Kenyataan Tentang Kasus Lama

1562 Words
Berjalan dengan langkah yang pelan sekali, namun pasti. Yuni mengumpulkan keberanian untuk sampai di titik yang ditunjukkan bayangan mahasiswi tadi, yang seperti muncul dalam kelebat bagai angin, tapi terasa nyata dan bisa dilihat. Masih merasa berdebar dan sungguh ketakutan itu ada dan memenuhi tiap sisi celah hati Yuni. Gadis itu masih coba mendekat dan semakin mendekat ke tempat folder lama. Ia menatap dengan begitu serius. Tak dibiarkan sedetik saja pandangannya menjauh dari tumpukan folder lama. ‘Untuk apa aku harus lihat ini, apa ada sesuatu disini? Tapi apa, itu cuma tumpukan berkas lama yang mungkin aku nggak ngerti gunanya apa?’ batin yuni bertanya sendiri. Ia pun mulai mengambil lembar per lembar kertas-kertas yang ada dalam satu tumpukan tersebut. Hanya ada lembaran kertas HVS, hingga ada sebuah benda yang sama kertasnya terlihat berbeda. ‘Surat kabar,’ batin Yuni. Ia mulai menelan saliva. Ada bisikan agar dirinya mengambil surat kabar tersebut. Semakin lama semakin berdebar hatinya. Seiring dengan ujung jari yang mulai tersentuh dan bergetar hingga harus meyakinkan diri kalau mungkin untuk berani menuruti kata hati. Ambil surat kabar itu dan buka untuk dibaca. Mungkin saja ada petunjuk yang akan ditemukan. “Aku harus ambil, bukannya niat dari rumah memang untuk ini.” Yuni bicara sendiri lagi. Entah mengapa perasaannya juga bilang kalau ada yang mengawasi. Sebelum tangannya membuka koran lama itu. Ia sempatkan diri untuk memperhatikan sekeliling ruang kerja Pak Haris, ternyata masih begitu sepi, dan jelas memang seharusnya begitu. Lagipula ini juga masih terlalu pagi. Tapi, sungguh perasaan Yuni mengatakan seperti ada orang selain dirinya. “Buka dan baca, aku pasti dapat petunjuk.” Yuni mulai membuka lembar per lembar koran lama itu. Warnanya begitu terlihat pudar tapi tulisannya masih sangat jelas. Yuni coba meneliti, koran ini adalah koran yang diterbitkan beberapa tahun lalu, mungkin saat dirinya masih bocah. Kaget juga kenapa bisa ada koran yang lama sekali tersimpan di dalam ruangan ini. Deg Jantung Yuni seakan lepas melihat sebuah judul berita yang menunjukkan lokasi titik dimana kampusnya bekerja. ‘Dibunuh pacar sendiri. Karma itu nyata,’ ungkap hati Yuni membaca judul berita yang ada di depan matanya. Ia pun melanjutkan sejenak untuk membaca berita tersebut. Ter-eja dengan jelas kalau itu memang terjadi di kampus tempat Yuni bekerja. Ia merasa bibirnya bergetar untuk melanjutkan agar bisa membaca berita tersebut lebih jauh. Tapi, tetap akhirnya dilakukan untuk mendapat info yang dibutuhkan. Yuni merasa seketika sulit berbicara. Ia hampir saja membiarkan mulutnya menganga terlalu syok. Namun, sadar segera digigit saja bibir bawahnya agar segera menutup, dan membaca lagi berita itu sampai selesai. “Jadi, pernah ada pembunuhan disini.” Yuni kembali melanjutkan bicaranya. Ia juga melanjutkan lagi baca koran untuk sarapan paginya. Sambil terus menahan rasa takut yang semakin lama semakin menjadi. Yuni yakin, ini pasti ada kaitannya dengan berbagai hal aneh yang menimpa padanya. Baru saat itu, ketika sepasang matanya terus memindai tiap huruf yang ada di surat kabar lama. Dari situ, Yuni sadar kalau tanggal lahir korban pembunuhan itu sama dengan dirinya. “Ini nggak mungkin kan! Nggak mungkin, rasanya aku nggak percaya. Apa ini yang buat aku kadang merasa pernah ada disini. Terus maksudnya dia ngasih tau aku ini apa?” bertanya sendiri Yuni tanpa tahu ada jawaban yang pasti. Ia benar-benar bingung dan tak tahu harus apa. Segera saja Yuni mengambil ponselnya. Ia segera mengambil gambar untuk berbagai berita yang telah ia baca pagi ini. Secara keseluruhan semua lembar surat kabar yang mengungkapkan pembunuhan itu sudah ia dapatkan. Akan ditunjukkan ini semua pada Riyan. Semoga ini akan jadi petunjuk yang bisa membantu mereka untuk melakukan sesuatu terhadap segala hal aneh yang terjadi. “Aku harus segera ambil alat-alat untuk bekerja, sebelum anak-anak yang lain datang, dan mereka curiga sama aku. Toh, nggak ada satupun yang percaya juga kan sama aku,” ucap Yuni sambi mengingat kedua rekan kerjanya, Imas dan Varo. Yuni segera berberes dan mengembalikan surat kabar lama itu ke tumpukannya semula. Ia tak mau ada yang tahu perbuatannya pagi ini. Bergegas saja keluar dari ruangan Pak Haris, sialnya. Di depan pintu malah ada Pak Haris yang sedang akan masuk ke dalam ruangannya. Sontak Yuni terkejut. Ia segera bersikap seperti tidak melakukan apa-apa. “Pagi Pak!’ sapa Yuni. “Iya Pagi!” sambut Pak Haris dengan mata yang memicing pada Yuni. Tampaknya ia juga sedikit terkejut melihat kedatangan salah satu cleaning service yang bertugas membersihkan ruangan kerjanya tersebut. Ini memang masih pagi, hingga ia pun melihat jam di pergelangan tangannya. “Kamu sedang bersih-bersih?” tanya Pak Haris. “Ehm .. teman kamu aja belum ada yang datang.” sambung Pak Haris lagi memberi komentar pada pertemuan dirinya dengan Yuni pagi ini. “Ehm … itu.” Yuni memikirkan alasan, alasan yang tepat, yang jangan sampai orang sekelas Pak Haris menaruh curiga pada dirinya. Bisa gawat kalau ketahuan. Bisa dikeluarkan dirinya dari pekerjaan ini. Karena sehoror-horornya tempat ini, seorang Yuni Rahayu masih butuh pekerjaan untuk menghasilkan uang. “Itu Pak, saya …” Masih berpikir, hingga saat bersamaan Riyan muncul dan melihat ke arah dirinya. Segera Yuni melambaikan tangan untuk memberi tanda pada Riyan kalau ia butuh pertolongan. Riyan melihatnya dan segera saja mendekat ke arah Yuni. ‘Yuni, ngapain dia disitu sama Pak Haris, pagi-pagi gini lagi.’ batin Riyan. “Ini Pak, saya dari tadi nyariin Riyan. Perasaan dia tadi kayaknya masuk ke ruangan Pak Haris. Terus pas saya ikuti dan lihat kok nggak ada ternyata," jelas Yuni yang berusaha membuat keadaan tidak terlalu mencurigakan. Ia pun tersenyum manis pada Riyan dan langsung mendekat pada rekan kerja sekaligus ketua tim bersih-bersih kampus tersebut. Pak Haris masih menatap dengan curiga. "Tapi jelas tadi Riyan itu datang ke kampus ini emang hampir barengan sama saya lho. Iyakan Riyan!” ucap Pak Haris dengan mata menelisik. Ia lalu mencermati Yuni dari atas hingga bawah. Tapi, tidak ada satupun dari dirinya yang bisa dicurigai. Cemas saja kalau sudah melakukan sesuatu. “Terus yang saya lihat tadi siapa? Tapi, beneran lho, saya tadi lihat Riyan. Kalau nggak, mana mungkin saya berani datang kesini sendiri. Apalagi masih cukup pagi kan ini!” Yuni coba mencari alasan. Ia membuang muka ke arah Riyan. Bermaksud minta pertolongan lewat bahasa tubuh yang sederhana. Riyan mulai menangkap sinyal itu. Ia pun segera memeluk Yuni dari belakang dan mengusap