Bab 17 Hatinya Sudah Membeku

2031 Words
Di tahun ini, musim hujan datang lebih cepat daripada tahun-tahun biasanya, tapi sempat mengalami cuaca cerah selama beberapa waktu. Sayangnya, tidak hari ini. Seolah tahu apa yang tengah menimpa Ruby, awan mendung tiba-tiba menghiasi langit ibukota. Membuatnya muram dan kelam seperti hati Ruby yang saat ini menggelap tidak nyaman penuh kegelisahan, mata menatap datar dan kelam pada bangunan tinggi menjulang di hadapannya. Itu adalah menara pencakar langit milik keluarga Huo. Sekali lagi, wanita bermasker medis itu menjejakkan kakinya ke gedung megah tersebut untuk menemui sang mantan suami. Tentu saja untuk memohon sekali lagi kepadanya. “Ruby! Tolong aku! Kamu tahu kalau perusahaan ini adalah satu-satunya yang aku miliki! Anakku ada tiga. Mereka semua masih kecil-kecil, dan istriku bisa menceraikanku jika perusahaan tiba-tiba tutup dan bangkrut! Aku mohon, bicaralah dengan pria itu! Minta maaf kepadanya dan akui kesalahanmu! Hanya kamulah satu-satunya harapanku saat ini! Aku akan berhutang budi seumur hidup kepadamu! Aku juga tidak marah terkait kejadian kemarin, bukan? Tolonglah, Ruby! Aku mohon! Kamu tahu betapa kejam para orang kaya jika sudah bertindak!” Beberapa menit lalu, Rubyza Andara baru saja menghadap bosnya, dan mendengar keluh kesuh pria gendut bertubuh tinggi itu sambil berlutut di lantai. Tidak ada yang akan pernah menyangka kalau bos mereka akan rela merendahkan diri di hadapan seorang wanita yang miskin dan jelek sepertinya di depan semua orang. Dia memohon kepada Ruby agar mau menemui Aidan Huo terkait masalah insiden di lobi kemarin pagi. Pria itu bahkan tidak punya kekuatan untuk memarahinya, malah sebaliknya, seolah-olah hidup dan matinya bergantung kepada Ruby seorang. Tampaknya, otak bosnya cukup bagus dalam menganalisa apa yang sedang terjadi. Ruby menduga, bosnya bisa menebak kalau dirinya dan Aidan Huo memiliki hubungan yang tak biasa. Apakah Argon sudah menceritakan semuanya? Sejujurnya, wanita berwajah rusak itu sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh mantan suami pertamanya ketika membuat masalah dengannya. Tapi, dia tidak menyangka kalau Aidan akan bergerak secepat ini untuk menekannya. Seperti yang dikenalinya, Aidan Huo adalah pria yang sangat pendendam. Dia adalah tipe pria yang tidak puas jika orang yang dibencinya tidak berakhir sampai hancur lebur hingga ke akar-akarnya. Tidak perlu jauh-jauh, cukup dirinya sendiri yang menjadi contohnya. Mantan istrinya sendiri yang telah menikah lebih dari setahun bersamanya. Di masa lalu, berbicara soal tuduhan fitnah dari Belinda yang membuatnya bermalam di penjara untuk kali pertama dalam hidupnya, dia bisa berhasil lepas dari murka Aidan karena Belinda berakting dengan sangat baik bagaikan seorang suci yang murah hati memaafkannya. Berlagak lemah dan tak berdaya dengan wajah munafiknya di depan Aidan. Apanya yang perlu dimaafkan? Dia sama sekali tidak bersalah! Jika bukan karena bujukan Belinda yang sok baik hati itu, dan adanya keinginan Aidan Huo untuk bercerai sebagai ganti kebebasannya, mungkin Ruby sudah lama masuk ke dalam penjara. Tidak perlu menunggu sampai Alaric Jiang menghinanya di hadapan media dan menceraikannya demi wanita lain juga. Sayangnya, sepertinya nasib mempermainkannya. Setelah 5 kali pernikahan yang gagal, dia tetap saja harus mendekam di balik jeruji dan menerima penderitaan yang tidak seharusnya diterima olehnya. Apa yang terjadi kepadanya bersama Aidan Huo beberapa tahun silam, ternyata terulang kembali kepada Alaric Jiang. Kedua pria itu adalah pria yang sama-sama dicintainya dengan tulus, tapi ternyata perlakuan mereka sama sekali tidak ada bedanya di ujung hari. Mereka berdua meninggalkannya demi wanita lain, dan bercerai menggunakan cara yang sama persis—membebaskannya dari penjara asalkan setuju mengakhiri pernikahan mereka. Bukankah itu sangat tragis? Gara-gara hal pahit yang sama persis itu, kini di hati Ruby tidak ada ruang untuk hal yang bernama cinta. Hatinya sudah membeku dan terkunci dari dunia. Memikirkan semua ketidakberdayaannya selama ini, hati Rubyza Andara memilu sakit. Dia seperti tidak dijodohkan untuk jatuh cinta dan dicintai. Tidak untuk mendapatkan kasih sayang dari pria yang dicintainya, pun dari keluarganya sendiri. Rubyza Andara jelas masih memiliki keluarga utuh. Mereka kaya dan terpandang, hidup sangat bercukupan dan bahagia. Tapi, dia sendiri sekarang malah seperti seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara dari belas kasihan orang lain. Sama sekali tidak ada yang pernah menghargai pengorbanannya sedikit saja. Mereka yang tidak menganggapnya, memang sudah tidak pantas berada dalam hidupnya sama sekali! Siapa bilang mereka membuangnya? Dialah yang membuang mereka sekarang! Sambil mengusap setitik air mata di sudut matanya, Ruby menegarkan hati dan berjalan menuju pintu masuk gedung di depannya. “Selamat pagi, nona! Ada yang bisa saya bantu?” sapa wanita resepsionis kepada Ruby yang tengah berdiri di meja. Lawan bicaranya mengangguk membalas sapaannya. Rubyza Andara memakai kaos putih sederhana berlapis kardigan merah, bawahannya berupa celana jeans murahan. Wajahnya juga ditutupi masker medis. Melihat penampilannya yang sangat sederhana dengan rambut diikat satu tanpa riasan wajah, wanita resepsionis mengira Ruby adalah seorang pengantar barang yang hendak menanyakan informasi, tapi ternyata yang keluar dari mulutnya sungguh di luar dugaan. “Maaf, saya ingin bertemu dengan Tuan Huo. Apakah dia sedang sibuk sekarang?” Sesaat, sang wanita resepsionis linglung dengan wajah bodohnya, lalu melirik gugup rekan kerjanya yang sibuk menerima tamu lain. Namun, karena merasa tidak bisa menyelanya, maka dia kembali menghadapi Ruby seorang diri. Ekspresinya dibuat tegas. “Maaf, boleh tahu Anda ini siapa? Tuan Huo yang Anda maksud, apakah Aidan Huo pemilik gedung ini?” Ruby mengangguk cepat. Ekspresi wanita resepsionis tiba-tiba tidak enak dipandang. Matanya segera menilai Ruby dari atas sampai bawah. Seumur-umur dia bekerja di perusahaan ini, dia belum pernah melihat seorang wanita seperti Ruby yang dengan beraninya ingin bertemu orang nomor satu di tempat mereka. Biasanya, wanita yang datang untuk menemui Tuan Huo adalah wanita dengan penampilan super cantik dan dengan latar belakang tak biasa. Tapi, yang berdiri di depannya saat ini? Siapa dia? Sungguh berani ingin menggoda bos mereka dengan penampilan tidak sopan begitu! Apakah dia itu bodoh atau terlalu percaya diri? “Maaf, nona. Tuan Huo adalah orang yang sangat sibuk, dan ini bukanlah tempat untuk bermain. Tolong segera pergi dari sini.” Mendengar hal itu, Ruby sangat paham apa yang tengah dipikirkan oleh wanita di balik meja. “Saya tahu kalau Tuan Huo adalah orang penting. Saya juga tidak punya waktu untuk dibuang-buang di tempat ini. Kalau tidak punya urusan penting, untuk apa saya datang ke tempat ini, bukan?” “Nona! Apa kamu tidak mengerti apa yang aku maksudkan? Tuan