Arman. "Jangan lupa surat cerainya diajukan dan segera nikahi perempuan itu." Amanda memandang rendah Arman yang diam membisu dan segera masuk ke dalam ruang kerjanya. Hati Bara merasa panas ketika dia dibilang gay oleh Arman. Jika Amanda tidak menahannya maka bisa saja Arman babak belur karenanya. Amanda tahu jika Bara berada di tempat yang tidak tepat jika melakukan kekerasan pada Arman sehingga dia menahannya. "Man, kenapa kamu tahan aku?" Bara berjalan mengikuti Amanda. "Karena aku tidak suka jika sahabatku difitnah yang tidak - tidak, Bara. Lagian posisimu juga sebagai manajer jadi menurutku kurang pantas jika melakukan kekerasan di tempat kerja. Bisa jadi reputasimu hancur karena dia." alasan yang tepat untuk menangkan hati Bara. "Terimakasih, Man. Nanti kita makan siang di warung depan ya." Bara sengaja mengajak makan siang dan menjalankan aksi pendekatan hatinya untuk Amanda. "Baik, tunggu aku di lobi kalau begitu." Amanda masuk ke ruangannya begitu juga dengan Bara. "Jika saja kamu tak menahanku, aku pasti sudah menghajar mantan suamimu yang mulutnya kayak comberan mengalir." Bara masih terselimuti emosi atas tuduhan Arman. * "Sial! dia membela Bara. Jika dia tidak gay, pasti dia punya cewek." Arman mengusap rambutnya dengan kasar. Arman belum juga bergeming dari tempatnya bertemu dengan Amanda. "Sepertinya kamu frustasi, Arman." Bara melihat kegelisahan Arman dari ruangannya. Jendela kaca mengarah ke pintu masuk, tepat posisi Arman yang masih berdiri di sana. "Lihat saja, Amanda adalah wanita pujaanku. Suatu saat kamu pasti menyesal setelah aku mendapatkan Amanda. Kamu akan sangat menyesal melihat Amanda bahagia bersamaku." Bara menatap sinis ke arah Arman. Arman gegas kembali ke tempat kerjanya setelah berhasil menghina Bara meski kembali kesal karena pembelaan Amanda. Berkali Arman melampiaskan kekesalannya dengan menyalakan klakson berkali - kali saat lampu merah. "Woy! dasar gila!" umpat seorang pengendara sepeda motor yang terganggu dengan suara klakson Arman. [Cepat urus perceraian, aku tak ingin lama - lama seperti ini] pesan dari Amanda. "Oh, jadi kamu ingin segera resmi bercerai karena sudah bersama Bara." Arman menatap sinis ke arah ponselnya. [ Baik, akan ku kabari jika surat gugatannya sudah jadi dan kamu tinggal tanda tangan] balas Arman yang diselimuti emosi. "Lihat saja, aku kan bahagia bersama Vera. Dia memang tak secantik dirimu, namun dia sanggup memuaskan aku dan akan membuatku menjadi seorang ayah." Arman bergumam sendiri dan tersenyum puas merasa sudah benar dengan keputusannya. Arman kemudian meminta izin HRD untuk tidak masuk karena akan mengurus gugatan cerainya. Arman bahkan memberikan alasan yang tidak logis jika Amanda sudah menghianatinya. Setelah mendapat izin, Arman kemudian kembali ke rumah untuk mengambil surat nikah dan beberapa berkas lainnya dan segera ke pengadilan agama. "Lihat saja, Amanda. Aku akan bahagia bersama anakku dan juga istriku, Vera." Arman tersenyum melihat semua berkas persyaratan perceraian sudah berada di tangannya. Arman melangkah dengan percaya diri untuk mengajukan gugatannya dengan alasan tidak memiliki kecocokan lagi dan sudah berbeda pemahaman. Gugatan perceraianpun dikabulkan dengan keluarnya surat resmi gugatan cerai. Arman melajukan mobilnya ke sebuah cafe untuk menunggu Vera makan siang dengannya. Sebelumnya Arman sudah mengabari Vera jika akan mengajaknya makan siang. Vera sangat senang karena Arman mulai takhluk dengannya. "Sudah lama menunggu, Mas?" Vera datang dengan gelayut manja. "Belum lama sih. Sudah yuk, kita makan!" Arman mengambil buku menu dan mulai memesan makanan, begitu pula dengan Vera. "Ver, aku senang sekali karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah." Arman menggenggam tangan Vera. "Aku juga, Mas. Aku bahagia bisa menjadi istrimu." Vera dengan jurus mulut madunya. "Ibu tadi nanyain kamu, dia minta nanti malam kamu datang untuk makan malam." seketika Vera diam membisu mendengar permintaan Arman. Malam nanti dia akan menemui Heru untuk melepas rasa rindunya. "Nanti malam sepertinya Vera tidak bisa, Mas. Vera ada janji dengan teman arisan Vera, mungkin besok baru bisa main ke rumah Mas Arman." Vera memberikan alasan palsu untuk menolak ajakan Arman. "Baiklah, besok saja kalau begitu." Arman mengalah dan memilih melanjutkan makanannya. Terlihat di tempat yang sama, Heru tersenyum melihat kedekatan Vera dan Arman. Rencananya berhasil dengan menggunakan Arman sebagai tameng untuk menutupi kelakuannya bersama Vera. Heru mengambil beberapa gambar mereka berdua, sesekali Vera menyuapi Arman begitu pula Arman yang bergantian menyuapi Vera seperti ABG sedang jatuh cinta. Selesai makan siang, Arman gegas kembali ke rumah untuk melepas penatnya. Lebih tepatnya suasana hatinya yang sedang penat teringat lagi dengan kedekatan Amanda dengan Bara. Sepasang mata Arman melihat status Amanda yang sedang makan bersama Bara dengan tulisan "kau sahabat terbaikku" membuat Arman semakin panas. Dia juga tidak mau kalah, dipasangnya foto mesra bersama Vera yang dia punya. Terlihat tidak pantas memang, lelaki belum resmi bercerai sudah bermesraan dengan wanita lain. Amanda juga melihat status Arman membuat tertawa geli. Geli karena sebagai lelaki, Arman tak bisa menjaga harga diri apalagi foto itu kurang pantas jika diposting melalui media sosial. Di ruang kerja, Bara tak hentinya memandang foto kebersamaannya yang diposting Amanda. "Tidak apa jika kamu menganggapku sahabat, tapi perlahan aku akan mengambil hatimu dan menuliskan namaku, hanya namaku di hatimu." Bara menangkap layar foto itu dan tersenyum bahagia. Tok Tok Tok "Pak, tolong tanda tangani." Ferdy menyerahkan beberapa dokumen pada Bara. Dengan teliti, Bara membaca setiap poin sebelum dia menandatanganinya. "Sumringah amat, seperti sedang kejatuhan bulan runtuh." Sindiran Ferdy ditujukan pada Bara. "Apa'an sih kamu, Fer." Bara memberikan dokumennya kepada Ferdy setelah menandatanganinya. "Pepet terus, raih hatinya dan buat dia bahagia! jangan sampai diambil orang lagi." bisikan Ferdy membuat Bara salah tingkah. "Sudah, sudah. Kembali bekerja." "Jika butuh saran untuk mengungkapkan rasa cinta, bisa cerita ke aku." ucap Ferdy sebelum meninggalkan ruangan Bara. "Sepertinya ucapan Ferdy benar juga. Aku harus sabar menunggu Amanda bercerai dan melakukan saran Ferdy." Bara tersenyum dengan rencana yang akan dilakukannya kelak
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD