Prolog

859 Words
Mobil mewah SUV tampak berjalan di jalanan lebar sebuah jalanan batu berkerikil. Terlihat sangatlah kontras sehingga menimbulkan banyak perhatian orang terutama anak-anak. Mobil pun berhenti tepat di sebuah rumah yang mana ada seorang pria paruh baya menunggu sembari mengelap keringatnya. Keluarlah seorang pria dengan kisaran umur 30 tahunan. Tubuhnya yang atletis dibaluti jas membuat dirinya seperti bukan berasal dari dunia. Pun juga wajah yang rupawan sedemikian rupa menjadi nilai tambah bagi pria itu. Si pria mendekati pria paruh baya yang adalah Pak RT di desa tersebut. "Selamat datang di desa kami, Tuan Pradipta." ucap Pak RT berusaha sebaik mungkin untuk tak gugup. Trevor hanya menggumam singkat sebagai jawaban. "Bisakah kita melihat-lihat sekarang, waktuku tidak banyak." "Tentu, mari silakan." Keduanya berjalan bersama-sama disertai dengan perkataan Pak RT yang mengenalkan desa ini. "Kami ini hanya rakyat kecil Tuan dan dominannya kami ini termasuk saya adalah seorang petani. Kami hanya hidup berasal dari apa yang kami tanam termasuk cengkeh. Kami sering berharap bahwa pohon cengkeh yang kami panen setiap tahunnya bertumbuh dengan rimbun tetapi yah kenyataannya tak sesuai dengan harapan.." tutur Pak RT. "Namun sekarang kami bersyukur sekali kami akhirnya tak perlu susah payah untuk memikirkan uang atau pun cengkeh tak bertumbuh lebat lagi sebab adanya program yang kami besarkan. Tuan Trevor, tempat ini adalah kami menyimpan semua cengkeh yang akan kami pasok." Trevor mendekati salah satu karung di mana isinya terdapat cengkeh kering. Diambilnya satu dan dipatahkan cengkeh itu. "Ini bagus." Pak RT tanpa sadar tersenyum lebar. "Benar Tuan kami selalu mengutamakan kualitas cengkeh yang baik." sahut Pak RT membalas ucapan Trevor. "Cengkeh di sini juga sudah bersih.." "Itu semua karena kami telah memilah cengkehnya dan juga membersihkannya dari serbuk. Jadi anda tinggal dapat bersihnya." Trevor tersenyum tipis, merasa agak kagum dengan yang dilakukan oleh para penduduk setempat. Mereka kemudian berjalan menuju tempat di mana cengkeh di jemur. "Kalian yang membuat tempat ini?" "Iya Tuan. Kalau kami mengandalkan cuaca yang tak menentu nantinya kami tak akan mendapatkan hasil yang baik. Jadi kami membuat tempat ini untuk mengeringkan cengkeh." Keduanya akhirnya sampai di perkebunan cengkeh yang sangat luas. "Ini adalah perkebunan cengkeh kami dan tentunya kami yang olah. Setidaknya lebih dari 1000 kilogram cengkeh kami hasilkan setiap tahunnya. Kami selalu merawat perkebunan ini demi panen yang bagus." Trevor berdecak kagum dengan semua yang dilihatnya hari ini. Tak sia-sia dia menyiakan waktu untuk ke sini. "Kalau boleh saya tahu, siapa penggagas semua ide ini?" "Oh itu, mari ikuti saya. Orang yang ingin anda temui tengah berada di sini sedang membantu untuk memetik cengkeh.." Pak RT dan Trevor berhenti tepat di sebuah tangga yang berdiri dan terjulur ke langit. Trevor bahkan tak bisa melihat ujung tangga itu. "Nak!" Suara nyaring itu dikeluarkan oleh Pak RT untuk memanggil seseorang yang pastinya memakai tangga tersebut untuk memetik cengkeh. "Ada apa!?" "Tuan Trevor ingin bertemu denganmu, turunlah sebentar!" Trevor tak memusingkan hal tersebut, ia sibuk dengan ponsel sampai terdengar suara decitan sendal yang bergesek dengan tangga yang terbuat dari bambu kayu. "Apa anda mencari saya?" Suara nan lembut menyapa telinga Trevor. Pria itu menoleh dan menemukan sesosok gadis belia berumur 20 tahun menatap padanya. "Perkenalkan Tuan, namanya Arini Mahanipuna dia adalah penggagas ide dari program cengkeh ini." kata Pak RT memperkenalkan si gadis. Mata Trevor yang bagai elang itu memandang lekat pada Arini sebentar kemudian mengisyaratkan agar gadis itu mengikutinya. Arini tentu saja bingung namun tak menolak dengan ajakan pria yang lebih tua darinya. "Katakan padaku bagaimana bisa tercipta ide tentang cengkeh ini?" "Mmm.. itu karena saya melihat di sini banyak sekali pohon cengkeh hanya saja tak pernah dikelola baik jadi saya memutuskan untuk mencari tahu semua tentang cengkeh, cara perawatan yang tepat dan masih banyak lagi. Awalnya banyak yang tak bergabung dengan program yang aku buat tetapi akhirnya mereka punya kesadaran untuk ingin lebih maju dan beginilah sekarang." "Kau belajar dari mana?" "Internet dan beberapa buku di Perpustakaan Desa." jawab Arini singkat. "Jadi kau tidak kuliah?" "Tidak Tuan, uang orang tua saya mana cukup untuk menguliahkan saya. Bahkan setelah kehidupan kami telah berkecukupan tetap saja aku tak bisa kuliah." jawab Arini jujur. Senyum tipis dibentuk oleh Trevor mendengar cerita dari si penggagas ide. "Menarik sekali." Arini mengerutkan dahi. "Maaf, apa maksud anda?" ???? Suasana di rumah keluarga Mahanipuna begitulah meriah. Bagaimana tidak, mereka tengah mengadakan acara prosesi pernikahan sang anak sulung. Kata "sah" terucap di bibir sang penghulu dan disambut dengan semua orang yang juga menyebut sah. Arini Mahanipuna sah dipersunting oleh Trevor menjadi istrinya. Pernikahan yang tiba-tiba dan membutuhkan waktu selama seminggu untuk membangun seperti sebuah tenda untuk resepsi. Acara itu dilanjutkan dengan resepsi yang juga tak kalah semarak. Banyak pertunjukan yang digelar untuk resepsi pernikahan sedang kedua mempelai tak tampak dan mereka hanya muncul sesaat sebelum pengantin masuk kembali. Beberapa pria yang ingin mengintip malam pertama tengah berkumpul disebuah jendela demi melihat Arini dan sang suami berhubungan intim namun semua itu sia-sia belaka, karena mereka dipergoki dan disuruh pulang oleh istri mereka. ❤❤❤❤ Cerita ini dibuat agar pembaca tak merasa bosan karena menunggu lama Romansa Nakal dan Keluarga Denzel. Rencana nanti Ibu Tunggal tamat author akan langsung update Romansa Nakal sampai tamat volume pertama terima kasih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD