Seminggu berlalu, Ruby mendapat kunjungan tak terduga dari ibu Adinda. Wajah wanita tua itu tersenyum cerah dengan ekspresi sangat senang penuh haru. “Syukurlah kamu sudah sadar, Ruby! Aku pikir kamu akan pergi untuk selamanya! Kenapa kamu melakukan hal bodoh begitu?” ucapnya penuh ketulusan. Dia meraih kedua tangan Ruby dan menggenggamnya erat. “Terima kasih sudah mau datang mengunjungiku. Tapi, bagaimana Anda tahu saya ada di sini?” tanya Ruby heran, menatapnya polos dengan wajah masih sedikit pucat. Ibu Adinda tersenyum malu-malu, berkata dengan sedikit canggung. “Pria tampan yang merawatmu yang memberitahuku apa yang terjadi. Katanya, kamu memiliki kecenderungan untuk bunuh diri, dan depresimu saat di penjara muncul kembali. Makanya, dia secara khusus mencari tahu tentang dirimu, la

