Seira sudah dimarahi habis-habisan beberapa jam terakhir, tapi keadaan tak nyaman di rumahnya tetap tidak mereda. Inilah kenapa Seira tak mau bilang, karena dia tahu orang yang biasanya sabar itu marahnya lama. “Ibu udah sangat percaya sama kamu, Seira. Dan ini balasan kamu.” Bagaimana Seira bisa menjawab kata-kata yang mewakili segala rasa kecewa ibunya? Dia bahkan tak berani mendekat. Mereka berada dalam satu ruangan, tapi duduk saling berjauhan. Seira tak berani masuk kamar, merasa sadar diri kalau dirinya memang berbuat salah. Dia juga tak berusaha membela diri karena tahu itu tak ada gunanya. Kepala Seira jatuh tertunduk, merenungi kesalahan yang sudah tak dapat diperbaiki lagi. Sesekali dia mengintip keadaan Noura. Ibunya masih sama seperti tadi. Duduk menyatukan kedua tangannya