Huo tidak mungkin ingin bertemu dengan orang seperti kamu! Memangnya kamu ini siapanya, Tuan Huo? Hanya orang-orang penting saja yang akan ditemui olehnya! Jangan menipu di tempat ini! Selain itu, tolong buka masker yang kamu kenakan sekarang! Sikapmu saat ini benar-benar sangat mencurigakan!” Sang resepsionis mulai kehilangan kesabaran, dan mulai berbicara tidak sopan. Ini membuat orang-orang yang ada meja sebelah melirik ke arah mereka berdua dengan wajah penasaran. Ruby ingin sekali berkata kalau dia ini adalah mantan istri dari pria yang terlalu dipujinya berlebihan itu, tapi dia tahu diri dengan kondisinya saat ini. Lagi pula, dia tidak mau ada yang tahu kalau dulunya dia punya hubungan tertentu dengan pria kejam dan jahat seperti Aidan Huo. Benar-benar aib dalam hidupnya! Lebih menjijikkan daripada kotoran! Melihat sikap permusuhan sang resepsionis, Ruby menghela napas dalam hati, lalu perlahan membuka maskernya hingga membuat wanita di balik meja itu kaget luar biasa hingga kedua bola matanya membesar. Suara muntah dengan cepat terdengar dari mulut resepsionis itu. Tubuh membungkuk di seberang meja, dan tampak terdengar sangat mual. Mendengar suara muntah sang resepsionis, wajah Ruby mendingin gelap, sorot matanya setengah hampa. Masker segera kembali menutupi wajahnya. Ini adalah reaksi paling buruk yang diterima oleh Ruby dalam hidupnya setelah ada orang yang melihat wajahnya yang rusak parah. Memang sangat sulit untuk terbiasa melihat wajah monster yang dimiliki oleh Ruby. Jadi, dia tidak begitu mengambil hati dengan reaksi lawan bicaranya itu. Dia heran sendiri menyadari Aidan Huo yang telah melihat wajahnya, malah berakting pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Apakah karena terlalu senang keinginannya telah terwujud sampai lupa merasa jijik? Di awal-awal, Ruby sendiri jijik dan takut melihat wajahnya di cermin. Dia bahkan mencakar-cakar wajahnya seperti orang gila, dan sempat didiagnosis mengalami depresi parah selama beberapa hari sebelum mendapat perawatan di dalam penjara. Ruby sendiri juga sangat heran sampai sekarang mendapati dirinya tidak menjadi gila dengan semua siksaan dan tekanan mental yang dialaminya selama hampir 2 tahun di tempat bagaikan neraka itu. “Bisa tolong sampaikan saja kepada Tuan Huo kalau Rubyza Andara ingin menemuinya? Dia pasti akan segera mengerti kedatangan saya jika menyebutkan nama saya,” jelas Ruby ringan, mengabaikan suara muntah yang terus terdengar di seberang meja. Fisik Ruby sebenarnya masih terbilang sangat bagus, jika saja dia tidak bertubuh kurus sampai tulangnya menonjol dan dihiasi oleh bekas luka di mana-mana. Kulit wajahnya yang kusam dan berkeriput tidak begitu parah seperti yang Ruby pikirkan selama ini. Malahan, jika dilihat baik-baik, sebenarnya samar-samar dia masih memiliki pesona kecantikan masa lalunya. Hanya saja, beberapa orang pasti tidak akan tahan jika melihat bekas luka di wajahnya untuk waktu yang lama. Selain wajahnya yang kusam dan sedikit berkeriput gara-gara kualitas tidur yang buruk, kulit tubuhnya yang lain juga masih terbilang cukup halus dan putih. Selama di dalam penjara, Ruby yang suka mendapat siksaan tiada henti, hampir menghabiskan semua waktunya menyendiri di sudut gelap dan terasing untuk tidak menarik perhatian. Dia sangat jarang menyentuh matahari hingga membuat kulitnya putih pucat seperti mayat hidup. Barulah setelah keluar dari penjara dan mendapat pekerjaan, kulit wajahnya berangsur-angsur mendapatkan