rambutnya dengan wajah yang seakan sedang dilanda rasa cemas. “Ya ampun Yun! Aku tahu kamu kangen aku. Tapi, jangan sampai terbayang terus menerus dong! Iya salah aku sih, semalam nggak datang ke kos kamu, buat jalan bareng. Maaf ya, aku ketiduran.” Riyan lalu mencubit pipi Yuni seakan gemas. Pak Haris yang memperhatikan jadi berpikir sesuatu. “Oh! Jadi, kalian pacaran.” “Iya pak! Saya dan Yuni memang saling suka sejak pertama Yuni kerja disini. Dan saya emang janji mau datang ke kosnya karena kami emang cepet banget buat ngerasa kangen satu sama lain,” terang Riyan. Pak Haris tersenyum saja. “Dasar anak muda zaman sekarang!” sambil menggeleng-gelengkan kepala. Pak Haris akhirnya pergi begitu saja masuk ke dalam ruangannya. Setelah Pak Haris benar-benar pergi. Riyan dan Yuni segera mencari tempat aman untuk berbicara empat mata. Riyan menyeret tangan Yuni. Mengajaknya ke tempat yang cukup sunyi dan rasanya belum ada yang sepagi ini akan lewat juga disitu. “Kamu tadi kenapa sih? Kok bisa Pak Haris lihat kamu dengan tampang yang serem banget. Udah kayak mau makan kamu aja?” tanya Riyan. Ia menatap serius pada Yuni. “Aku tadi emang sengaja berangkat pagi-pagi, buat cari sesuatu di ruang kerja Pak haris.” “Cari apa?” tanya Riyan dengan semakin gemas. Yuni bingung mau menjelaskan seperti apa, dan bagaimana. Semua keinginan itu muncul begitu saja pagi ini. Dorongan untuk datang pagi-pagi ke tempat kerja pak Haris, dan mmeriksa sesuatu hingga ada bayangan yang akhirnya membuat ia mau menyentuh tumpukan berkas lama. “Yuni, waktu berjalan terus Yuni. Dan aku butuh penjelasan singkat.” Riyan mencemaskan keadaan Yuni. Secara spontan ia semakin menyuruh gadis itu untuk segera menjelaskan apa yang sudah terjadi. Karena bagaimana juga gara-gara hal tadi. Ia sudah membuat cerita bohong tentang hubungan mereka berdua. Bisa saja, kabar mereka berdua pacaran akan diketahui satu kampus. Tapi, mungkin tidak, hanya saja ada presentasi kecil untuk itu kemungkinan bisa terjadi hal tersebut, dan itu karena kebohongan pagi ini untuk menyelamatkan Yuni. “Aku cuma coba ikuti kata hati aja Riyan. Aku datang pagi-pagi ke kampus ini, untuk datang ke ruang kerja pak Haris, terus aku coba lihat dan aku nemu petunjuk,” Yuni coba menjelaskan secara garis besar meski dengan perasaan yang masih begitu berdebar-debar. Ia masih takut dan juga sulit percaya dengan apa yang telah ia dapatkan. “Petunjuk,” ucap Riyan mengulang kata-kata itu dari mulut Yuni. “Iya! Petunjuk!” “Apa!” Riyan makin mempertajam pendengaran dan menatap serius pada Yuni. “Ternyata,” ucap Yuni yang masih dipenuhi ketakutan. “Disini itu pernah terjadi …!” “Woy Riyan, aku cari-cari dari tadi. Ternyata ada disini berduaan sama Yuni. Bisa banget deh pagi-pagi cari waktu buat bisa bersama ama Yuni.” Varo ternyata datang dan seketika mengganggu Yuni yang akan melanjutkan bicara. Riyan terkejut, seketika buyar fokusnya dan menatap Varo yang tidak merasa bersalah sudah mengacaukan rapat penting dengan Yuni. "Siapa yang pengen berduaan sih. Aku sama Yuni cuma ngobrol buat bahas kerjaan." Riyan merasa Varo selalu seenaknya. Ia pun segera mengambil sapu, pel dan lap untuk bersih-bersih memulai pekerjaan. Ditinggalkan saja pergi Varo yang masih pecicilan melihat ke arahnya dan Yuni.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD