"Mu-chan, jangan menatapku seperti itu,"kata Akechi sesaat setelah kami masuk ke sebuah mobil yang membawa kami pergi dari sana. Daripada menanggapi leluconnya, aku memilih diam. Sebenarnya aku ingin bertanya ribuan hal. Tentang rasa sakit saat kematian Ibu dan ketidakpedulian kakek. Juga, karena Ayah yang mati terbunuh. Aku ingin tahu, kenapa dulu ia meninggalkanku sendirian. Rumah kakek adalah neraka berkedok sangkar emas. Kepergian Akechi membuatku menanggung segala kesulitan sendirian. "Aku sekarang kembali dan siap memikul tanggung jawab sebagai keturunan klan terakhir." Kutatap garis wajahnya yang sudah dewasa. Umur kami terpaut hampir lima tahun dan sekarang ia malah terlihat lebih muda dari usianya. Aku tak menyahut. Kuarahkan pandanganku pada jalanan Tokyo yang dipenuhi saku

