Beruntung, ada bilik kosong di sebelah tempat Ambar dirawat. Jadi ibu dan anak bisa tidur berdampingan. Sapto ikut masuk bilik tempat Brian diperiksa. Pria ini mengelus pipi sang bocah. “Brian, bangun, Boy!” Hanya ada tarikan napas yang halus terdengar dari indra penciuman sang bocah. Sapto memandangi anak ini sambil berpikir bahwa sang bocah dan ibunya adalah dua orang yang teruji. Pria ini berjanji pada diri sendiri, akan membantu semaksimal mungkin. Baru saja, Sapto memikirkan solusi untuk kemelut anak beranak tersebut, ponsel di kantung celana bergetar. Sengaja nada dering disilent, begitu masuk tempat parkir barusan. Tertera nomor kontak penyidik. Tentu saja, Sapto merasa keheranan. Ada apa penyidiknya? Mungkinkah dia diminta datang untuk memberi keterangan? Gimana Ambar dan Bri

