black-note

1114 Words
Sara menuruni anak tangga dengan berlari. Rambutnya dia kuncir asal. Almamater yang masih dia pegang dengan dasi yang masih tergantung di lehernya. Sara begitu panik. Hari ini ada upacara. Namun, begitu Sara terbangun, dia malah melihat jam dinding menunjuk pukul 7 lewat. "Bi Siti! Sara telat!" seru Sara menuju ruang makan. Dua orang yang sedang sarapan di meja makan menatap Sara heran. Sara menghampiri Bi Siti yang sedang membuat jus. "Bibi, yaampun. Sara sarapan di sekolah aja." kata Sara panik menyalimi tangan Bi Siti. Bi Siti melongo, "Loh kenapa, Non?" "Sara telat! Dadah!" "Te... Lat?" ulang Bi Siti. Bi Siti terbengong melihat anak majikannya yang sudah berlari dengan penampilan berantakan. Mata Bi Siti beralih ke Ren dan Bara yang ternyata juga menatap Bi Siti. "Dia kenapa?" Bi Siti menggeleng, "Bibi juga bingung, Den." Bara mendengus. Melanjutkan sarapannya tanpa memikirkan kelakuan Sara yang tidak hentinya membuat kegaduhan. Sara turun dari motor matic-nya sambil menenteng helm. Sara mengerjapkan matanya perlahan. Otaknya sedang mencerna kejadian beberapa menit yang lalu. Sara bisa melihat parkiran sekolahnya belum ramai. Sara melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobi sekolah. Setelah menempelkan kartu tanda pengenal siswa ke mesin scan, Sara melongo. Dia belum terlambat sama sekali. Lebih tepatnya, dia datang setengah jam lebih awal. Sara berjalan ke kelasnya dengan perasaan dongkol. Dalam hari merutuki kebodohan sendiri. Pantas saja Bi Siti tadi terlihat bingung. Sara lupa, jam dinding di kamarnya habis baterai. "Argh! b**o! b**o! b**o!" rutuk Sara menendang bola basket yang menghalangi jalannya. "Gue laper.." "Aduh!" Langkah Sara terhenti. Kepalanya menengok ke sumber suara. Begitu melihat seseorang mengumpat sambil mengusap hidungnya, mata Sara membulat. Itu pasti karena ulahnya tadi. Sara bisa melihat bola basket yang tadi dia tendang tidak jauh dari cowok itu. Sara meneguk saliva kasar. Sudah menyiapkan diri ingin berlari. Namun, seseorang menahan tas-nya yang membuat Sara terjungkal ke belakang. Beruntung orang itu berdiri di belakangnya untuk menahan. Sara semakin melotot begitu melihat almamater yang dipegang cowok di depannya. Begitu memastikan dengan melihat lambang kelas di seragamnya, Sara pasrah. Mampuslah gue.. "Ma-maaf, Kak. Saya nggak lihat kalau Kakak duduk di pinggir." kata Sara ketakutan. Shaka menatap gadis di depannya sambil menahan tawa. Melihat ekspresi gadis ini, membuat Shaka geli. Shaka berdehem saat sadar akan pikirannya. Dengan tampang datarnya seperti biasa, Shaka membuat satu langkah. Shaka menunduk agar bisa menatap mata gadis di depannya yang jauh lebih pendek darinya. "Gue rasa, gue masih lumayan gede buat kelihatan lagi duduk." Shaka menatap Sara datar. Sara menggigit bibir dalamnya, "Tapi Kak, saya lagi oleng tadi. Nggak, maksudnya lagi kesel. Jadi maaf." "Maaf doang? Idung gue sakit." Sara menatap kakak kelas di depannya malas, "Yaudah, saya bawa ke rumah sakit." "Nggak perlu." "Ya terus Kakak maunya apa?!" sewot Sara. Shaka mengangkat alisnya satu. Begitu menemukan hukuman yang cocok untuk gadis ini, Shaka menyeringai lebar yang membuat Sara bergidik. "Lo bisa nyanyi nggak?" Sara menggeleng, "Suara saya jelek." "Dari tampang lo sih nggak. Coba dulu aja jadi pengamen ya. Gue mau nembak cewek nih." balas Shaka acuh. Sara menganga, dia benar-benar tidak menyangka. Padahal wajah kakak kelasnya ini terlihat keren. "Tapi, Kak–" "Atau lo jadi babu gue tiga hari." Sara berdecak, "Fine!" Shaka tersenyum puas. Setelah memberitahu Sara rencananya dan tempat memulai aksinya nanti, dia pun membiarkan Sara berlalu ke kelasnya. Sara mendengus. Mulutnya tidak berhenti mendumel dan mengumpati senior yang tidak sengaja dia kenai bola basket tadi. "Muka doang kayak malaikat. Tingkah