sedikit warna yang agak manusiawi. Dengan kondisi kulit seperti itu, bekas-bekas luka yang menggelap dan jelek di balik pakaian Ruby, membuatnya terlihat sangat jelas dan mencolok. Kulit putih pucatnya yang kontras dengan bekas-bekas luka menggelap itu, memberikan efek mengerikan dua kali lipat daripada seharusnya. Itulah sebabnya Ruby selalu memakai pakaian yang sangat tertutup seperti sekarang. Orang-orang akan sangat jijik kepadanya, meski kulitnya sebenarnya terbilang sehat dan luka-lukanya sudah sembuh total. Dia seperti bunga mawar putih dengan banyak noda hitam di tubuhnya. Cantik, tapi mengerikan di saat yang sama. “Kamu tidak apa-apa?” tanya wanita resepsionis di sebelahnya, memukul-mukul punggung lawan bicaranya yang masih saja mual dan muntah. Setelah menghalau tangan rekan kerjanya, sang resepsionis yang muntah itu pamit sambil memberi kode untuk pergi ke toilet. Meninggalkan rekan kerjanya dalam keadaan bingung dan linglung. “Kenapa dia sampai muntah-muntah seperti itu, ya? Apa dia sakit perut atau sedang hamil?” gumamnya dengan kening bertaut heran. “Permisi, apakah saya bisa meninggalkan pesan untuk Tuan Huo?” sela Ruby dengan suara seraknya. Sang resepsionis baru menoleh ke arahnya, kening bertaut dalam. “Maaf, boleh tahu ada keperluan apa? Sudah ada janji?” Ruby menghela napas berat. Dia sejujurnya tidak bisa berbicara terlalu banyak dalam waktu lama. Itu terkadang membuat tenggorokannya sakit. “Saya memang belum membuat janji dengan Tuan Huo, tapi ini adalah hal yang sangat mendesak. Jika memang dia sangat sibuk dan tidak bisa menerima tamu sembarangan, saya hanya ingin menitipkan pesan kepadanya. Apakah Anda bisa menyampaikannya?” Sang resepsionis meraih kertas dan pena dengan wajah terlihat ragu-ragu, “boleh. Silakan katakan pesan Anda. Akan saya sampaikan pada sekretaris Tuan Huo nantinya.” Ruby mengangguk pelan, lalu membuka suara,” tolong sampaikan ini: Aku tahu apa yang sedang kamu mainkan. Tindakanmu terlalu kekanak-kanakan. Gayamu sudah terlalu basi. Sangat ketinggalan zaman. Kenapa kamu tidak segera mati saja? Berhentilah menindas orang yang tidak bersalah.” Jantung sang resepsionis sudah mau seperti melompat keluar, tertegun kaget mendengar pesan yang akan disampain kepada bos besar mereka. Apakah wanita di depannya ini sudah gila? Dengan wajah tenang di balik masker medisnya, Ruby mengonfirmasi. “Apakah sudah dicatat?” “I-itu.. pesannya agak... ehem... bagaimana, ya?” balas sang resepsionis linglung, kepala dimiringkan dengan tatapan gelisah. Mata Ruby tersenyum jahil, lalu tertawa tenang, seketika dengan cepat memahami keadaan sang resepsionis. “Maaf. Saya hanya bercanda. Tolong sampaikan saja jika Rubidium telah datang sesuai dengan keinginannya. Tuan Huo pasti tahu apa yang dilakukannya setelah mendengar pesan saya ini.” “Apakah Anda punya nomor telepon untuk ditinggalkan?” Apa hubungannya wanita biasa ini dengan bos besar mereka? Ruby menggeleng pelan. “Besok saya akan datang ke mari untuk mendengar balasannya sendiri. Tuan Huo tidak akan menelepon orang jika tidak memiliki kepentingan lebih dulu dengan orang itu. Jadi, percuma saja.” Belum sempat kalimat Ruby dibalas, sebuah suara dingin yang tajam dan arogan menyindirnya dengan sangat sinis. “Kalau tahu diri begitu, seharusnya kamu tidak perlu muncul di tempat ini, bukan?” Punggung Ruby menegang, memucat kelam mendengar suara Aidan Huo yang tiba-tiba terdengar tepat di belakangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD