Sepulang kerja, Kirana pergi ke rumah sakit. Seira sudah dia jinakkan di tempat kost. Sekarang saatnya meminta tanggapan Elard. Dia bertanya pada bagian administrasi dan ternyata Elard sudah pulang ke rumah. “Bisa berikan aku alamatnya?” Kirana tak menyerah begitu saja. Paling tidak usaha dulu. “Maaf, saya tak bisa memberikannya.” Suster yang berjaga jadi kerepotan. Habis Kirana tak pergi. Malah mengoceh mengganggu di sana. “Aku tuh temannya, Sus. Ini ada urusan penting,” alasan Kirana. “Tetap nggak bakal dikasih, tapi kalau mau makan denganku bakal kukasih. Ehehe.” Refleks Kirana berbalik, menatap galak pada asal suara itu. Seperti dugaannya. Suara om-om bernada genit itu pasti Dinar. Heran, yang dicari tak ada. Malah orang yang paling dihindari yang ada. Perasaan Seira pernah bila