kayak setan. Sialan." kesal Sara membanting tas-nya ke atas meja. Kelas masih belum terlalu ramai. Sara memilih untuk memejamkan matanya ketimbang ke kantin untuk meredakan rasa lapar. Aurel yang baru saja datang menatap bangku sebelahnya terkejut. Sebuah keajaiban kalau meja itu sudah terisi sebelum dia datang. Itu tandanya, Sara datang lebih awal dari dirinya. Aurel menaruh tas-nya kemudian menggoyangkan bahu Sara. Sara menggeliat pelan lalu menegakkan tubuhnya. "Apa sih, Rel?" Aurel menyengir, "Tumben aja udah dateng, biasanya mepet. Ke lapangan yuk. Udah pada baris pasti." Sara menguap lebar. "Lo duluan aja. Gue mau cuci muka dulu." Sara melangkahkan kaki berlawanan dengan Aurel yang menuju lapangan sekolah. Bibirnya bersiul pelan menuju toilet sekolah. Sara mengikat rambutnya asal lalu membasuh wajahnya. Matanya menatap pantulan wajahnya di cermin, "Aigoo... Lo cantik banget, Sar." Sara menarik selembar tisu lalu keluar dari toilet. Langkahnya tampak santai sampai seseorang berteriak menyuruhnya berhenti. "Heh lo yang baru keluar toilet!" Sara membalikkan badan. Kedua alisnya terangkat menatap tiga orang di depannya. Jelas Sara tahu siapa mereka. "Apa?" "Siapa nama lo?" Sara berdecak, "Sara." Gadis berkacamata yang memegang buku hitam berdecak, "Nama lengkap lo sama kelas." "Sara Pramana. Kelas 10 IPA 2." kata Sara malas. "Lagipula, kenapa sih? Gue pake almamater sekarang. Dasi sama kaos kaki juga nggak pendek." Gadis yang bersedekap di tengah tersenyum sinis, "Rambut lo besok diganti." Sara berdecak sebal menatap perginya tiga anak OSIS itu. Padahal banyak anak kelas 12 yang mewarnai rambut mereka. Mengapa dia tidak boleh? Diskriminasi! Aurel menoleh ke belakang, "Darimana aja sih lo?" tanya Aurel. "Muka jelek amat. Ketemu anak OSIS ya?" "Kok tahu?" Aurel menyengir, "Muka lo selalu jelek kalo ketemu anak OSIS. Aneh, padahal Kak Ren juga masih anak OSIS. Mantan ketua lagi." Sara mendesah panjang, "Aisshibbal." umpat Sara. Upacara Senin berjalan sangat lama karena sambutan pembina upacara mereka adalah Pak Bambang. Guru killer yang merambat sebagai wakil kepala sekolah itu selalu banyak bicara mengenai nilai, kedisiplinan, juga kebersihan sekolah. Wajah Sara sudah memerah karena sinar matahari yang langsung mengenai barisan angkatan kelas 10. Matanya memandang kesal barisan kelas 11 dan 12 yang sama sekali tidak terkena panasnya sinar matahari karena pepohonan yang rimbun. Sial. Selain peraturan OSIS, barisan upacara aja nggak berpihak sama anak kelas 10. Rutuk Sara dalam hati. Ketika upacara berakhir, seluruh siswa bergabung dengan organisasinya masing-masing untuk briefing singkat. Sara yang memang tidak mengikuti satu organisasi pun langsung berjalan menuju kantin belakang sekolah. "Woi, Sar!" Sara menyengir lebar lalu menghampiri Shaka yang duduk bersama dua cowok lainnya di meja ujung. "Mau nraktir gue ya, Kak? Makasih banget loh sampe repot-repot trak–" "Halu. Gue manggil bukan mau nraktir lo. Gue mau ngingetin rencana kita jam istirahat nanti." potong Shaka mendengus geli. Sara cemberut, "Nggak punya hati lo, setan." Shaka membulatkan matanya terkejut. Apa ini? Tadi pagi aja ketakutan. Sekarang udah berasa senior. "Dahlah, gue mau mesen minum. Masalah nembak doi, gampang. Dah!" Cowok dengan kancing seragam yang terbuka semua itu tertawa mendengar keributan temannya tadi. Kepalanya menggeleng, "Oke juga tuh junior. Malah masih kelas sepuluh." komentar Raga. Shaka mendengus, "Untung cewek." Cowok yang paling banyak diam di antara mereka hanya tersenyum tipis. Kepalanya menoleh, "Dia yang lo suruh nyanyi buat nembak Luna?" "Iya. Gimana menurut lo?" Arsen mengangkat bahunya singkat. Matanya menatap Sara yang sedang makan bakso dengan wajah bak orang kelaparan. "Semoga aja lancar."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD