Kubuka tirai jendela yang menghalangi cahaya masuk ke kamar. Seketika cahaya matahari menembus kaca jendela dan menerangi setiap sudut kamar. Yu Ri menutup matanya dengan tangan karena kesilauan. "Yu Ri," panggilku. "Hm." Hanya itu yang keluar dari mulut Yu Ri. Sejak Subuh tadi, Yu Ri terus diam, tidak mau mengatakan apa pun. Emosi dalam hatiku sudah meledak. Tidak tertahan lagi. Kutarik Yu Ri dari ranjang, memaksanya bangkit. Yu Ri melotot kaget, tapi aku tidak peduli. "Stop bersikap kayak gini, Yu Ri. Please, berhenti menghukum diri kamu dan Abang kayak gini!" seruku. Yu Ri menatapku tak percaya. Air matanya sudah lolos dengan mudah. "Aku nggak menghukum siapa pun. Aku hanya ...." "Hanya apa? Kamu menyalahkan diri kamu sendiri atas keguguran bayi kita." Yu Ri menghentakka

