Bab 1 Tembakan ke sepuluh.

1008 Words
Terlihat seorang lelaki tampan dengan postur tubuh yang tinggi dan gagah. Ia adalah Reyga dan sering disapa Rey oleh semua teman dekatnya. Lelaki itu tengah membawa buket bunga mawar besar di kedua tangannya yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Rupanya lelaki tampan jebolan Universitas ternama di luar Negri itu tengah menunggui seorang gadis disana. Calista. Ya... teman satu kantor dengannya yang tengah ia tunggu saat itu. Terlihat Calista berjalan menyeberang jalan di zebra crossing saat lampu lalu lintas tengah menyala merah dan tanda lampu hijau untuk para penyeberang yang berjalan kaki. Dari kejauhan gadis itu tengah melambaikan satu tangannya kearah Rey. Dengan senyum lebar disana yang tersungging di bibirnya. Hingga Rey dengan senang pula menungguinya hingga gadis itu datang kearahnya. Rey dengan setia berada di ujung jalan depan Calista. "Akh... Rey aku sangat bahagia hari ini. Benar-benar bahagia." Ucap Calista sembari begitu saja langsung memeluk tubuh Rey disana. Lelaki itu pun sangat senang karena pelukan itu. "Hemz... kamu bawa bunga? untuk aku atau..." ucap Calista yang belum tuntas saat itu. Ketika Rey dengan segera mengulurkan tangannya yang tengah memegangi bunga disana untuk gadis itu. "Jelas untukmu lah Ca... untuk siapa lagi?" ucap Rey dengan senyumannya. Calista pun segera menerimanya. "Makasih ya Re... kamu malam ini melengkapi kebahagiaan aku tahu nggak!" ucap Calista dengan senyumannya. "Bahagia kenapa sih?" tanya Rey yang penasaran. "Emb... ada deh... mau tahu aja!" jawab Calista saat itu. "Oke, nggak apa kalau kamu nggak mau bilang... aku mau ngajak kamu ke suatu tempat." Ucap Rey lagi. Dan Calista langsung menyetujuinya saat itu. Rey segera mengajak Calista untuk masuk kedalam mobilnya yang sudah terparkir tidak jauh dari sana. Keduanya bekerja di salah satu perusahaan besar luar Negri. Dan keduanya tergolong sukses. Calista dan Reyga adalah teman yang mendapat beasiswa untuk kuliah ke Luar Negri beberapa tahun yang lalu. Dan sebelum lulus kuliah dua tahun yang lalu sudah di rekrut salah satu perusahaan besar Negara tersebut. Dan saat itu keduanya menetap disana karena pekerjaan. Namun belum pindah kewarga Negaraan. "Mau ngajak aku kemana sih Rey?" tanya Calista pada lelaki itu. "Emb... mau kamu kemana? tapi nanti ya... biar aku ajak kamu dulu ya..." ucap Rey disana. Hingga tibalah keduanya di salah satu cafe ternama di tempat tersebut. Calista segera tahu jika Rey akan mengungkapkan perasaannya saat itu. Keduanya masuk kedalam, sembari tangan Rey yang meraih jemari Calista disana. Rey segera mengajak gadis itu untuk duduk di salah satu sudut ruangan dengan pencahayaan yang sedikit redup. Tidak terang seperti tempat yang lainnya. Nampak cafe tersebut begitu sepi disana. Sesekali Calista menatap ke segala arah, ia keheranan karena tidak ada pengunjung lain selain mereka berdua saat itu. "Kamu pesan seluruh tempat ini?" tanya Calista pada lelaki itu. Dan Rey segera mengangguk karena sudah ketahuan oleh gadis di depannya. Usai keduanya duduk sesaat, datanglah karyawan cafe yang membawakan makanan yang sudah Rey pesan sebelumnya. Nampak benerapa karyawan datang menyusul dengan menu-menu yang berbeda di kedua tangannya. Hingga meja kotak di depan keduanya nampak penuh sesak dengan piring yang berderet berjubel disana. "Hah... kamu pesan semua ini Rey?" tanya Calista pada lelaki itu. "Emb... makanya... cepat makan... habiskan! bantu aku untuk menghabiskannya." Ucap Rey pada gadis itu. Keduanya pun menikmati makan malam romantis. Ditemani alunan musik lembut yang mengiringi. Hingga usai keduanya menikmati hidangan disana. Dari mulai hidangan pembuka, hidangan inti dan hidangan penutup. Barulah Rey dan Calista merasa santai disana. "Ca... aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Ucap Rey yang segera bisa Calista tebak saat itu. "Aku tahu Rey kamu mau ngomong apaan! aku..." ucap Calista tertahan karena Rey sudah mengatakan kata selanjutnya. "Ca... tolong dengar dulu apa yang mau aku katakan saat ini. Aku mohon..." ucap Rey pada gadis yang di sukainya. "Sudah sembilan kali aku nembak kamu Ca, selama lima tahun. Dan ini yang ke sepuluh. Sejak kita belajar disini, sejak kita susah disini dari awal... tidak mengerti bahasa sini... belum bisa menerima makanan disini... samapi kita mahir bahasa asal, sampai bisa memasak makanan ala sini. Susah bersama melewati hari-hari berdua... karena hanya kita yang tahu perasaan masing-masing. Selama empat tahun berlalu dan menginjak ke lima tahun ini... aku putuskan untuk mengungkapkan perasaan aku lagi. Aku akan terus melakukannya Ca... apa kamu mengerti? aku sangat mencintaimu... aku tulus ingin berada di sisimu selalu... dan.bagi aku... di Negara ini... hanya kamu orang satu-satunya yang mengerti aku... aku tidak ingin melepaskan mu begitu saja." Ucap Rey pada gadis itu. "Meskipun kamu tolak lagi... aku akan tetap mengulanginya Ca..." ucap Rey lagi. "Rey... kamu tampan... kamu gagah... kamu baik... dan yang pasti... kamu sudah mapan... kamu punya segalanya... kerjaan stabil... malah bisa di bilang kalau kamu luar biasa dalam bekerja... bari satu tahun gabung di perusahaan... kamu sudah jadi kepala Divisi. Aku sangat bersyukur memiliki teman, sahabat yang begitu luar biasa sepertimu." Ucap Calista jujur pada lelaki itu. "Tapi... jawaban aku tetap sama Rey... aku... menyukaimu sebagai sahabat... aku... bahagia denganmu... di sisimu... karena kamu selalu bisa ngerti aku... tapi... kamu salah kalau kamu mengira bahwa semua yang aku lakukan itu adalah perasaan cinta. Tidak Rey... aku malah mau bilang sam kamu... kalau aku hari ini begitu bahagia... karena aku baru saja jadian dengan seseorang... aku menemui mu... karena aku pikir kamu adalah sahabat yang pertama harus tahu kebahagiaan aku itu. Aku... baru jadian dengan orang yang sudah bisa kamu tebak." Ucap Calista yang saat itu seketika membuat terdiam Rey disana. Kedua tangannya lemas seketika. Ia merasa begitu mencintai Calista namun... gadis itu tidak pernah melihatnya. "Aku hanya mau bilang itu Rey... maafkan aku ya... atas semuanya... kamu tetap sahabat terbaik aku." Ucap Calista saat itu. "Tapi aku tidak mau jadi sekedar sahabat kamu Ca... mengerti lah..." ucap Rey dengan sendunya. Kedua matanya berkaca-kaca saat itu. "Kamu jadian dengan senior kita kan?" ucap Rey yang segera tahu siapa kekasih Calista. Lelaki yang baru menyatakan cinta untuk gadis itu. "Ya... kamu benar Rey... meski... ia mengucapkannya tidak dengan buket bunga atau coklat... namun hanya sekedar jalan-jalan di taman saja... aku begitu bahagia." Ucap Calista dengan penuturannya saat itu. "Kau tahu? dia mata keranjang! apa kamu tahu Ca?!" teriak Rey dengan suara lantangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD